
BAGI sebagian orang memilih mobil lawas sebagai alat transportasi adalah pilihan yang menghasilkan kepuasan tersendiri. Untuk mempertahankan orisinil dan kesan klasik, tentunya membutuhkan "mas kawin" dan perlakuan khusus dari pemilik.
Seperti yang dilakukan anggota komunitas Holden Semarang, mereka ada trik dan alternatif khusus untuk memoles dan memajukan organisasi. "Kami selalu berkumpul untuk membahas program dan keluhan dari mobil masing-masing anggota, dengan berkumpul semua kendala akan teratasi," kata Ketua Holden Semarang periode 2007-2012, Tri Handoko.
Menurutnya, meski menganut kapasitas mesin bersilinder besar yakni enam silinder dan mesin V-8 atau delapan silinder, konsumsi bahan bakar Holden tak akan boros bila digunakan sesuai aturan. Hingga saat ini, anggota Holden Semarang telah mencapai 30 orang.
Komunitas ini tidak terbatas profesi, keterbukaan membuat semua kalangan bisa masuk ikut bergabung. Berbagai jenis Holden buatan tahun 60an hingga 70an ikut menambah kemeriahan saat komunitas ini berkumpul pada Jumat malam dan Minggu sore di Jalan Pahlawan Semarang.
"Suara knalpot yang menggelegar dari Holden Special, Premier, Kingswood, Statement, Belmont dan One Tunner bisa ditemui di Jalan Pahlawan saat ngeblaaarrrr (kumpul) bareng setiap Jumat malam," tuturnya.
Menurut riwayatnya, Holden adalah mobil buatan Australia. Hanya saja ada beberapa yang dirakit di Eropa diantaranya tipe Kingswood HQ. Hal ini terjadi karena adanya pembaharuan dibandingkan generasi sebelumnya, seri HQ dianggap produk Holden paling radikal untuk itu pihak perakitan yang dipercaya menggunakan konstruksi perimeter frame dan semi-monocoque (unibody) serta mengadopsi suspensi belakang.
Coil Spring
Dalam berorganisasi, para penggemar Holden Semarang selalu mengedepankan solidaritas antar anggotanya. Tak heran jika ada keluhan terhadap mesin Holden salah seorang anggota, anggota lainnya bisa membantu mulai dari menderek mobil atau bahkan
memperbaikinya. Seperti halnya yang pernah dialami Kobir, pemilik Holden Premiere 3300 cc tahun pembuatan 1972 tersebut.
Pria warga Kedungmundu ini awalnya belum banyak mengetahui seluk beluk mobil idamannya, sehingga wajar jika ia was-was dan takut jika mobilnya mogok sehingga menganggu aktivitas kerjanya. Namun, beruntung dengan adanya persaudaraan yang dibentuk komunitas Holden Semarang ia kerap mendapatkan pertolongan dari anggota lain untuk menanggani masalah di jalan.
"Awalnya saya was-was jika membawa Holden untuk aktivitas sehari-hari. Namun dengan solidaritas yang terbentuk dikomunitas ini membuat kami semua nyaman saat di jalan. Tak jarang anggota memberikan pertolongan bagi anggota lain yang mempunyai masalah dengan mobilnya. Prinsipnya "take and give" lah," ujarnya.
Aryo atau yang lebih akrab disapa Gembul, pemilik Holden Premiere yang telah dimodifikasi bentuk menjadi Kingswood mengatakan mengendarai Holden ibarat mengendarai jet. Walaupun berjalan di jalan yang kasar, pengemudinya tetap terasa nyaman. "Dengan slogan jet-smosth ride over rough roads menjadikan Holden ini sangat populer, begitu juga di Indonesia," ungkapnya.
Untuk menjalin silaturahmi, pecinta Holden biasa menggelar touring hingga ke Bandung dan Bali. Tak hanya sekadar touring, biasanya momen tersebut juga disisipi barter onderdil dan tukar pengalaman antar sesama komunitas. Dengan begitu, permasalahan yang kerap ditakutkan para pecinta mobil antik ini yaitu kelangkaan spare part/onderdil bisa teratasi.
"Kami tidak akan takut susah mencari onderdil karena komunitas Holden tersebar di Nusantara ini. Selain itu juga masih banyak toko-toko yang menyediakan onderdil mobil ini. Kalau mencari di Semarang kosong, ya kita cari ke Jakarta atau mungkin kota lain atau bahkan dipesankan di negara asalnya Austarlia. Harganya pun terjangkau dan dijamin tak mahal," jelasnya.
(Ranin Agung, Maulana M Fahmi/CN26)