
Jalan-jalan raya di Indonesia di hari-hari ini sangat antaranya tokoh sungguhan, sebagian lagi ditokoh-tokohkan, dan sebagian lainnya menokoh-nokohkan diri. Tetapi tokoh itu nampang di mana-mana dengan pamrih aneka rasa.
Ada yang pamrihnya sekadar menonjolkan prestasi. Ada pamrih promosi dan ada pamrih mempopulerkan diri. Tetapi apapun pamrihnya, gambar tokoh itu di mana-mana memenuhi seluruh kota. Malangnya di dunia nyata, ketokohan itu sepi sekali. Di sini sibuk memasang baliho foto diri malah mengabarkan kepada kita, betapa sekarang ini setiap urusan bisa berjalan semua konteks sibuk mengedepankan konteksnya sendiri.
Karena itu meskipun ada keprihatinan ekologi, pembakaran hutan terus terjadi. Di Semarang, kota yang sedang saja dalam mengasapi penghuni. Jika angin sedang baik, ia akan ke sana, jika angin buruk ia kemari. Tapi sebenarnya tak ada angin baik tak ada angin buruk. Kalau angin itu sedang tidak kemari mengasapi kita, ia pasti sedang ke sana utnuk mengasapi mereka.
Di dalam konteks hidup bersama, sesungguhnya tidak ada kami dan tidak ada mereka. Yang ada hanyalah kita. Tapi di dalam masyarakat yang sakit, kedudukan kami urusan kami. Dan persoalan kami bukan urusan mereka. Inilah yang membuat desa yang bersebelahan bisa laten terlibat tawuran. Inilah yang membuat antar kelurahan, kecamatan, kabupaten dan provinsi tergerak untuk memiliki ego sektoralnya sendiri.
Jadi baliho-baliho yang berisi gambar tokoh itu, seperti tidak mengabarkan apapun kecuali ego kepentingannya sendiri. Indikatornya jelas: urusan sosial sedang penuh pembiaran mulai dari vandalisme lingkungan, sosial sampai vandalisme birokrasi. Di gerai-gerai ATM, publik bergelut dengan rasa cemas karena ia bisa diintip diperagakan secara terus terang karena hukum tidak lagi dianggap menakutkan. Mudah untuk menjawab soal ini. Penegak hukum itu, jika diusut juga terdiri atas pribadi-pribadi. Dan di tengah perlombaan kepentingn pribadi yang cuma dalam sekala kepentingan pribadi. Semua urusan tidak akan berjalan baik jika jika tidak ada kompensasi pribabdi. Semua urusan baru akan bergerak jika daya dorongnya adalah keuntungan pribadi.
Sementara pameran kepentingan pribadi sedang merajelela, jumlah foto yang setiap kali kita tatap di jalan-jalan raya itu juga merajalela. Hampir semua menawarkan kebaikan hati, yang di dalam kehidupan nyata, tak mudah kita temui.