
Acara BIF yang diselenggarakan Dinas Provinsi Jateng itu bertujuan mengembalikan pamor Candi Borobudur setelah maha karya ini tak lagi dimasukkan dalam salah satu dari tujuh keajaiban dunia.
''Kami sudah mengetahui agenda empat tahunan itu akan diselenggarakan sekitar Juni mendatang. Tapi sampai kini kami tak pernah diajak bicara oleh penyelenggara,'' kata Sucoro, tokoh seniman Borobudur.
Menurutnya, agenda itu tak ubahnya sebuah proyek yang instan tak memikirkan pengembangan jangka panjang. Lebih dari itu, penyelenggaraanya tak memiliki sebuah karya seni budaya yang dahsyat sehingga menarik wisatawan domestik dan manca negera.
''Potensi kesenian tradisional di sekitar candi sangat banyak. Baik seniman dan budayawan cukup produktif menghasilkan karya yang sepektakuler. Tapi samapi saat ini tak ada yang melibatkan kami,'' kata pengelola warung info celeguk.
Dikatakannya, penyelenggara setidaknya melibatkan seniman dan budayawan setempat untuk menghasilkan karya yang menjadi ciri khas atau ciri khusus dalam setiap penyelenggaraan BIF.
Menurutnya, relief di candi masih bisa digali untuk diterjemahkan sehingga menjadi karya seni yang hebat. Dari pemikiran seperti itu, nantinya ada sebuah karya yang tak instan tapi tetap terkait candi sebagai kebanggaan masyarakat Jateng dan Indonesia.
''Bagaimana kita akan menjual dan membagakan Borobudur jika tak tahu makna dan falsafah yang bisa diterjemahkan dalam seni budaya. Inilah potensi yang seharunya digali bersama untuk mengangkat citra candi lebih baik lagi di luar negeri,'' katanya.
Seperti diberitakan CyberNews, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Tengah, Budiyanto , mengatakan BIF 2009 bertema ‘’The Revival of a World Wonder’’. Bertujuan mengankat kembali pamor Borobudu dikancang International.
Persiapan penyelenggaraan BIF 2009 sudah dilakukan secara matang dengan mengundang 17 negara, selain 32 provinsi dan kabupaten/kota se-Jateng.
( Sholahuddin Al-Ahmed / CN08 )