
Di dunia ini mungkin hanya satu orang yang bisa menghubungkan antara penyakit Malaria dengan wayang orang. Di tangannya, dua hal yang sama sekali berbeda ini bisa ditaklukkan dengan mudah. Dialah Edi Dharmana. Kalangan kedokteran mengenalnya sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
Nama berikut gelarnya sangat panjang, Prof Dr dokter Edi Dharmana MSc PhD SpParK. Gelar terakhir berhubungan dengan spesialisasinya di bidang Parasitologi. Studi tentang parasit yang menginfeksi manusia. Salah satunya Plasmodium Falciparum, protozoa parasit yang menyebabkan penyakit malaria pada manusia melalui nyamuk Anopheles betina.
Sementara kalangan kesenian mengakrabinya sebagai Ketua Dewan Pembina Wayang Orang Ngesti Pandawa. Sejak tiga tahun lalu, pria kelahiran Salatiga, 12 Maret 1947 ini mengemban amanat untuk membangkitkan kembali grup yang dipopulerkan Ki Nartosabdo ini. Sebuah dewan yang beranggotakan para budayawan dan intelektual Semarang.
"Kedokteran dan wayang bagi saya sama-sama seni. Keduanya harus dijalankan dengan hati," katanya ketika dijumpai di gedung Ki Nartosabdo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.
Kecintaannya pada dunia wayang dimulai sejak Sekolah Dasar. Besar dalam lingkungan "mewah", tak membuat putra Bupati dan Wakil Walikota Salatiga, Kun Suhardjito ini acuh dengan kebudayaan. Sejak kelas 2 SD, Edi sudah belajar menari pada seniman Maryunani di sanggar Prayeko Budi, Gedung Makutoromo Salatiga.
Menginjak SMP, ia beralih nyantrik pada seniman S Maridi dari Solo. Bakat menarinya pun terasah tajam. Hingga ketika kelas 2 SMP sudah dipercaya ambil bagian dalam pagelaran kali pertama Sendratasik Ramayana di Candi Prambanan. Setelah itu, suami Edipeni Pramusinto (58) itu bertekad memperdalam ilmunya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI).
Sayangnya, jalan hidup tak menggiringnya menjadi seniman. Bapak dua anak ini justru kuliah di Fakultas Kedokteran Undip sejak tahun 1966. Namun, berkarib dengan mikroskop tak lantas membuatnya lupa pada kesenian. "Sepertinya seni, menari, sudah panggilan jiwa saya," kata doktor imunologi lulusan Radboud University Medical Center, Nijmegen, Belanda itu.
Meski di FK belum ada sanggar tari, tapi bersama beberapa mahasiswa, ia sering tampil dalam acara-acara insidental. Dies Natalis FK merupakan panggung tetapnya. Selain itu, kelompoknya juga tak sekali dua kali ditanggap dalam acara-acara hajatan.
Bahkan, setelah menjadi dokter, aktifitas berkeseniannya justru semakin banyak. Ia terlibat lagi dengan Ngesti Pandawa yang sudah diakrabinya sejak SMP. "Sejak belum kuliah saya sudah sering main bersama Ngesti. Dulu masih jaya, saya masih ingat main jadi Cakil dengan begawan-begawan seperti Sastrosabdo dan Darsosabdo," kenangnya.
Bersinar
Kini di bawah kendalinya, Ngesti sudah mulai kelihatan bersinar. Jumlah penonton yang lima tahun lalu hanya berkisar 20 orang, kini sudah menapak hingga 100-an. Pemerintah pun tak enggan lagi menoleh. Kucuran dana serta berbagai program kerjasama telah membuat Ngesti kembali dilirik orang.
Padahal menuju ke tempat sekarang sejatinya tidaklah mudah. Edi harus bergelut dengan kendala internal dan eksternal. Satu persatu penyakit itu diobatinya dengan tenang. Dari dalam, ia membenahi manajemen yang awut-awutan khas grup tradisional.
Kemudian menggenjot kreativitas awak Ngesti untuk menciptakan pertunjukan yang inovatif, segar, dan menarik secara visual. Beberapa diantaranya dengan memangkas durasi menjadi hanya dua jam dan mengubah dialog dengan bahasa yang lebih dimengerti awam.
Lalu, regenerasi pemain putri yang mandeg diakalinya dengan mendatangkan mahasiswinya di FK yang tergabung dalam Sanggar Tari Husodo Laras dan mahasiswi tari dari Universitas Negeri Semarang. "Biar di panggung ada yang bening-bening dan segar, bosan juga setiap kali hanya disuguhi cakil dan anoman," ungkap warga Ketileng Indah I No 66 itu.
Saat ini yang masih memusingkannya ialah pembenahan fasilitas gedung. Panggung yang kurang lebar, ruangan yang panas karena kurangnya AC, dan toilet yang kurang memadai, menurutnya membuat penonton tidak jenak menonton.
"Saya bercita-cita Ngesti bisa kembali jaya, bukan perkara mudah tetapi bukan berarti tidak mungkin," tutupnya seraya pamit untuk berias. Malam itu, dalam lakon "Pandawa Kembar" di acara Cah Nom Wayangan, Edi bergerak lincah sebagai Anoman, selincah pemikirannya membangkitkan seni tradisi Semarang.(Anton Sudibyo)
Biodata
Nama: Prof Dr dokter Edi Dharmana MSc PhD SpParK
TTL: Salatiga 12 Maret 1947
Orangtua: Kun Suharjito - Siti Mariam
Istri: Edipeni Pramusinto (58)
Anak: Dian Kartikasari (30), Intan Nurcahyani (25)
Pendidikan
S1 FK Undip
S2 Universitas Amsterdam Belanda
S3 Radboud University Medical Center, Nijmegen, Belanda
Diangkat jadi guru besar Parasitologi Undip 2005
Penghargaan Muri
1. Konsisten Main Wayang Sejak SD sampai Guru Besar, 2009
2. Pernikahan budaya, Gabungkan Tari Jawa dan Barongsay 2011