
SAAT ini banyak ditemukan perias pengantin di kota Semarang, tetapi tidak banyak yang masih "nguri-uri" budaya Jawa. Hj Suci Yulianti, Spd, MM. adalah salah satu perias yang terkenal masih mempertahankan budaya jawa. Kecintaan dan kekagumannya pada kesenian Jawa, khususnya Jawa Tengah, membuat Suci, demikian panggilan akrabnya, juga dikenal sebagai seorang budayawan kesenian Jawa.
"Saya punya waktu dan kemampuan, kalau saya habiskan untuk arisan tidak produktif, akhirnya saya kursus untuk mengisi waktu. Saya ingin punya keterampilan agar saya bisa meningkatkan sumber daya manusia". Demikian tutur pemilik sanggar rias "Tiara Suci" yang terletak di daerah Manyaran.
Awalnya Suci tidak langsung terjun dan menekuni bidang rias dan kesenian Jawa melainkan melenceng jauh dari dunia itu. Keinginannya memiliki ketrampilan membuat ibu tiga anak ini mengikuti berbagai macam kursus, mulai dari kursus memasak, menjahit, dan ternyata semua itu cukup menjanjikan dan membuahkan hasil. Sampai akhirnya Suci mencoba untuk belajar seni merias wajah dimana ia melihat dunia kecantikan itu ternyata sangat luas, sehingga ia berkeinginan untuk mengembangkannya. Ketertarikannya pada dunia rias wajah lalu membawanya mengikuti banyak organisasi "Karena kalau tidak mengikuti organisasi, kita tidak akan tahu seberapa besar kemampuan kita dan kita tidak akan di kenal," ungkapnya.
Bangkit Kembali
Krisis moneter pada tahun 1998 adalah penyebab Suci Yulianti ingin mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Merasa telah menjadi korban krismon, menjadikan naluri kewanitaannya tersentuh, terutama sensitivitasnya pada lingkungan. Saat itu, Suci melihat banyak korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Pengangguran di mana-mana dan tingkat kejahatan pun merajalela, Ia pun ingin bangkit dengan segala potensi diri yang dia miliki yaitu ketrampilannya merias pengantin. Berkaca dari itu, Suci Yulianti membuka sanggar rias "Tiara Suci" pada tahun 1998 dan resmi di buka pada tahun 2002.
"Saya tidak mau hanya belajar merias, saya juga mulai belajar tentang adat dan budaya jawa," tambahnya. Ketertarikannya kepada budaya jawa membuat Suci ingin juga mempelajari secara dalam tentang budaya jawa mulai dari kesenian jawa, adat istiadat jawa, hingga filosofi jawa yang dipelajarinya dari kelompok - kelompok kebudayaan yang ada dan mulailah ketertarikannya akan budaya jawa dimulai dari sini.
Selain memiliki sanggar rias dan mengajar di sanggar tersebut, Suci juga pernah mengajar di LP wanita. Ia memberikan ketrampilan kepada napi wanita yang sudah akan habis masa tahannya. Puan ia juga memberikan pengajaran kepada anak jalanan, PSK, hingga kaum waria di jalan. Tak berhenti disitu, ia memberikan pengajaran tentang merias dengan memberikan sedikit modal dari pemerintah kepada mereka agar mereka dapat mengembangkan apa yang telah diberikan.
Kerjasama dengan Pemerintah
Sanggar Tiara Suci selama ini telah menjalin kerjasama dengan banyak pihak, diantaranta dengan Dinas Pendidikan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Sosial dan Organisasi Profesi dan Kemasyarakatan tingkat Nasional, Jawa Tengah dan Kota Semarang. Sejak berdiri pada tahun 2002, Sanggar Tiara Suci telah membina lebih dari 500 warga belajar yang tersebar di Kabupaten dan Kota Semarang, Demak, Kudus, blora, Jepara, Kendal, Grobogan, Wonosobo, yang hampir semuanya adalah wanita.
Sistem pendidikan mengacu pada standar kurikulum yang telah diakui Dinas Pendidikan, ditambah dengan teknik terbaru sesuai perkembangan teknologi. Ada pun materi pembelajarannya terdiri dari skill, knowledge dan attitude, dengan persentase pengajaran 70% praktik dan 30% teori. Pada evaluasi hasil pembelajaran dengan pendekatan aspek kognitif, apektif dan psikomotor.
Sanggar Tiara Suci yang berlokasi di Jl Borobudur Utara Raya 38 Semarang ini tidak hanya mendirikan sanggar rias saja, melainkan ada juga kesenian karawitan, membatik, dan perawatan tubuh (Spa). Di samping itu Suci Yulianti yang telah mengentaskan ke 3 anaknya menjadi "orang", salah seorang diantaranya menjadi dokter gigi, banyak berurusan dengan korban sosial seperti PHK, pengangguran, anak-anak jalanan, anak putus sekolah, PSK, waria, pekerja salon, bahkan warga binaan LAPAS untuk dididik menjadi tenaga terampil kewanitaan dan siap bekerja.