panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
01 Januari 2012 | 19:20 wib
Reog Barukan, Tradisi yang Masih Bertahan
image

TENGARAN merupakan salah satu kecamatan di daerah di Kabupaten Semarang yang mempunyai potensi lebih dibandingkan daerah lain. Letaknya yang strategis karena dilalui jalan utama antarprovinsi sehingga akses dengan daerah lain dapat lebih mudah.

Kondisi tanah pertanian yang subur didukung dengan kondisi topografi serta curah hujan yang cukup, membuat sektor pertanian dapat berkembang dengan baik. Salah satu daerah yang mempunyai potensi tersebut adalah Desa Barukan.

Selain pertanian yang menojol di Barukan, seni tradisional reog juga terkenal di wilayah dengan luas 254,872 ha ini. Sudah tradisi turun temurun, kesenian ini selalu bisa dilestasrikan hingga sekarang. Paguyuban reog yang masih eksis di desa itu adalah Krido Utomo.

Hebatnya, regenerasi reog di wilayah itu terus dilakukan. Lihat saja di kelompok reog Margi Utomo itu beranggotakan tidak hanya kaum dewasa tetapi juga anak-anak seusia kelas 1 dan kelas 2 SD dengan jumlah anggota 100 orang.  Tantangan globalisasi seperti saat ini ternyata tak menyurutkan niat anak-anak tersebut.

Di saat anak-anak di daerah lain mungkin gandrung pada lagu-lagu pop atau irama masa kini, tetapi anak-anak Barukan ini tetap konsisten menekuni reog. "Dukungan orang tua cukup tinggi agar anaka-naknya berlatih reog. Meskipun mereka harus urunan untuk biaya latihan, tetapi orang tua tetap senang," kata Ramlan (53) salah satu anggota paguyuban reog tersebut.

Tantangan yang dihadapi Ramlan dkk dalam menjaga tradisi tersebut sebenarnya tidak hanya berhadapan dengan  minat generasi muda. Tantangan terbesar lain yang mengancam eksistensi seni tradisional tersebut adalah soal keuangan. Apalagi, seni tradisional kini juga terus digerus oleh seni kontemporer dan budaya pop anak muda.

Ramlan juga tidak bisa berharap banyak dari kepedulian pemerintah. Dia menyadari urusan pemerintah terlampau banyak untuk urusan pembangunan daerah. “Pernah ada uluran dana stimulus dari pemerintah desa. Tapi, itu masih sangat minim dan terbatas mengingat jumlah kami yang lumayan banyak,” ujarnya.

Menurut Ramlan, untuk sekali pentas, tak kurang 100 orang anggota mulai dari penari hingga pengrawit diterjunkan. Harga yang dipatok setiap kali tanggapan berkisar Rp 2 hingga 2,5 juta. "Kami melayani tanggapan di acara 17-an, HUT Desa, dan dari masyarakat sekitar. Sejauh ini tanggapan hanya wilayah desa kami," katanya.

Dia berharap agar Reog tak hanya identik dengan Kota Ponorogo. Dia ingin tari Reog juga akrab menjadi suguhan dan apresiasi seni di daerah lain, termasuk Desa Barukan.

(Moch. Kundori/CN26)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
22 Mei 2012 | 11:44 wib
Dibaca: 272
image
15 Mei 2012 | 11:00 wib
Dibaca: 564
image
13 Mei 2012 | 11:52 wib
Parenting Day "Bunga Bangsa"
Melatih Kesabaran dengan Membatik
Dibaca: 630
image
06 Mei 2012 | 18:34 wib
Dibaca: 1020
image
23 April 2012 | 17:33 wib
Dibaca: 1172
Panel menu tepopuler dan terkomentar
06 Mei 2012 | 18:34 wib
13 Mei 2012 | 11:52 wib
15 Mei 2012 | 11:00 wib
FOOTER