panel header


GUPAK PULUT ORA MANGAN NANGKANE
Capek Bekerja Tidak Dapat Hasilnya
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
15 Agustus 2009 | 11:58 wib
Cilacap Kembangkan Jagung di Pegunungan

Majenang, CyberNews. Dinas Pertanian dan Peternakan Cilacap kini tengah mengembangkan tanaman jagung di daerah pegunungan. Hal itu didahului dengan penanaman pada lahan percontohan seluas 1,5 hektare di Desa Sadahayu, Kecamatan Majenang.

"Kami sekarang tengah mengembangkan tanaman jagung untuk wilayah pegunungan. Uji cobanya memakai tanaman jagung jenis Bisi 16. Tapi saat ini masih dalam tahap introduksi (untuk mengenalkan budidaya jagung pada masyarakat pegunungan," kata Kepala UPT Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Majenang, Rasko F.

Menurutnya, tanaman jagung sangat bermanfaat sebagai tanaman pangan dan pakan ternak. Tanaman tersebut sagat disukai oleh ternak sapi atau kambing. Seperti diketahui, ternak kambing dan sapi sangat banyak dijumpai pada masyarakat wilayah pegunungan. Dengan demikian, peternak kambing dan sapi akan mudah mencari pakan apabila tanaman tersebut
dikembangkan.

Disamping itu, jagung juga cocok untuk topografi pegunungan yang tidak membutuhkan banyak air. Produksi jagung juga sangat besar, mencapai 14 ton per hektare. Para petani juga tidak membutuhkan banyak pupuk seperti yang diberikan untuk tanaman padi. Bahkan tanpa didahului dengan tahap pengolahan tanah, jagung tetap bisa tumbuh dengan baik. Dengan demikian, budidaya tanaman jagung dinilai menguntungkan bagi petani.

"Tanpa harus diolah tanahnya, jagung tetap bisa tumbuh. Bisa langsung tancap. Saat ini, yang sudah banyak menanam jagung ada di wilayah Kecamatan Cimanggu dan Karangpucung. Diantaranya banyak terdapat di Desa Karangreja, Karangsari, Cibalung, dan Kutabima. Daerah itu cocok untuk jagung karena tanaman ini tahan kekeringan," katanya.

Meski demikian, para petani saat ini belum terbiasa menerapkan pola tanam yang bergiliran, antara padi dan palawija. Pasalnya, mereka sudah terbiasa dengan pupuk kimia. Hal itu mengakibatkan tanah menjadi kurang menyerap air di musim hujan dan retak-retak di musim kemarau.

"Karena kondisi tanah inilah, petani di pegunungan tidak berani menyelinginya dengan palawija. Karena kalau diselingi, mereka takut tanahnya mudah terbelah. Jika retakan tanah itu terisi air, nanti bisa longsor. Makanya mereka terbiasa selalu menggenangi sawahnya dengan air," katanya.

( Khalid Yogi / CN08 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
25 Juli 2014 | 00:59 wib
Dibaca: 105
25 Juli 2014 | 00:45 wib
Dibaca: 93
25 Juli 2014 | 00:31 wib
Dibaca: 88
25 Juli 2014 | 00:17 wib
Dibaca: 104
25 Juli 2014 | 00:03 wib
Dibaca: 83
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
FOOTER