panel header


DHUWUR WEKASANE, ENDHEK WIWITANE
Akhirnya Mulia, yang semula sederhana
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
02 Oktober 2011 | 22:25 wib
Esai Prie GS
Baliho Tokoh
image

Jalan-jalan raya di Indonesia di hari-hari ini sangat antaranya tokoh sungguhan, sebagian lagi ditokoh-tokohkan, dan sebagian lainnya menokoh-nokohkan diri. Tetapi tokoh itu nampang di mana-mana dengan pamrih aneka rasa.
      
Ada yang pamrihnya sekadar menonjolkan prestasi. Ada pamrih promosi dan ada pamrih mempopulerkan diri. Tetapi apapun pamrihnya, gambar tokoh itu di mana-mana memenuhi seluruh kota. Malangnya di dunia nyata, ketokohan itu sepi sekali. Di sini sibuk memasang baliho foto diri malah  mengabarkan kepada kita, betapa sekarang ini setiap urusan bisa berjalan semua konteks  sibuk mengedepankan konteksnya sendiri.
       
Karena  itu meskipun ada keprihatinan ekologi, pembakaran hutan terus terjadi. Di Semarang,  kota yang sedang saja dalam mengasapi penghuni. Jika angin  sedang baik, ia akan ke sana, jika angin   buruk ia kemari. Tapi sebenarnya tak ada angin baik tak ada angin   buruk. Kalau angin itu sedang tidak kemari mengasapi kita, ia pasti  sedang ke sana utnuk mengasapi mereka.
        
Di dalam konteks hidup bersama, sesungguhnya tidak ada kami dan tidak ada mereka. Yang ada hanyalah kita. Tapi di dalam masyarakat yang sakit, kedudukan kami urusan kami. Dan persoalan kami bukan urusan mereka. Inilah yang membuat desa yang bersebelahan bisa laten  terlibat tawuran. Inilah yang membuat antar kelurahan, kecamatan, kabupaten dan provinsi tergerak untuk memiliki ego sektoralnya sendiri.
          
Jadi baliho-baliho yang berisi gambar tokoh itu, seperti tidak mengabarkan apapun kecuali ego kepentingannya sendiri. Indikatornya jelas: urusan sosial  sedang penuh pembiaran mulai dari vandalisme lingkungan, sosial sampai vandalisme birokrasi. Di gerai-gerai ATM, publik bergelut dengan rasa cemas karena ia bisa diintip diperagakan secara terus terang karena hukum tidak lagi dianggap menakutkan. Mudah untuk menjawab soal ini. Penegak hukum itu, jika diusut juga terdiri atas  pribadi-pribadi. Dan di tengah perlombaan  kepentingn pribadi yang cuma dalam sekala kepentingan pribadi. Semua urusan tidak  akan berjalan baik jika jika tidak ada kompensasi pribabdi. Semua urusan baru akan bergerak jika daya dorongnya adalah keuntungan pribadi.
           
Sementara pameran kepentingan pribadi  sedang merajelela, jumlah foto yang setiap kali kita tatap di jalan-jalan raya itu juga merajalela. Hampir semua menawarkan kebaikan hati, yang di dalam kehidupan nyata, tak mudah kita temui.

(Prie GS/bnol)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
22 Mei 2012 | 11:44 wib
Dibaca: 271
image
15 Mei 2012 | 11:00 wib
Dibaca: 564
image
13 Mei 2012 | 11:52 wib
Parenting Day "Bunga Bangsa"
Melatih Kesabaran dengan Membatik
Dibaca: 630
image
06 Mei 2012 | 18:34 wib
Dibaca: 1019
image
23 April 2012 | 17:33 wib
Dibaca: 1172
Panel menu tepopuler dan terkomentar
06 Mei 2012 | 18:34 wib
13 Mei 2012 | 11:52 wib
15 Mei 2012 | 11:00 wib
FOOTER