
KELILING: Seorang petani ikan Rawa Pening, Bawen berkeliling mengontrol keramba-keramba yang dibangunnya. (suaramerdeka.com / Isti)
Oleh Bambang Isti
ORANG sering membayangkan, Danau Rawapening yang menghampar di Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang itu tampak indah dengan wisata perahunya.
Tapi harapan itu tinggal mimpi belaka, karena bertahun-tahun tanaman liar enceng gondok masih jadi persoalan yang tak pernah terselesaikan. Sehingga Rawapening sampai kini tak pernah menampilkan pesonanya.
Penduduk di sekitar danau menyandarkan mata pencahariannya dengan budidaya ikan air tawar. Para petani yang memiliki petak-petak karamba yang terletak di Dusun Sumurup, Desa Asinan, Kecamaan Bawen Kabupaten Semarang itu, hanya mengandalkan beberapa karamba baik jenis tancap atau apung, untuk lahan pembibitan ikan seperti mujahir, nila, atau bawal.
Di perairan Rawapening, terutama di Dusun Sumurup, terdapat hampir 100 orang pemilik karamba, yakni kerangka bambu sebagai wahana membudidayakan ikan. Karamba-karamba itu bakan seakan terdesak oleh tumbuhnya enceng gondok yang menjalar ke hampir keluasan perairan.
Meskipun enceng gondok masih menjadi kendala, para petani ini tampak kompromi dengan tanaman itu. Karena sebagian para nelayan bisa memanfaatkannya untuk campuran makananan ternak kambing mereka. "Ya akhirnya kami bisa berkawan dengan enceng gondok, karena tanaman itu bisa untuk campuran makanan kambing," kata Listyo, salah seorang petani.
Perhatian gubernur.
Usaha untuk membela Rawa Pening sebagai aset konservasi alam di Jawa Tengah itu tampak dilakukan dengan serius oleh Gubernur Bibit Waluyo.
"Jawa Tengah ini kaya dengan air. Kita punya Rawa Pening, juga punya banya waduk, maka kita harus panda-pandai mengalokasikannya," kata Bibit Waluyo setahun lalu.
Cuma disayangkan oleh gubernur, "Rawa Pening sakarang saya lihat masih dikotori oleh tanaman liar enceng gondok. Bagaimana caranya agar tanaman itu dilokasir, tolong ini dipikirkan. Padahal saya dengar biaya untuk itu sampai Rp 8 milyar," tukas Bibit Waluyo.
Perhatian Gubernur Jateng pada kawasan Rawa Pening tampaknya tak bisa ditawar lagi. Pada kesempatan itu, gubernur mempelopori tebar benih ikan di rawa. Bersama dengan rombongan Bibit dan istri naik perahu motor mengelilingi rawa sambil menebar benih ikan.
Ini menyiratkan, pihak pemerintah tak ingin kawasan lindung Rawa Pening agar tidak "dicaplok" oleh investor, terutama untuk rencana pembangunan perumahan. Karena ini akan menyadikan daya tampung rawa menyusut dengan adanya sedimentasi yang makin meninggi.
Maka diharapkan oleh banyak pihak, khususnya warga sekitar, agar rawa yang menjadi ikonnya Jawa Tengah itu tetap lestari dan alami.
Namun sebakliknya, sebagian nelayan di perairan Rawa Pening, terutama di Dusun Sumurup merasa pemerintah dalam hal ini Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jateng tidak memperhatikan kelangsungan hidup mereka, menyusul sulitnya memdapatkan benih ikan air tawar akhir-akhir ini, karena harganya cukup mahal.
Untuk mendapatkan benih itu, para nelayan harus membelinya dari Muntilan. Harga benih bawal seharga Rp 250 per ekor, sedangkan untuk mujahir perkilonya Rp 25 ribu.
Nah, jika gubernur pun setahun lalu pernah menebar benih ikan, namun mengapa petani ikan di Dusun Sumurup masih mengeluh? Karena merasa tidak mendapat bagian? Apakah pemerintah pilih-pilih dala rangka mensejahtarakan rakyatnya?
(Bambang Isti/CN 25)