
Jakarta, Cybernews. Warga Indonesia yang ingin merayakan malam pergantian Tahun Baru 2010 ke Singapura cukup tinggi. Dari pantauan di penyebrangan kapal Fery Batam Centre, sejak tanggal 24 Desember hingga kini setiap harinya 4-5 ribu orang Indonesia menyebrang ke Singapura dan Malaysia. Diperkirakan jumlahnya akan terus meningkat pada tanggal 30-31 Desember.
Penumpang yang menyeberang, sebagian besar adalah rombongan dari Jakarta dan kota-kota besar di Jawa, Bali, dan Sumatera.
"Peningkatan jumlah penumpang hingga 150 persen telah dirasakan sejak tanggal 23 Desember hingga kini," kata Kepala Kantor Pelabuhan (Kakanpel) Batam Rocky Ahmad.
Evi Kandida, warga Narogong, Cilengsi, Bogor, ketika ditemui di penyeberangan international ferry Batam Center mengatakan, dia dan rombongannya sengaja berangkat dari Batam menuju Singapura karena biayanya jauh lebih murah, yakni Rp1 juta. Dengan rincian, pesawat Jakarta-Batam Rp700 ribu, kapal penyeberangan ferry di Batam Centre hanya Rp140 ribu. Biaya lebih murah sebab para pelancong bisa masuk ke negara tetangga tersebut tanpa harus membayar bea fiskal.
"Kami juga bisa menikmati suasana Batam dan keindahan laut Kepri, dan Singapura," aku Evi.
Kanpel Batam Roky Ahmad mengaku, lonjakan penumpang hingga 150 persen tidak hanya di pelabuhan international ferry Batam Center, dan 4 pelabuhan penyeberangan lainnya yakni Batu Ampar, kabil, Sekupang, dan Nungsa.
Khusus di Batam center jika hari biasa 2.000 penumpang yang ke Singapura dan Malaysia, tapi kini sedikitnya 5.000 penumpang dilayani dengan 15 kali penyebrangan/trip mulai dari pk.08:00 hingga petang pk.18:00.
Tentang larangan kapal ferry berbahan fiberglas yang rentan pecah beroperasi di laut lepas, menyusul tenggelamnya kapal Dumai Espres 10, Rocky mengaku sudah memanggil operator kapal, namun mereka minta waktu.
"Hampir 90 persen kapal fery di Batam masih mengunakan bahan feberglas. Mereka minta waktu beberapa tahun ini untuk beralih ke bahan lainnya, karena harga kapal miliaran rupiah," kata Kanpel.
Jika langsung dilarang akan ada gejolak, kemungkinan tidak ada kapal yang beroperasi. Dampaknya perekonomian, dan aktivitas Batam akan lumpuh. Di di Batam dan Kepri ada 4.300 pulau yang setiap hari warganya menggunakan tranportasi kapal ferry.
( PKT / CN12 )