27 Oktober 2009 | 16:10 wib | Internasional
Washington, CyberNews. Senator Amerika Serikat John Kerry, Senin, menentang bahwa Presiden Afghanistan Hamid Karzai dicitrakan sebagai koruptor, pemimpin yang lemah, dan mengatakan bahwa dia adalah seorang patriot yang memahami bagaimana harus mengubah menteri-menterinya.
Pembelaan Kerry terhadap Karzai, diucapkan dalam pidatonya mengenai perang di Afghanistan, yang berlawanan dengan komentar yang dikemukakan para pejabat AS baru-baru ini, yang menyatakan bingung karena pemimpin Afghanistan itu menolak untuk mengatasi korupsi.
"Buktinya bahwa orang ini, saya yakin, adalah seorang patriot. Dia punya komitmen terhadap hal ini," kata Kerry, yang baru kembali dari Afghanistan pekan lalu, di mana dia membantu membujuk Karzai untuk ikut ambil bagian dalam putaran kedua pemilihan presiden.
Tokoh Partai Demokrat dari Massachussetts yang memimpin Komisi Hubungan Luar Negeri Senat itu mengatakan, yang penting adalah mengatasi masalah para pejabat yang korup 'pada setiap tingkatan pemerintah' di Afghanistan.
Meskipun demikian, dalam jawaban atas satu pertanyaan di Dewan Hubungan Luar Negeri di Washington, Kerry mengatakan, bahwa tak seorangpun berhasil mengetangahkan bukti yang mendukung tuduhan-tuduhan itu, bahwa sanak-keluargannya terlibat dalam perdagangan obat terlarang.
Kerry mengisahkan kembali saat berjalan dengan Karzai di Kabul, bahwa mereka telah 'melakukan pembicaraan langsung' mengenai saudara Karzai, Ahmad Wali Karzai itu. "Saya telah minta dari sumber-sumber intelijen kami dan para penegak hukum, bukti tak ada seorangpun yang tahu mengenai itu," kata Kerry mengenai tuduhan-tuduhan tersebut.
Karzai memahami perlunya perubahan di antara menteri-menteri pemerintahnya agar bisa menjalan tugas lebih baik, kata Kerry. Namun presiden Afghanistan itu tak mengharapkan akan mengumumkan siapa yang akan 'dikeluarkan' (dari kabinet) sampai pemilihan umum usai.
Para pejabat AS telah menyatakan keberatan mengenai apakah strategi kontra-pemberontakan itu difokuskan pada upaya untuk menjadikan penduduk Afghanistan bisa bekerja, jika rakyat tidak memandang pemerintah Karzai sebagai pemerintahan yang sah.
Dalam kunjungan ke Kabul pada Agustus yang dilakukan oleh utusan khusus AS, Richard Holbrooke, para pejabat mengatakan dia marah terhadap Karzai, karena memperingatkan Washington akan menjadikan perang terhadap korupsi sebagai fokus setelah pemilihan Agustus.
Diplomasi pribadi Kerry dimaksudkan untuk membantu melakukan pendekatan terhadap Karzai, agar setuju untuk menggelar putaran kedua pemilihan presiden 7 November, setelah PBB mendukung penyelidikan penyimpangan atas pemungutan suara Agustus lalu.
Karzai diperkirakan akan menang dalam pemilihan putaran kedua dari pesaingnya Abdullah Abdullah, karena dukungan kuat dari suku Pashtun, kelompok etnis terbesar di Afghanistan.
Pemilihan putaran kedua ini terjadi pada saat Presiden AS Barack Obama meninjau kembali strategi AS terhadap Afghanistan, dan sedang mempertimbangkan apakah AS akan mengirimkan ribuan tentara tambahan untuk perang dengan gerilyawan Taliban.
Namun pengiriman tentara tambahan Amerika itu makin meningkatkan ketidak-populeran di tengah khalayak Amerika.
( Ant / CN13 )
Powered by Telkomsel Blackberry
Yogyakarta, CyberNews. Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Poltabes Yogyakarta kembali berhasil meringkus dua dari lima pelaku pembobolan mesin anjungan…
Palestina, CyberNews. Menurut pejabat medis di Palestina, sedikitnya 11 orang cedera dalam serangan udara Israel di sebuah bandara selatan Gaza. Serangan…
Bandung, CyberNews. Meski sudah menjadi Dubes RI di Malaysia, Jenderal Pol (Purn) Dai Bachtiar seperti tak mau melepaskan diri dari upaya mencegah kejahatan…
Tegal, CyberNews. Kejelasan nasib ratusan Guru Honorer yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Tenaga Honorer (Fostah) Kota Tegal nampaknya harus menunggu…
Jakarta, CyberNews. Ada pernyataan meragukan terkait ancaman Rais Aam Jamiah Ahlitthoriqoh al mutabaroh annahdiyah KH Habib Lutfi, yang akan menarik jamiyahnya…
© 2009 SUARAMERDEKA.com. All rights reserved.