
BUAH REKREATIF: Buah durian adalah media untuk menarik wisman atau lokal. Pemandangan ini ada di Desa Wisata Lerep, Ungaran Barat. (Foto suaramerdeka.com / Isti)
Oleh Bambang Isti
JANGAN pandang remeh wisatawan asing (wisman) dengan modal tas punggung yang menyusuri Pasar Johar di Semarang, Malioboro di Jogya atau Pasar Kliwon di Solo. Tidak bijak juga jika membandingkan mereka dengan wisman "gedongan" yang diatur oleh paket dengan skedul yang padat, dengan rombongan bus pariwisata dengan kawalan voorijder kepolisian.
Karena para "backpekcer" yang konon wisman dengan biaya cupet ini sebenarnya juga telah menyumbang dolar sebagai devisa bagi negeri ini, sehingga target 8 juta wisman diharapkan akan tercapai di tahun 2012.
Angka ini konon sangat membantu perekomonian rakyat Indonesia, terlebih jika rata-rata akan terwujud pula angka 1.100 US dollar per wisman. "Ini bisa disumbangkan untuk negara berupa devisa," kata Sapta Nirwandar Wakil Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.
Masih menurut dia, ada 3 komponen besar yang bisa mendukung tercapainya 8 juta wisman itu, yakni akomodasi, kuliner, dan hiburan kesenian. Karena sebenarnya wisman yang berdatangan ke Indonesia, ingin menikmati suasana yang di negaranya tidak pernah ada. Persisnya di Indonesia mereka ingin berada di desa-desa yang masih asli.
"Mereka itu kan sudah biasa tinggal di hotel internasional. Jadi biarkan mereka menikmati denyut kehidupan masyarakat desa," kata Prasetyo Sriwibowo Kadinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Tengah.
Terkait dengan hal itu, maka pada tahun 2012 di Jateng telah disiapkan 50 desa wisata yang akan menjadi unggulan destinasi di Jawa Tengah.
Ke-50 desa itu merupakan desa yang paling siap di antara 115 desa dari 18 kabupaten kota yang ada, yang direkomendasikan sebagai alternatif destinasi wisata, khususnya untuk menyambut Tahun Kunjungan Wisata 2013 mendatang.
Desa-desa inilah yang memiliki potensi yang layak untuk dikunjungi wisatawan lokal atau manca. Desa-desa ini dikelola oleh kelompok masyarakat, dari potensi keindahan alam sampai atraksinya.
Sarana homestay
Dari 115 desa yang ada, memang baru 50 yang betul-betul siap dipasarkan. Ini penting agar wisata Jateng bisa jadi tuan rumah di daerahnya sendiri, maka semua pelaku pariwisata berharap agar disiapkan betul berbagai sarana seperti homestay agar memenuhi higienitas, kebersihan, dan keamanan bagi turis asing.
Ke 50 desa wisata itu, akan menambah destinasi utama yang telah ada, yakni Semarang - Karimanjawa, Solo - Sangiran, Borobudur - Jogya, dan Cilacap - Pangandaran.
"Desa-desa inilah yang memiliki potensi yang layak untuk dikunjungi wisatawan lokal atau manca. Desa-desa ini dikelola oleh kelompok masyarakat, dari potensi keindahan alam sampai atraksinya," kata Prasetyo.
Menurut Prasetyo dari 115 desa yang ada, memang baru 50 yang betul-betul siap dipasarkan. "Ini penting agar wisata Jateng bisa jadi tuan tumah di daerahnya sendiri, maka saya berharap agar disiapkan betul berbagai sarana seperti home stay agar memenuhi higienitas, kebersihan, dan kamanan bagi turis asing.
Di Jateng, salah satu desa wisata yang sudah amat siap adalah Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
Di desa yang ada di lereng Gunung Ungaran ini berdiri homestay Watu Gunung, Kampung Seni Lerep, dan jalan-jalan desanya yang ditawarkan oleh pemerintah desa setempat sebagai kawasan perkampungan durian, karena di kanan kiri jalan terdapat kebun-kebun buah durian.
Begitu eksotisnya Lerep. Ia bisa menjadi desa percontohan untuk desa-desa lain di Jateng. Para "backpecker" pun bisa diharapkan datang ke sini untuk membuktikan, bahwa yang asli itu memang tak harus berbiaya mahal.
Dan bagi wisman "backpecker" yang berbiaya mepet itu, kelak ada sesuatu yang bisa diceritakan pada kerabatnya di negara asal mereka.
(Bambang Isti/CN 25)