panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
08 Januari 2010 | 23:59 wib
In Memoriam Satjipto Rahardjo (1)
Seorang Guru, Bapak, Motifator, Sekaligus Fasilitator

Semarang, CyberNews. Tidak banyak catatan publik tanteng perjalanan hidup/karir Satjipto Rahardjo. Situs-situs di internet kebanyakan lebih banyak memuat tulisan tulisan dan komentar-komentarnya mengenai kondisi sosial, hukum, politik, budaya serta keterkaitannya dengan sosiologi hukum.

Kita bisa sedikit mengetahui soal riwayat Guru Besar Emiritus Sosiologi Hukum Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Prof Tjip, demikian panggilan akrab "sang guru" kelahiran Karanganyar, Banyumas, Jawa Tengah pada tanggal 15 Desember 1930 itu.

Prof Tjip, kita tahu, merupakan salah satu ahli yang dianggap mampu memengaruhi dunia pemikiran hukum di Indonesia dengan tulisan-tulisannya. Orang menyebutnya sebagai pemikir hukum progresif. Satjipto adalah pemikir yang berkarya. Istimewanya adalah, ia merupakan salah satu pakar yang patut ditasbihkan sebagai ilmuwan yang istiqomah, setia dengan cara berpikir dan perjuangan.

Dari awal melontarkan karya-karya ilmiahnya, baik berbentuk buku, tulisan lepas, artikel ilmiah, dan lain-lain, Satjipto menggunakan pendekatan sosiologi hukum yang berkarakter progresif.

Menurut Satjipto, penafsiran hukum progresif dibutuhkan untuk kembali memanusiakan aturan hukum yang sangat kaku (formal). Cara itu berguna agar hukum mampu mencapai kehendak tertinggi dari keinginan manusia di dunia yaitu kebahagian. Hukum berfungsi mencapai harapan-harapan tersebut, kata dia, hendaknya hukum bisa memberikan kebahagian kepada rakyat dan bangsanya.

Guru Besar yang benar-benar sangat produktif dan progresif dalam menghasilkan karya-karya ilmiah berbentuk buku ini bisa dikatakan tak pernah berhenti menghasilkan karya-karya setiap tahunnya. Hampir bisa dikatakan tidak ada tahun yang tidak diisi dengan menghasilkan karya yang mengagumkan.

Di <I>Kompas<P> saja, menulis dari tahun 1975. Berdasarkan database dari Pusat Informasi <I>Kompas<P>, artikel yang ditulis telah lebih dari 367 (sampai pertengahan Juni 2009) dan masih diminati sebagai karya yang mampu memberikan opini pembanding dan solutif. Itu baru di Kompas, belum di <I>Suara Merdeka<P>, dan harian umum lainnya.

Satjipro pernah bercerita, baginya menulis adalah seni, dan seni itu ibarat sama dengan buang air kecil. Sebagaimana buang air kecil, maka menurut Satjipto seluruh perasaan tidak akan nyaman sebelum "beban" tersebut dilepaskan. Dari filosofi itu, bagi Satjipto menulis berkaitan erat antara perasaan dan pemikiran.

Pemikiran mengenai permasalahan hukum bagi Satjipto akan membuat perasaan terasa lebih lega jika telah dituliskan dalam bentuk sebuah artikel ataupun buku.

Prof Dr Paulus Hadi Suprapto SH MH, Ketua Program Magister Ilmu Hukum Undip, punya kisah tersendiri terkait tulis-menulis di media massa dan penulisan buku. Paulus Jumat (8/1) bekisah, sewaktu dirinya jadi dosen muda di Fakultas Hukum (FH) Undip, dan ketika itu Satjipto menjabat Dekan FH Undip, yakni sekitar tahun 1980-an, dirinya pingin sekali dapat menulis mengenai persoalan-persoalan hukum di koran. "Waktu itu saya matur ke Prof Tjip, mbok saya diajari menulis di koran. Lantas saya diminta menulis saja dulu dan dimasukkan ke media. Saya lakukan itu dan saya kirim ke <I>Suara Merdeka<P>, tapi tulisan itu dikembalikan," akunya.

Tulisan yang dikembalikan itu berjudul "Seandainya Kali Krasak Diasuransikan". Kali Krasak adalah sebuah sungai di perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah, kalau melewati Magelang. "Waktu itu kan kalinya jebol, akibat banjir atau apa saya lupa. Nah, perjalanan dari Yogya ke Jawa Tengah terganggu. Belajar dari pengalaman di luar negeri hal semacam itu biasanya diasuransikan. Saya membahas soal itu," ungkapnya.

