panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
11 Desember 2011 | 23:09 wib
Esai Prie GS
Moment Istirahat
image

Saya menyukai kegiatan menikmati bepergian. Keadaan ini  karena banya saya datangi di tempat-tempat yang jauh. Menyukai  sesuatu tapi ada di balik sesuatu, adalah tidak mungkin. Saya menyukai sebelah sisi tetapi membenci sisi yang lain.
   
Saya kurang bisa menikmati tidur di hotel semata-mata karena ia adalah kamar yang asing. Tidur bagi saya adalah papan lantai kayu di rumah dan selimut membuat saya tertekan. Menikmati tempat-tempat yang indah, malah membuat saya kesepian karena hanya membuat saya makin kangen rumah. Bakat saya sebagai orang rumahan memang agak keterlaluan. Itulah yang saya sangka menjadi sumber masalahnya.
   
Persangkaan saya itu ternyata keliru. Masalah utama penyakit saya ini ternyata lebih pada itu harus di tempat tidur di lantai kaya, bahwa selimut itu harus selalu berupa sarung. Definisi karena istirahat  itu ternyata bisa di mana saja dan kamar pribadi itu bisa dibangun di mana saja.
   
Ketika sampil menunggu pesawat saya terkantuk-kantuk di ruang tungu, ketika saya mengusung suasana rumah di dalam ruang tunggu itu, ajaib, saya memperoleh suasana yang kantuk, tetapi karena saya sedang di ruang tunggu, saya tidak tidur tapi akal saya membatasi. Keduanya tidak pernah kompak, akibatnya tubuh dan jiwa saya menjadi korban tarik menarik pertengkaran yang celakanya saya  biarkan.
   
Hasilnya adalah kekelahan  dan perasaan penat luar biasa. Semakin lama bepergian saya, semakin tersiksa keadaan saya oleh rasa lelah, jenuh dan akhirnya sakit. Dan sakit itu adalah sakit yang khas saya, yang cuma muncul jika saya bepergian itu saja. Tetapi pengalaman tidur di istirahat itu sesungguhnya satu satu saja: yakni ketika tubuh menghendakinya.
   
Selama ini saya tidak adil kepada lelah dan kepada tubuh. Ia saya paksa mengikuti kehendak saya mengajaknya terus bekerja. Saat ia ingin tidur saya memaksanya terus terjaga hanya karena saya sedang tidak berada di kamar sayal ruang tunggu bisa juga menjadi ruang tidur kalau definisi tidur saya kembalikan ke dasarnya. Tidur itu tidak  harus telentang, tidak  harus berselimut sarung dan di lantai kayu.  Tidur itu juga boleh sambil duduk atau  kalau perlu sambil berdiri jua boleh.
   
Tegasnya, tidur itu tidak ditentukan oleh kapan dan di mana tapi lebih itu ternyata boleh berada di mana saja termasuk ketika saya sedang bekerja. Sambil ngotot bekerja, saya juga boleh sambil melemaskan otot. Jadi, selama ini saya keliru telah berlelah-lelah untuk sebuah persoalan yang mestinya saya boleh sambil santai-santai saja.

(Prie GS/b01m)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
03 September 2014 | 07:50 wib
Sleep Center Tunjungan Plaza
Terluas dengan Produk Premium
Dibaca: 66278
image
02 September 2014 | 20:19 wib
Dibaca: 48727
image
01 September 2014 | 16:07 wib
Jambore Sahabat Anak 2014
Kampanye Hak Anak Marginal
Dibaca: 50235
image
30 Agustus 2014 | 01:50 wib
Dibaca: 49746
image
27 Agustus 2014 | 07:32 wib
Spring Bed Motif Batik
Selaksa Tidur di Atas Awan
Dibaca: 6700
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER