
Foto: AP
Washington, CyberNews. Pemerintah AS mulai menyadari bahwa kelompok teroris Nigeria yang ada di Yaman sedang disiapkan untuk serangan teroris, sebelum percobaan pemboman pesawat AS di Detroit. Beberapa media di AS menyebutkan bahwa pemerintah telah menyiapkan sistem intelijen untuk indikasi ini. Tetapi sayang, sumbernya tidak jelas.
Diberitakan sebelumnya, Umar Farouk Abdulmutallab melakukan terbang dari Lagos ke Amsterdam, sebelum mengubah rute penerbangan pesawat menuju Detroit, dimana ia diduga mencoba melakukan pemboman pesawat.
Pemerintah Belanda sendiri telah memperkenalkan pemindai tubuh untuk rute penerbangan menuju AS dalam beberapa minggu terakhir. Menteri Dalam Negeri Belanda, Ter Horst Guusje menyebutkan bahwa tidak ada kecurigaan apapun terhadap Abdulmutallab ketika ia berada di Bandara Schiphol Amsterdam. Guusje mengatakan bahwa pihak otoritas bandara akan menggunakan scanner tubuh pada semua penerbangan yang menuju ke AS dalam tiga minggu kedepan.
Ditemui terpisah, presiden AS Barack Obama menyebutkan bahwa kegagalan sistem keamanan terkait kasus teror pemboman ini tidak dapat diterima. Obama menyebutkan bahwa kegagalan sistemik ini terjadi dengan diijinkannya Abdulmutallab terbang ke AS pada tanggal 25 Desember lalu, padahal orang tuannya telah memperingatkan pada bulan November bahwa putranya mengikuti pandangan ekstremis.
Obama mengungkapkan keingintahuannya, mengapa peringatan yang muncul dari ayah Abdulmutallab tidak menyebabkan pelaku ditempatkan pada daftar orang yang harus diawasi. "Kita perlu belajar dari kejadian ini dan bertindak lebih cepat untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dalam sistem," kata Obama.
Pada saat kejadian, beberapa penumpang dan awak berhasil meringkus Abdulmutallab di tempat duduknya, sekitar 20 menit sebelum mendarat di bandara Detroit, ketika ia diduga mencoba meledakkan bahan peledak yang ada di dalam celana dalamnya. Penyelidikan awal menemukan bahwa Abdulmutallab menggunakan bahan peledak jenis PETN dan jarum suntik yang penuh dengan cairan.
Menurut sumber dari kementerian luar negeri, Abdulmutallab telah dilaporkan kepada penyidik bahwa ia dilatih oleh Al-Qaeda di Yaman pada rentang Agustus hingga awal Desember. Juru bicara CIA, George Little sebelumnya mengatakan, pihaknya telah menyadari jika Abdulmutallab telah kehilangan kontak dengan keluarganya. Ayahnya mengunjungi kedutaan Besar AS pada November untuk mencari bantuan dalam mencarinya. George menambahkan, pihaknya telah memastikan nama Nigeria telah ditambahkan ke dalam daftar teroris bagi pemerintah AS.