
MENULIS INDAH: Beberapa peserta Lomba Kaligrafi China tengah serius membuat tulisan indah dengan huruf Mandarin di Gedung Perkumpulan Fu Qing, Jalan Gajah 5-9 Semarang pada Sabtu (7/1) sore. (suaramerdeka.com/ Diantika PW)
SEMARANG, suaramerdeka.com - Puluhan siswa-siswi mulai dari SD, SMP, hingga SMA/SMK berkumpul dalam sebuah kompetisi kaligrafi China, atau orang awam menyebutnya huruf Mandirin. Lomba menulis kaligrafi China ini digelar perkumpulan Kaligrafi dan Seni Rupa China Semarang, Sabtu (7/1).
Peserta datang dari berbagai sekolahan yang ada di Kota Semarang. Mereka diberi waktu 90 menit untuk membuat kaligrafi bertuliskan "Belajar Tidak Pernah Merasa Bosan" dalam huruf Mandarin, dengan menggunakan kuas dan tinta. Perlombaan ini tidak hanya diikuti warga keturunan Tionghoa saja, tak sedikit pula warga pribumi yang turut serta mengikuti ajang tersebut. Bahkan di antara mereka banyak yang telah menyabet penghargaan dari perlombaan serupa.
Seperti Linda Rahmawati, perempuan berjilbab ini hampir dua tahun menggeluti seni kaligrafi China. Dia juga pernah menyabet juara I dalam perlombaan seni kaligrafi tingkat Jateng pertengahan 2011 lalu. Siswi SMKN 2 Semarang ini mengagumi huruf-huruf China tersebtu karena dinilainya begitu unik.
Komentar serupa juga dilontarkan Mega Ayu Puspita, Warga Ungaran. Menurut perempuan berdarah Jawa ini, belajar kaligrafi China sama halnya belajar filosofi hidup. "Jika biasanya makna ada disetiap kata, kalau untuk huruf China, makna ada di setiap hurufnya. Apalagi ini tulisannya indah sekali, saya yakin setiap orang kalau tau pasti akan tertarik," ujar Mega.
Selain lomba menulis indah, perkumpulan ini juga menggelar pameran lukisan dan kaligrafi China selama dua hari, yakni pada tanggal 7 hingga 8 Januari. Lukisan dan kaligrafi yang ditampilkan merupakan hasil karya warga Semarang dan sekitarnya yang belajar di Perkumpulan Kaligrafi dan Seni Rupa China, Jl Gang Besen 82 Semarang. Sedangkan pemenang perlombaan akan diumumkan di Gedung Perkumpulan Fu Qing, pada Minggu (8/1).
Perlu Regenerasi
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Kaligrafi dan Seni Rupa China, Hidajat Purnama berharap, seni kaligrafi China dapat dijadikan sebagai bidang ekstra kulikuler di sekolah-sekolah, utamanya di Kota Semarang. Sebab seni menulis karakter China ini dipercaya dapat menajamkan pikiran dan meningkatkan konsentrasi.
Menekuni kaligrafi China, tak hanya bermakna seni, tapi juga mengandung unsur olah tubuh, terutama terletak pada gerakan-gerakan tangan ketika menyapukan kuas diatas kertas.
"Sebagai seorang penggemar kaligrafi, saya merasa betapa besar nilai kaligrafi ini. Sedangka pelaku-pelaku kaligrafi saat ini sebagian orang-orang yang sudah lanjut usia. Jadi jika kita tidak melakukan regenerasi atau estafet skil, ya akan terputus," papar Hidajat saat ditemui di sela-sela perlombaan.