
TENGARAN merupakan salah satu kecamatan di daerah di Kabupaten Semarang yang mempunyai potensi lebih dibandingkan daerah lain. Letaknya yang strategis karena dilalui jalan utama antarprovinsi sehingga akses dengan daerah lain dapat lebih mudah.
Kondisi tanah pertanian yang subur didukung dengan kondisi topografi serta curah hujan yang cukup, membuat sektor pertanian dapat berkembang dengan baik. Salah satu daerah yang mempunyai potensi tersebut adalah Desa Barukan.
Selain pertanian yang menojol di Barukan, seni tradisional reog juga terkenal di wilayah dengan luas 254,872 ha ini. Sudah tradisi turun temurun, kesenian ini selalu bisa dilestasrikan hingga sekarang. Paguyuban reog yang masih eksis di desa itu adalah Krido Utomo.
Hebatnya, regenerasi reog di wilayah itu terus dilakukan. Lihat saja di kelompok reog Margi Utomo itu beranggotakan tidak hanya kaum dewasa tetapi juga anak-anak seusia kelas 1 dan kelas 2 SD dengan jumlah anggota 100 orang. Tantangan globalisasi seperti saat ini ternyata tak menyurutkan niat anak-anak tersebut.
Di saat anak-anak di daerah lain mungkin gandrung pada lagu-lagu pop atau irama masa kini, tetapi anak-anak Barukan ini tetap konsisten menekuni reog. "Dukungan orang tua cukup tinggi agar anaka-naknya berlatih reog. Meskipun mereka harus urunan untuk biaya latihan, tetapi orang tua tetap senang," kata Ramlan (53) salah satu anggota paguyuban reog tersebut.
Tantangan yang dihadapi Ramlan dkk dalam menjaga tradisi tersebut sebenarnya tidak hanya berhadapan dengan minat generasi muda. Tantangan terbesar lain yang mengancam eksistensi seni tradisional tersebut adalah soal keuangan. Apalagi, seni tradisional kini juga terus digerus oleh seni kontemporer dan budaya pop anak muda.
Ramlan juga tidak bisa berharap banyak dari kepedulian pemerintah. Dia menyadari urusan pemerintah terlampau banyak untuk urusan pembangunan daerah. “Pernah ada uluran dana stimulus dari pemerintah desa. Tapi, itu masih sangat minim dan terbatas mengingat jumlah kami yang lumayan banyak,” ujarnya.
Menurut Ramlan, untuk sekali pentas, tak kurang 100 orang anggota mulai dari penari hingga pengrawit diterjunkan. Harga yang dipatok setiap kali tanggapan berkisar Rp 2 hingga 2,5 juta. "Kami melayani tanggapan di acara 17-an, HUT Desa, dan dari masyarakat sekitar. Sejauh ini tanggapan hanya wilayah desa kami," katanya.
Dia berharap agar Reog tak hanya identik dengan Kota Ponorogo. Dia ingin tari Reog juga akrab menjadi suguhan dan apresiasi seni di daerah lain, termasuk Desa Barukan.
(Moch. Kundori/CN26)