Satjipto kemudian memanggil Paulus, dan menanyakan tulisan yang dikembalikan itu. Oleh Pak Tjip diperbaiki, diberi cara-caranya, dan dikirimkan lagi ke <I>Suara Merdeka<P>, dan dimuat. "Itu gebrakan pertama. Setelah itu saya mulai rajin menulis di <I>Suara Merdeka<P>, dan tahun-tahun 1989, 1990, dan 1991 tulisan-tulisan saya mulai dimuat di <I>Kompas<P>. Itu kesan saya pada Prof Tjip, sehingga saya bangga karena bisa menulis di koran," tuturnya.

Di bidang lain, dalam hal pembinaan kelimuan, Paulus bercerita, Satjipto merupakan seorang guru, bapak, motifator, dan fasilitator. Ia mengungkapkan, kala itu sewaktu dosen-dosen muda ingin membuat buku yang diterbitkan, Satjipto membimbing dosen-dosen itu hingga menjadi sebuah buku.

Prof Tjip membuat tema besar tentang Hukum dan Masyarakat, dan masing-masing dosen, menyumbang tulisan. Ada 12 tulisan yang ditulis para dosen, termasuk Muladi (sekarang Gubernur Lemhanas), digabung jadi satu buku, dan diterbitkan alumni Bandung. "Semua tulisan itu diberi kerangka besar dan diberi pengantar oleh Prof Tjip," katanya.

Dengan terbitnya buku itu, dosen-dosen lebih terdorong lagi. Satjipto, menurutnya, dalam menyampaikan ungkapan itu selalu halus. Walau halus, namun sangat mujarab bagi orang lain. "Beliau tidak pernah membuat <I>statement<P> yang kasar. Selalu halus tapi mengena.

Paulus sejak kuliah sarjana di FH Undip (1970-1975), merupakan mahasiswa dari Satjipto. Kemudian menempuh studi S2 di bawah naungan Universitas Indonesia (UI), yang waktu itu pelaksananya Undip (1982-1988). Selebihnya menempuh S3 di Undip, tahun 1996-2002.

Meski membidang pidana, namun Satjipto selalu memberi motifaasi. "Waktu ujian S3 itu pembimbing saya kan Muladi, tidak bersentuhan dengan Prof Tjip. Tapi pas menjelang ujian itu saya sempat ciut nyalinya. Nah, saya dipanggil Prof Tjip, diberi semangat, dan akhirnya sukses. Begitu saya lulus, beliau senyam-senyum saja. Itulah kenapa saya bilang ia ini motifator," ucapnya.

"Waktu Natal, saya jenguk ke RSPP, ya kami ngobrol. Ia bisa sedikit lancar, setelah dipasang alat pacu jantung. Ia menanyakan hal-hal yang sifatnya pribadi, menanyakan kabar anak saya, Robertus Seto, yang kuliah di FH Undip. Itulah beliau, yang kebapakan," tuturnya.

Secara pribadi, Prof Tjip adalah seorang yang romantis. Menurut istrinya, Roemala Dewi, selama berumah tangga, Satjipto merupakan sosok yang penyabar, lemah lembut dan bijaksana. Almarhum ungkap Rusmala merupakan sosok yang penyabar, lemah lembut dan sangat bijaksana. Ia mengaku bersyukur telah menjalani hidup berumah tangga dengan almarhum selama 53 tahun dengan bahagia. Sosok yang sederhana tersebut juga sangat dicintai keempat putra-putrinya.

"Meskipun sudah tua begini, setiap pagi bapak tidak lupa mengucapkan ‘selamat pagi cantik’ sama saya, saya sangat bahagia dengan bapak, orangnya halus dan lemah lembut Cuma ya sedikit lelet. Saya kadang harus ngoprak-ngoprak. Ya gitu itu, kalau ngisi kuliah pukul 09.30 misalnya, pukul 09.00 belum mandi, jadi saya mesti ngejar-ngejar. Tapi orangnya memang baik. Orang-orang pada bilang ke saya, bersyukur punya suami kayak dia itu," ucap Roesmala.

( Yunantyo Adi / CN13 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
05 September 2014 | 23:56 wib
Dibaca: 24595
05 September 2014 | 23:45 wib
Dibaca: 26242
05 September 2014 | 23:30 wib
Dibaca: 25919
image
05 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 29290
05 September 2014 | 23:00 wib
Dibaca: 25209
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
FOOTER