panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
25 Januari 2012 | 18:40 wib
Dalang Thio Tiong Gie (1)
Berkah Perjuangan Gus Dur
image

TOKOH seorang panglima perang sedang dimainkan oleh Sayhu Teguh Chandra Irawan. (suaramerdeka.com / Isti)

 

Oleh Bambang Isti

 

SULIT membayangkan boneka-boneka Potehi dengan beragam karakter dan wajah itu harus digudangkan selama 32 tahun. Lalu puluhan boneka wayang China itu dibiarkan rusak dan berdebu.

Saat itu rezim orde baru "mengebiri" semua kebudayaan yang berasal dari China. Itu artinya, kesenian seperti barongsai, liong-samsi dan wayang potehi (pooteehie), maaf saja, tidak ada tempat di bumi Indonesia.

Kalaupun ditampilkan, kala itu hanya sebatas di acara-acara keagamaan di klenteng-klenteng, itu pun dilakukan oleh para sayhu (dalang) dengan diam-diam, bahkan disertai rasa takut. 

Sampai akhirnya, datanglah sang pembebas itu. Dia bernama Gus Dur. Dia Presiden Abdurachman Wahid, pemimpin ke empat negeri ini. Saat itu Gus Dur melakukan langkah kontroversial namun justru membawa angin segar di pertiwi ini.

Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China, lalu meletakkan  dasar-dasar melalui Keputusan Presiden (Keppres) No 6 Tahun 2000 yang membuat warga Tionghoa di pertiwi ini dapat kembali beribadah di tempat umum, merayakan Imlek, dan mementaskan barongsai serta wayang Potehi.

Salah satu warga keturunan China yang merasakan berkah adanya Keppres no 6 dan kebahagiaan tak terkira itu adalah Thio Tiong Gie.

Dia adalah Pooteehie Sayhu (dalang wayang Potehi) pertama di Indonesia dan satu-satunya di Jawa Tengah. Selama 32 tahun kreativitasnya sebagai seniman wayang China terbelenggu. Padahal itu adaklah satu-satunya mata pencahariannya.

Maka ini artinya, Teguh Chandra Irawan, demikian nama asimilasi dalang ini, kembali bisa beraksi dengan wayang potehinya.

Sedikit penonton

Pada usianya yang ke 79, Teguh masih sanggup mendalang berdurasi 2 jam (dengan istirahat 30 menit) memainkan lakon-lakon klasik, seperti Shi Jien Kwie Tyeng See (Panglima dari Barat) pakem cerita zaman dinasti Tang, atau lakon Ngohoo Ping See yang diambil dinasti Song.

Terakhir GTeguh tampil pada malam penutupan Festival Imlek di Gang Warung Semarang, Minggu (22/1). Dengan sedikit penonton, dengan kondisi panggung "bedeng" sederhana dan hujan deras, kisah panglima Tiongkok kuno digambarkan Teguh dengan piawai.

Lihat saja kala sayhu Teguh mengantarkan ceritanya: "...akhirnya kota itu kita kuasasi menerusken perjuangan..." atau ..panglima
perang adalah salah satu jendral yang berhasil membujuk kami punya garis depan..."

Meski struktur katanya tidak sesuai dengan bahasa Indonesia yang baik, penonton toh tetap terhanyut juga. Terbukti penonton masih bertahan sampai pertunjukan usai, dan sang dalang tua itu tertatih-tatih menuruni tangga panggung dan kembali ke rumahnya di kampung Kelurahan Petudungan, Kp Pesantren 326 Semarang.

Soal struktur bahasa tadi, Teguh Chandra berkilah, "Aslinya wayang Potehi ini dimainkan dalam bahasa Hokian, tapi saya sampaikan dengan bahasa Indonesia, biar kita orang bisa mengerti," kata Teguh Chandra kelahiran Demak 1 Januari 1933.

Dalang Teguh dikenal masih menampilkan wayang Potehi dengan gaya klasik. Dengan puluhan boneka wayang yang diperkirakan berusia di atas 150 tahun, Teguh tak melakukan inovasi apapun atas tampilan Potehinya.

Sebuah rumah mirip bedeng berukuran 4 x 3 meter adalah "panggung" Potehi, yang menurut Teguh tidak akan berubah sampai kapan pun. Cara kuno tetap dijaga terlihat dari cara dia menempatkan boneka-boneka wayangnya secara terbaik di bentangan rak kayu yang usang. "Cara meletakkan (wayang) memang harus tetrbalik begitu," kata Teguh.

Di dalam bangunan bedeng berwarna merah itu bisa menampung para "niyaga" yang mamainkan alat musik pengiring seperti dongkoo (kendang), twaloo (gembreng), twa pwa (simbal), sio twa (simbal kecil),dan arlhu (rebab). Jika semuanya dimainkan bersama, akan menjadi sebuah harmoni indah.

Di panggungnya itu terdapat 4 orang pemain yang membantu Teguh Chandra. Satu-satunya pemain yang berdarah Jawa adalah Supardi. Di Surabaya, Supardi ini juga seorang sayhu. (Bersambung)

 

 

(Bambang Isti/CN 25)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
22 Mei 2012 | 11:44 wib
Dibaca: 281
image
15 Mei 2012 | 11:00 wib
Dibaca: 575
image
13 Mei 2012 | 11:52 wib
Parenting Day "Bunga Bangsa"
Melatih Kesabaran dengan Membatik
Dibaca: 638
image
06 Mei 2012 | 18:34 wib
Dibaca: 1033
image
23 April 2012 | 17:33 wib
Dibaca: 1175
Panel menu tepopuler dan terkomentar
06 Mei 2012 | 18:34 wib
13 Mei 2012 | 11:52 wib
15 Mei 2012 | 11:00 wib
FOOTER