
Cicuk Sastro Sudirjo
DUNIA wayang orang masih ada. Salah satunya seni pertunjukan Ngesti Pandawa, yang berada di Kota Semarang. Cicuk Sastro Sudirjo merupakan salah satu pelestari kebudayaan wayang orang ini.
Generasi ke-6 "Dinasti" Ngesti Pandawa, Cicuk Sastro Sudirdjo yang lahir di Solo 18 Juli 1956 ini, sudah hampir 17 tahun memimpin seni pertunjukan wayang orang Ngesti Pandawa. Lelaki yang sering dipanggil Cicuk ini merupakan ahli waris dari kesenian wayang orang Ngesti Pandawa yang telah berdiri hampir 75 tahun.
Ngesti Pandawa didirikan pertama kali oleh Sastro Sabdo, Sastro Sudirdjo, Narto Sabdo, Mashuri dan Ani Sukanti pada tahun 1936 ini kemudian mulai dipimpin oleh Cicuk pada tahun 1994.
Ayah dari Cicuk Sastro Sudirdjo, almarhum Sastro Sudirjo salah satu pendiri Ngesti Pandawa yang mengajarinya untuk mengelola organisasi dalam kelompok seni ini. "Saya tidak ikut dalam pentas, karena orang tua saya hanya mengajari saya bagaimana mengelola organisasi di dalamnya," tuturnya, ketika ditemui sebelum pementasan wayang orang dimulai.
Lahir di dalam keluarga seniman, tidak mendorong Cicuk Sastro Sudirdjo untuk ikut terjun dalam dunia seni secara langsung. Tetapi rasa cintanya terhadap kesenian jawa dibuktikanya dengan memimpin seni wayang orang Ngesti Pandawa agar terus bisa berjalan.
Pemkot Terlalu Kecil
Pementasan kesenian wayang orang Ngesti Pandawa ditampilkan setiap Sabtu malam, pukul 20.30 yang bertempat di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Jalan Sriwijaya 29 Semarang ini masih tetap berjalan karena usahanya dalam menggandeng pemerintah untuk ikut serta dalam melestarikan kebudayaan seni wayang orang di Semarang.
Untuk membuat kesenian wayang orang terus berjalan, Cicuk Sastro Sudirdjo mengakalinya dengan menggandeng pemerintah provinsi Jateng meskipun pihak Pemkot sudah membantunya. "Dana dari pemkot terlalu kecil untuk menutupi biaya produksi, jadi ya terpaksa kami mengandalkan bantuan dari pemerintah provinsi", jelasnya ketika ditanya tentang anggaran dari pemerintah.
Biaya produksi dalam satu kali pentas setiap minggunya, seni pertunjukan WO Ngesti Pandawa memerlukan biaya Rp 3.500.00,00. Sedangkan hasil penjualan tiket setiap minggunya hanya Rp 500.000,00. Pendapatan dari hasil penjualan tiket tidak bisa menutupi biaya produksi, sehingga Cicuk mengandeng pemerintah agar kesenian ini terus berjalan.
Ngesti Pandawa memiliki 85 anggota yang terdiri bukan hanya kalangan tua saja, melainkan anak muda juga. Para anggota yang berumur remaja ini biasanya tertarik untuk bergabung karena ada dorongan dari orang tua mereka yang merupakan anggota Ngesti Pandawa.
Dalam upaya melestarikan kesenian ini, Cicuk Sastro Sudirdjo akan mengadakan perayaan seni wayang orang untuk merayakan hari jadi Ngesti Pandawa yang ke 75 pada tanggal 1 Juli 2012. Rencananya acara ini akan dimeriahkan oleh banyak kalangan. " Untuk tahun 2012 kerjasama dalam pementasan ini melibatkan anggota DPR komisi E, Fakultas Kedokteran UNDIP dan UNNES ".
Kesenian jawa kurang diminati oleh kalangan anak muda, jadi untuk mempromosikannya ke kalangan anak muda, Cicuk mempunyai cara sendiri, yaitu dengan mengikuti dulu alur mereka. Cicuk pernah bekerjasama dengan KCS (Komunitas Cah Semarang) untuk mementaskan kesenian, tetapi bukan dalam bentuk wayang orang dengan adat jawa melainkan dengan menampilkan cerita-cerita hero dari tokok-tokok fiktif seperti kesatria baja hitam. " Untuk menumbuhkan kesenian kepada anak muda kita harus pelan-pelan, ikuti alur mereka seperti yang mereka kehendaki lalu akan kita arahkan ke kesenian jawa".
Antusiasme masyarakat dalam menonton pentas kesenian wayang orang saat ini mulai bangkit. Kursi-kursi penonton pun sudah terisi lebih dari separuh ruangan. Rasa bangga pun muncul dari Cicuk Sastro Sudirdjo "Dulu untuk mencari penonton lebih dari 10 orang sangat susah, tapi Alhamdulillah sekarang setiap minggu ada lebih dari 50 orang yang menonton".