Subcribe RSS RSS SUARAMERDEKA.COM
TRY OUT UJIAN NASIONAL ONLINE
 
.:Kuliner


02 Januari 2010 | 13:43 wib | Ekonomi

Industri Gula Jatim Dalam Bahaya

Surabaya, Cybernews. Kondisi pergulaan di Provinsi Jawa Timur pada 2010 dipastikan dalam keadaan bahaya, kata Direktur Pengembangan PT Perkebunan Nasional (PTPN) XI, Suyitno, di Surabaya, Sabtu (2/1).

"Sekarang ini banyak petani yang menebang tanaman tebu sebelum waktunya untuk dikirimkan ke Jawa Tengah dan Jawa Barat," kata Suyitno. Tanaman tebu yang ditebang sebelum waktunya itu dijadikan bibit dan ditanam lagi di daerah lain.

"Kami sengaja membiarkan masalah itu karena bagi petani mungkin cara itu lebih menguntungkan ketimbang menunggu hasil panen," katanya usai memberikan paparan di gedung DPRD Jatim.

Ia menyebutkan, bibit tebu itu dijual para petani dengan harga Rp40.000,00 per kuintal. "Mereka tidak bisa disalahkan karena biasanya saat awal musim giling, harga akan jatuh," katanya.

Petani melihat itu sangat menguntungkannya karena berpikiran masih bisa memanen tebu dua kali, meskipun pada tahap awal mereka menjual hasil tebang dini. Namun jika hal ini dibiarkan, maka industri gula di Jatim yang selama ini mendapatkan pasokan tebu dari para petani, berada dalam bahaya.

Selama ini petani tidak pernah untung, meskipun saat ini harga gula tinggi, mencapai Rp12.000,00 per kilogram. Ini karena petani menerima dana talangan dari investor atau pemenang lelang gula sebesar Rp5.300,00 per kilogram.

Suyitno menambahkan, menurunnya produksi dan kualitas tebu di Jatim terjadi karena petani tidak maksimal menyerap kredit dari PTPN XI. "Dari plafon kredit yang kami siapkan sebesar Rp100 miliar, yang diserap petani hanya Rp60 miliar. Ada beberapa faktor mengenai hal ini, diantaranya masih banyak petani yang belum bisa memenuhi persyaratan dalam pengajuan kredit," katanya.

Keadaan mmebuat kualitas tanaman terganggu yang selama lima tahun terakhir ini rendemen tabu berfluktuasi cukup tajam, bahkan cenderung menurun. Pada 2004 rendemen tebu mencapai 7,6 persen, namun pada 2005 menurun menjadi 6,75 persen, lalu 2006 naik lagi menjadi 7,33 persen.

Sayang pada 2007 angka itu turun lagi hingga menyentuh level 6,93 persen. Meskipun sempat naik pada 2008 yang mencapai 7,8 persen, pada 2009 turun lagi tinggal 7,7 persen.

( Ant / CN12 )

Powered by Telkomsel Blackberry


Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad

Bookmark and Share



+ Indeks Berita  

          Berita Terbaru

20 Maret 2010 | 23:39 wib | Nasional

Jusuf Kalla Kandidat Ketua Umum PB NU image

Palu, CyberNews. Menjelang Mukhtamar Ke-32 Nahdlatul Ulama (NU) pada 23-27 Maret yang akan berlangsung di Makassar, semakin ketat persaingan kandidat…

20 Maret 2010 | 22:53 wib | Daerah

Mahfud MD:
Jual Beli Kasus, Kategori Jahiliyah Modern image

Solo CyberNews. Ketua Mahkamah Konstitusi Prof DR Moh Mahfud MD menegaskan, bahwa praktik jual beli kasus di pengadilan  menjadi ancaman serius.…

20 Maret 2010 | 22:06 wib | Daerah

Cilacap Diguncang Gempa 4,6 Skala Richter

Cilacap, CyberNews. Gempa kembali guncang wilayah Jawa Tengah. Kali ini gempa berkekuatan 4,6 Skala Richter (SR) mengguncang Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah,…

20 Maret 2010 | 21:39 wib | Daerah

Polisi Ringkus Dua Pembobol ATM

Yogyakarta, CyberNews. Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Poltabes Yogyakarta kembali berhasil meringkus dua dari lima pelaku pembobolan mesin anjungan…

20 Maret 2010 | 21:17 wib | Internasional

11 Warga Gaza Terluka dalam Serangan Israel image

Palestina, CyberNews. Menurut pejabat medis di Palestina, sedikitnya 11 orang cedera dalam serangan udara Israel di sebuah bandara selatan Gaza. Serangan…


© 2009 SUARAMERDEKA.com. All rights reserved.