
Ada banyak keinginan untuk ‘’bisa’’, yang karena keadaan, sebagian sisanya karena kesempatan. Kesempatan itu jelas, cuma soal waktu. Sementara keadaan lebih lengkap cakupannya. Ia meliputi kesempatan, biaya, tenaga dan pikiran.
Tetapi karena begitu besar minat saya kepadanya ada beberapa soal yang saya lambat, refleks terlambat, ingatan terlambat. Pokoknya serba terlambat. Pada saat pertama kali mengenal piano, jari saya sudah terlalu terlambat untuk mengikuti kemauan tuts sebetulnya. Untuk bisa mengakurkan gerak jari kanan dan kiri saja sudah kesulitan luar biasa, apalagi harus memainkan lagu.
Saya ingat, lagu pertama yang mati-matian harus saya kuasai adalah Burung Kakatua dengan tempo yang sangat lambat pula. Itupun membutuhkan usaha demikian lama. Usaha pertama baru sebatasnya. Dipaksa berkali-kali tak juga bergerak . Ketika tangan kiri pelan-pelan mulai bergerak, kini datang tugas baru yang saya takuti: menggerakkan dua tangan bersama-sama.
Ajaib, hasilnya malah tidak bergerak sama sekali. Perintah otak mogok di dua tangan yang kehilangan koordinasi. Hafalan tangan kanan dan kiri yang sudah lancar saat bergerak sendiri, lenyap entah kadang saya harus menundanya barang sejenak. Kadang yang disebut sejenak itu harus ditambah sejenak lagi, sejenak lagi dan entah berapa jenak saya habiskan cuma untuk menaklukkan Burung Kakatua ini.
Jika hanya cuma bersandar pada hasil, saya hampir menyerah karena usaha saya diri sendiri, masak sih saya segoblok ini. Kempauan macam apa yang saya miliki ini sehingga cuma menyanyikan lagu sederhana ini saja gagal. Perasaan malu itu ternyata menguatkan usaha.
Akhirnya, entah bagaimana ceritanya, dua tangan saya itu berkoordinasi dengan sendirinya. Mungkin ia lelah pada usaha saya yang tak kenal lelah. Akhirnya Burung Kakatua itu tuntas juga. Target saya menarik kecukupan yang lain. Nyatanya, tanpa sadar sudah bertambah lagi jumlah lagu saya. Kini sudah meningkat ke lagu-lagu Koes Plus. Dalam waktu dekat malah akan saya tambahi lagi dengan lagu-lau Rhoma Irama. Menantang sekali rasanya menafsir lagu Darah Muda dengan piano.
Dengan kemampuan saya yang baru itu membuat saya percaya diri mengiringi pengamen yang datang ke rumah. Begitu mereka datang dengan gitarnya, saya menyambutnya dengan piano. Jam session istilahnya. Tegasnya ialah, ada sisa kemampuan yang kita tak tahu batasnya di mana. Pancing dia keluar kalau perlu dengan paksa.