panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
15 Mei 2013 | 21:05 wib
Anak Penjual Jagung Bisa "Cicipi" Kuliah Kedokteran
image

Fifi (pojok depan kerudung biru) bersama teman-teman mahasiswa jurusan kedokteran Universitas Islam Malang (Unisma). (Foto: Badrus Sholeh)

Kuliah dijurusan kedokteran, tidak selamanya monopoli orang kaya, tengoklah Fifi Rohmatin, tinggal dikawasan daerah terpencil di Pati di desa Purwokerto kecamatan Tayu. Terlahir dari keluarga yang serba kekurangan membuatnya tidak pernah berputus asa, siswa kelas XII lulusan dari Madrasah Miftahul Huda Tayu (MMH) 2012 ini mengaku,. Ayahnya pekerjaannya menjual jagung, ketika musim-musim tertentu seperti musim panen padi dan musim kacang hijau, sisa-sisa panen berupa jerami/ daduk (batang pohon kacang hijau) bapak jual untuk pakan ternak, mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk memenuhi kebutuhan keluargaku, jangankan untuk kuliah untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari keluarga kami masih kurang.

Kegiatan Fifi dirumah sepulang sekolah biasanya membantu orangtua jualan jagung, jerami padi dan kacang, pakan ternak di pinggir jalan. Waktu belajar pagi jam 03.00 setelah solat tahajud setiap hari. Malam harinya biasanya nge-les privat anak-anak  kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD). uang sakunya pun saat masih sekolah bervariasi, biasanya Rp 3000 kadang Rp 5000 yang Rp 2000 untuk naik bis pulang pergi (pp) dan sisanya untuk jajan. Namun Fifi biasa menyisihkan uang jajannnya untuk membeli keperluan sekolah (buku dan LKS). Melihat kondisi keluarganya demikian maka "siapa lagi yang akan merubah kondisi keluarganya jika tidak aku sendiri? Allah tidak buta, Allah maha melihat, dan dia akan menjawab doa hambanya yang selalu berusaha," terang Fifi.

Menurut penuturan guru disekolahnya Husnurrosyidah, S.Pd Fifi dikenal sebagai anak yang rajin dan ulet serta prestasinya pun masuk lima besar dari kelas X-XII. Awal  jadi mahasiswa kedokteran seperti saat ini saat coba-coba mengikuti PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) dari Kementrian Agama. Semua biaya pendidikan benar-benar gratis di tanggung oleh KEMENNAG mulai dari awal masuk sampai lulus. Tidak ada bayangan sebelumnya kalau ia bakal kuliah di kedokteran. Berbagai program beasiswa untuk menembus kuliah 'gratis' sudah dia ikuti tetapi tidak ada yang lolos. Bulan januari ada beasiswa dari PBSB kemenag untuk jurusan kedokteran. Untuk mengikuti seleksi PBSB tersebut Fifi sempat mengalami kesulitan dalam memperoleh izin dari orang tuanya. Kedua orang tuanya  keberatan jika dia mengikuti seleksi PBSB tersebut karena alasan biaya. Hal ini yang menjadikan ortunya merasa keberatan jika dia harus mengikuti seleksi terlebih jika sampai dia di terima beasiswa kedokteran. Karena pengertian dari pihak sekolah, akhirnya ortunya mengizinkan  mengikuti tes seleksi PBSB. Nasib baik memang berfihak padanya, setelah pengumuman hasil seleksi PBSB dia dinyatakan lolos seleksi dan mendapatkan beasiswa kedokteran di Universitas Islam Malang (UNISMA).

Dapat beasiswa, malah bikin bingung keluargaku

Bagi sebagian besar orang,memang suatu kebanggaan mendapatkan beasiswa tersebut tetapi bagi dia dan keluarganya ini merupakan hal yang sangat membingungkan. Bingung menentukan pilihan untuk mengambil beasiswa tersebut atau mengundurkan diri. Ibarat ikan sudah di tangan tapi hampir dilepaskan begitu saja. Orang tuanya tetap merasa keberatan untuk biaya kuliah di kedokteran sekalipun mendapatkan beasiswa. Ditambah lagi perkataan dari tetangga yang seolah meremehkan kemampuan keluarganya tidak akan sanggup menguliahkan anaknya di kedokteran, membuat orangtuanya semakin yakin untuk menyuruh dia mengundurkan diri dari beasiswa tersebut.karena tekanan dari orang luar dan rasa tidak tega dia melihat kondisi orangtuanya, sehari sebelum pemberkasan dia bertekad untuk mengundurkan diri dari beasiswa kedokteran. 

