
WAYANG beber termasuk generasi kedua setelah wayang batu yang ada di beberapa candi di Jawa. Disusul kemudian dengan kreasi wayang kulit yang kini paling banyak berkembang. Sebutannya saja wayang beber, karena wujudnya yang hanya berupa beberan lukisan wayang. Satu beberan lukisan panjangnya sekitar empat meter berisi empat adegan cerita.
Peneliti UNS Dr Warto yang melakukan penelitian tentang wayang itu mengatakan, sekarang ini tinggal yang di Pacitan yang masih eksis. Yang lain, seperti di Solo Raya yang memiliki pusat budaya Keraton Surakarta, dan Gunung Kidul, sudah lenyap tak ada bekasnya.
"Yang di Keraton Surakarta masih ada satu gulung beberan wayang. Tetapi sudah tidak ada lagi yang memainkan. Adapun yang di Gunung Kidul, juga sudah hilang tanpa ada yang melestarikan," kata dia.
Karena itu, tinggal di Pacitan inilah yang akhirnya didorong agar Pemda membantu upaya pelestarian wayang langka tersebut. Gayung bersambut, pemda ternyata antusias dan merasa terbantu dengan hasil penelitian UNS tersebut.
HM Fathoni SH MM, Kepala Dinas kebudayaan dan Pariwisata Pacitan mengakui, sebelumnya wayang yang menjadi aset budaya tak ternilai ini hampir saja punah. Apalagi setelah dalang trah terakhir, Ki Sumardi meninggal.
Keharusan Trah
Untuk mendalang wayang beber, memang ada keharusan trah Ki Nala Derma. Zaman majapahit, dia adalah orang yang berhasil menyembuhkan putri Raja Brawijaya ke-5. Namun ketika hendak diberi hadiah pangkat dan harta, dia menolak. Ki Nala Derma akhirnya diberi hadiah berupa wayang beber simpanan Prabu Brawijaya .
"Sampai ke Mbah Mardi yang trah ke-13 Ki nala Derma. Beliau tidak punya anak lelaki sehingga tidak bisa menurunkan upaya trah dalang itu. Sebab semua anaknya perempuan. Nampai lanjut, beliau sampai menderita batin karena tidak ada yang meneruskan," kata dia.
Akhirnya, pada tahun 2000, setelah melalui serangkaian cara , akhirnya Mbah Mardi membolehkan orang bukan trah menjadi dalang. Kebetulan ada kerabat jauh, Rudy Prasetyo, lulusan STSI Surakarta yang kemudian dikepyakne menjadi dalang. Sejak saat itulah wayang beber bisa digelar lagi sampai sekarang.
Paling tidak, Pemda Pacitan nanggap dua kali setahun, saat ulang tahun dan hari kebangkitan Nasional. Adapun masyarakat sekitar 'nanggap' ketika ada ruwatan, hajatan sedekah bumi dan lainnya. "Kami berterima kasih karena dari hasil penelitian UNS, akhirnya wayang beber terselamatkan dan bisa dilestarikan sampai sekarang," kata Rudy.
(Joko Dwi Hastanto/CN26)