panel header


NABOK NYILIH TANGAN
Memanfaatkan Orang Untuk Melakukan Sesuatu
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
19 Desember 2011 | 10:37 wib
Cerita Korban Banjir Bandang Wonosobo
Bangun Tidur, Tahu-tahu Sudah di Luar Rumah
image

HUJAN deras yang mengguyur dataran tinggi Dieng, sejak Minggu siang kemarin, membuat udara di kawasan tersebut semakin dingin. Hawa dingin itu pun dirasakan oleh warga Desa Tieng Kecamatan Kejajar Wonosobo. Penduduk pun memilih berada di dalam rumah, sambil menonton televisi, berkumpul keluarga sambil menikmati makanan camilan penghangat tubuh. Bahkan ada pula yang tiduran di dalam kamar.

Sebagaimana dengan Alfian (14), siswa kelas III MTs Tieng. Cuaca dingin dan hujan deras membuatnya enggan ke luar rumah. Remaja putra ke dua dari empat bersaudara petani Tukhamit, Dusun Sidorejo Desa Tieng, memilih menghangatkan tubuh di bawah selimut dalam kamar dan tertidur pulas.

Pelajar MTs ini mengaku sama sekali tidak mengetahui peristiwa banjir bandang yang menimpanya. Alfian menyadari hal itu ketika punggungnya merasa sakit terbentur sesuatu. Ketika merasakan sakit, dirinya sudah berada di luar kamar dan terseret banjir bandang.

Meski punggungnya kesakitan, Alfian bisa menyelamatkan diri dari arus banjir bandang. Saat ini Alfian dirawat di RSU Seconegoro Wonosobo, kondisinya relatif membaik. Dia sendirian tanpa ditunggui keluarga. Alfian mengaku tidak tahu menahu keadaan orang tua maupun kakak dan adiknya.

Korban Layina (enam tahun) yang juga dirawat di RSU Seconegoro, kondisinya lebih serius. Sekujur tubuhnya lecet dan memar. Kepalanya juga mengalami luka. Sesekali, bocah perempuan yang masih diinfus dan diberi oksigen tersebut, mau muntah. Dia ditunggui kakek dan neneknya, sedangkan kedua orang tuanya Beni Ishak dan Yuli, masih dalam pencarian.

Rumah tinggal keluarga petani rusak/roboh diterjang banjir bandang yang melanda Desa Tieng. Kakek Mukmina (60 tahun) yang menunggui Layina di ruang/bangsal RSU, ketika ditemui Suara Merdeka, semalam, mengungkapkan bahwa cucunya tersebut menderita luka serius karena terseret banjir bandang sejauh 500 meter dari rumahnya.

Beruntung Layina terlepas dari arus banjir bandang dan ditemukan di jalan, sekitar 20an meter dari sungai kecil yang banjir dan airnya meluap. Kondisi siswa TK ABA Tieng itu sudah sadar, namun belum bisa diajak bercakap-cakap.

Masih Dicari

Petani Mat Azim (50), warga Tieng yang mengungsi bersama ratusan tetangganya di balai desa setempat, secara terpisah mengatakan, kakak iparnya M Nasikhun dan istrinya Ny Nafiah, sampai sekarang masih dalam pencarian. Adapun putrinya Trianti (35), meninggal dunia dalam bencana tersebut.

Mat Azim menuturkan, sebenarnya Trianti yang telah berkeluarga, saat ini tinggal di rumah korban tanah longsor Desa Tieng tahun 2010, di Dusun Rowojali. Namun secara kebetulan, perempuan muda yang sedang hamil tua, siang itu menengok orang tuanya M Nasikhun-Nafiah.

Sewaktu berkumpul bersama kedua orang tuanya, terjadi banjir bandang yang menerjang rumah petani malang tersebut. Banjir bandang yang membawa material batu-batu besar dari Gunung Pakuwojo, menimbulkan suara gemuruh menakutkan.

Mereka pun tak mampu menghindarkan diri dari musibah. Selain menghancurkan rumah, nasib petani M Nasikhun dan istrinya belum diketahui. Mereka termasuk di antara 10 korban yang dinyatakan hilang, belum ditemukan. Pencarian korban dihentikan petang kemarin dan akan dilanjutkan Senin pagi ini.

Terlebih sepanjang siang sampai petang, hujan terus mengguyur wilayah tersebut. Sehubungan dengan terjadinya musibah banjir bandang yang merenggut korban jiwa, ratusan penduduk setempat sejak sore mengungsi ke balai desa setempat. Mereka mengaku waswas tinggal di dalam rumah, terlebih hujan masih terus mengguyur.

Mereka tidur dengan alas tenda plastik yang tipis. Sehingga kesehatan anak-anak pun terganggu. Sebagian anak-anak mulai kembung perutnya. Kepala Dinas Kesehatan Wonosobo Drs H Junaedi MKes yang berada di tengah pengungsi, menyebut pihaknya menyiapkan 20 tenaga dokter dan perawat melayani mereka yang memerlukan.

Mereka siap melayani selama 24 jam. Untuk itu, pihaknya juga menambah obat-obatan maupun minyak angin. Bupati Wonosobo Drs HA Kholiq Arif MSi yang langsung meninjau lokasi bencana, semalam, menyampaikan keprihatinan dan duka cita mendalam kepada keluarga korban yang terkena musibah banjir bandang.

Bupati menyebut, seluruh biaya perawatan pada para korban ditanggung oleh Pemkab. Adapun untuk korban meninggal dunia, pihaknya akan memberikan tali asih. Untuk saat ini, lanjut H Khiloq, pemerintah dan petugas masih fokus melakukan pencarian terhadap 10 orang yang belum ditemukan.

(Sudarman/CN26)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
22 Mei 2012 | 11:44 wib
Dibaca: 272
image
15 Mei 2012 | 11:00 wib
Dibaca: 564
image
13 Mei 2012 | 11:52 wib
Parenting Day "Bunga Bangsa"
Melatih Kesabaran dengan Membatik
Dibaca: 630
image
06 Mei 2012 | 18:34 wib
Dibaca: 1019
image
23 April 2012 | 17:33 wib
Dibaca: 1172
Panel menu tepopuler dan terkomentar
06 Mei 2012 | 18:34 wib
13 Mei 2012 | 11:52 wib
15 Mei 2012 | 11:00 wib
FOOTER