panel header


OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
Jangan Sok Kuasa, Sok Besar, Sok Sakti
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
22 Mei 2008 | 20:23 wib
Pendekatan Budaya untuk Masalah Nuklir Iran
.
Semarang, CyberNews. Meski posisi Indonesia dalam Dewan Keamanan PBB hanya sebagai anggota tidak tetap, namun sebenarnya Indonesia bisa ikut menyelesaikan kasus nuklir Iran secara damai.

Pasalnya, penyelesaian masalah yang menyebabkan Iran akhirnya berseteru dengan lima anggota Dewan Keamanan PBB tersebut akan sulit dilakukan melalui forum Dewan Keamanan PBB.

"Hal tersebut disebabkan karena pengalaman sejarah menunjukkan penyelesaian melalui Dewan Keamanan PBB tidak selalu memberikan keadilan oleh salah satu pihak, sehingga masalah akan muncul lagi di kemudian hari," ujar Fx Adji Samekto, Guru Besar Fakultas Hukum Undip dalam seminar "Peran Indonesia di Dewan Keamanan PBB" di Hotel Santika Premier, Kamis (22/5).

Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Undip dan Departemen Luar Negeri itu, hadir pula Andika Kepala Sub Direktorat Penanggulangan Kejahatan Lintas Negara Direktorat Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata Ditjen Multilateral Deplu, dan Broto Wardoyo Manajer Program Centre for International Relations Studies Universitas Indonesia sebagai pembicara.

Lebih lanjut Adji menambahkan, Indonesia bisa memanfaatkan potensi unik yang dimiliki. Yaitu negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, namun tidak menyebut dirinya sebagai negara Islam, serta orientasi kebijakan ekonomi yang mengarah ke liberalisasi.

"Indonesia bisa melakukan pendekatan terhadap Iran melalui persamaan peradaban, yaitu budaya Islam. Melalui pendekatan peradaban inilah, diharapkan Indonesia bisa ikut membantu permasalahan Iran," ujarnya di hadapan puluhan undangan.

Menurut Broto Wardoyo, selama ini permasalahan Indonesia yang sebenarnya dalam keanggotaannya di dewan Keamanan PBB adalah ketidak konsistenan dalam mengambil kebijakan. Pemerintah masih ragu apakah menggunakan kebijakan Islam karena sebagian besar penduduk memeluk agama Islam, atau kebijakan multikultural untuk ikut menyelesaikan permasalahan negara-negara di dunia.

"Kita ini tidak konsisten bukan karena ada sesuatu yang salah di luar, tapi karena ada sesuatu yang salah di dalam," kata pria yang pernah bersekolah di Israel itu.

Salah satu contoh kasus dimana Indonesia belum bisa berperan dalam keamanan dunia, tambah Broto, adalah masalah di jalur Gaza yang melibatkan Palestina dan Israel. Sementara itu, Andika mengatakan selama ini Deplu selalu menyuarakan kepentingan dalam negeri Indonesia dalam forum PBB.

Dalam persoalan Irak saja, lanjutnya, Indonesia mencoba mengajak ulama-ulama organisasi massa seperti NU dan Muhammadiyah untuk ikut membantu. "Mereka lebih tahu bagaimana mendekati orang yang dianggap tokoh penting di kalangan Suni dan Syiah di Irak. Disinilah nilai-nilai Islam yang berkembang di Asia Tenggara berperan," tutur dia.

Lantas, mengapa Indonesia tak pernah melakukan pendekatan formal kepada Israel dalam membantu memecahkan masalah di jalur Gaza? Andika menjelaskan, bahwa selama ini pemerintah Indonesia tidak pernah mengakui Israel sebagai negara, seperti negara Palestina.

Jadi, Indonesia tak pernah melakukan pendekatan melalui jalur formal seperti pertemuan tingkat menteri. "Paling-paling diskusi non formal dengan Israel, untuk menggali apa yang diinginkan mereka," kata dia.
( Fani Ayudea / CN09 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share

Baca Juga



Panel menu
Berita Terbaru
Index Berita
24 Juli 2014 | 22:20 wib
Dibaca: 52
24 Juli 2014 | 22:09 wib
Dibaca: 69
24 Juli 2014 | 21:57 wib
Dibaca: 70
24 Juli 2014 | 21:46 wib
Dibaca: 122
24 Juli 2014 | 21:36 wib
Dibaca: 111
Panel menu tepopuler dan terkomentar
 Berita Terpopuler
FOOTER