panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
14 Januari 2012 | 14:22 wib
Workshop Pendidikan SMA Theresiana
Guru Makin Tertantang di Masa Mendatang
image

SUASANA seminar sehari yang dihadiri oleh alumni SMA Theresiana.

SISTEM belajar dulu dan sekarang memiliki perbedaan yang sangat tajam. Paradigma lama dalam dunia kependidikan harus diubah, karena di masa depan, akan ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Bahwa sekarang, belajar itu bisa dari siapapun dan melalui media apa pun.

Peter Purnomo, pakar pendidikan alumni SMA Theresiana Semarang, memberikan pernyataan itu ketika memberikan seminar sehari "Metode Pengajaran Moderen" di Hall SMA Theresiana, jalan mayjen Sutoyo Semarang, Sabtu (14/1).

Seminar yang diselengarakan alumnus SMA Theresiana tahun 80 itu diikuti oleh sekitar 50 guru, baik yang masih aktif, maupun sudah purna tugas, tujuannya ini bertujuan untuk membagi pengalaman belajar mengajar dengan metode yang lebih moderen dan memberi pencerahan.

"Karena akan ada banyak tantangan bagi dunia pendidikan di masa mendatang," Peter Purnomo. Jika dulu, kepandaian anak hanya diukur dari tingkat Intelegence Quatient (IQ) saja, maka sekarang, pengukuran itu juga harus berdasarkan Adversity Quatient (AQ), Spiritual Quatient (SQ), dan Emotional Quatient (EQ).

Masih soal metoda pendidikan, Peter Purnomo mencontohkan media youtube sekarang ini menawarkan banyak pengetahuan, salah satunya temuan ilmuwan di tahun 1968, bahwa "mendengar suara itu bisa juga dari kulit kepala kita," ungkap Peter.

Inilah tantangan (challenges) di masa depan yang harus juga ikut dipikirkan. Ya, nantinya persaingan akan semakin ketat seiring proses belajar mengajar yang akan semakin sulit.

Apalagi bagi pengajar, yang harus juga menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus. Peter mengungkapkan, anak-anak Autis dan berkebutuhan khusus, misalnya, jumlahnya kini semakin banyak, yaitu 1:400000.

Peter juga menandaskan, pendidikan harus dibangun diatas keterikatan yang erat antara guru, murid dan orangtua. Lagi-lagi, Purnomo mengibaratkan roti lapis ala Amerika, bernama burger. "Roti di lapisan teratas adalah sekolah, anak-anak adalah daging di tengahnya, sementara orangtua adalah lapisan roti paling bawah, ketiganya harus menempel erat," jelasnya.

Tantangan bagi dunia pendidikan di masa depan yang coba diurai Peter, menyoal juga gaji guru yang masih di bawah standar. Diakuinya, gaji guru di Semarang masih jauh di bawah standar.

(Er Maya, Bambang Isti/CN 25)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
22 Mei 2012 | 11:44 wib
Dibaca: 281
image
15 Mei 2012 | 11:00 wib
Dibaca: 575
image
13 Mei 2012 | 11:52 wib
Parenting Day "Bunga Bangsa"
Melatih Kesabaran dengan Membatik
Dibaca: 638
image
06 Mei 2012 | 18:34 wib
Dibaca: 1033
image
23 April 2012 | 17:33 wib
Dibaca: 1175
Panel menu tepopuler dan terkomentar
06 Mei 2012 | 18:34 wib
13 Mei 2012 | 11:52 wib
15 Mei 2012 | 11:00 wib
FOOTER