Fifi_pun menemui pihak sekolah dan menyatakan mengundurkan diri dari beasiswa tersebut. Pihak sekolah tidak puas dengan alasannya dan akhirnya mendatangi rumah orangtuanya untuk mengkonfirmasi alasan yang sebenarnya. Alasan orangtuanya tetap pada hal yang sama yaitu keberatan di ongkos.

"Jangankan untuk biaya kuliah, untuk transport ke Malang saja ortuku tidak ada, disamping itu sangat khawatir jika suatu saat dana dari beasiswa pencairannya tidak tepat waktu sehingga mengganggu kuliah aku," terang Fifi.

Berdasarkan alasan tersebut, kemudian pihak sekolah berusaha meyakinkan orangtuanya. Pihak sekolah mempertemukan dia beserta keluarganya dirumah salah seorang kyai yang disegani dikampungnya untuk menyakinkan keluarganya agar kesempatan beasiswa tersebut tidak disia-siakan. Akhirnya orangtuanya mengizinkan, pihak sekolah Madrasah Miftahul Huda (MMH), tempatnya menimba ilmu pun sangat mendukung dengan meminjamkan uang sebesar satu juta untuk digunakan sebagai biaya transportasi dan biaya hidup selama matrikulasi.

Rela tak tidur demi meminjam laptop

Sebelum tahun ajaran baru, calon mahasiswa PBSB harus mengikuti matrikulasi selama 6 bulan. Waktu matrikulasi senin-jumat jam 09.00-15.00. setiap mata kuliah selesai materi selalu ada tugas. Fifi mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas karena tidak punya laptop, jadi dia sering jarang tidur karena harus menunggu teman lain yang punya laptop apabila mereka telah selesai mengerjakan tugas untuk di pinjam laptopnya. Kondisi seperti ini sering fifi lalui. Jatah dari kemenag per bulan 700rb, untuk saat ini masih bisa di sisakan 300rb tiap bulan. Dari waktu ke waktu Fifi berusaha menyisihkan uang beasiswa sedikit demi sedikit, sekarang sudah beli netbook second harga 2,2 jt uang dari mengumpulkan sebagian jatah beasiswa tiap bulan ditambah uang pinjaman dari pihak sekolah 1 jt terkumpul 2 jt, sedangkan 200rb dipinjami teman.

Jatah makan dari asrama pagi dan malam. Selama matrikulasi sempat sakit dan periksa ke rumah sakit yang tentunya menambah pengeluaran. Biaya kuliah sangat bergantung dari beasiswa. Alat komunikasipun (HP) yang fifi  pinjam dari teman, terkadang jika dia mau telpon atau sms meminjam HP teman. Tapi Fifi tetap bersyukur karena nikmat Allah itu maha luas. Baginya cerita ini hanyalah untaian goresan tinta yang tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan para pencari ilmu dahulu seperti para ulama besar yang jauh lebih memperihatinkan lagi misal Imam Syafii yang dirampok ketika akan menimba ilmu padahal beliau diberikan bekal satu-satunya dari sang bunda untuk menimba ilmu, syeikh Abdul Qadir Jailani pernah ditimpa kelaparan dan hampir mati karena kehabisan bekal dalam menuntut ilmu. Imam Bukhari, dalam mempelajari hadits, ia memiliki guru lebih dari 1000 syeikh. Ia  melakukan perjalanan yang panjang. Buah dari ketekunannya, ia berhasil mengumpulkan lebih dari 10.000 Hadits.

 

Penulis:

Badrus Sholeh

Mahasiswa Pascasarjana UNS Jurusan Ekonomi

(Eko Wahyu Budiyanto/CN37)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
03 September 2014 | 07:50 wib
Sleep Center Tunjungan Plaza
Terluas dengan Produk Premium
Dibaca: 66278
image
02 September 2014 | 20:19 wib
Dibaca: 48727
image
01 September 2014 | 16:07 wib
Jambore Sahabat Anak 2014
Kampanye Hak Anak Marginal
Dibaca: 50235
image
30 Agustus 2014 | 01:50 wib
Dibaca: 49746
image
27 Agustus 2014 | 07:32 wib
Spring Bed Motif Batik
Selaksa Tidur di Atas Awan
Dibaca: 6700
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER