panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
24 September 2011 | 10:54 wib
Wayang Beber Pacitan
Satu-satunya yang Masih Eksis Sampai Sekarang
image

WAYANG beber termasuk generasi kedua setelah wayang batu yang ada di beberapa candi di Jawa. Disusul kemudian dengan kreasi wayang kulit yang kini paling banyak berkembang. Sebutannya saja wayang beber, karena wujudnya yang hanya berupa beberan lukisan wayang. Satu beberan lukisan panjangnya sekitar empat meter berisi empat adegan cerita.

Peneliti UNS Dr Warto yang melakukan penelitian tentang wayang itu mengatakan, sekarang ini tinggal yang di Pacitan yang masih eksis. Yang lain, seperti di Solo Raya yang memiliki pusat budaya Keraton Surakarta, dan Gunung Kidul, sudah lenyap tak ada bekasnya.

"Yang di Keraton Surakarta masih ada satu gulung beberan wayang. Tetapi sudah tidak ada lagi yang memainkan. Adapun yang di Gunung Kidul, juga sudah hilang tanpa ada yang melestarikan," kata dia.

Karena itu, tinggal di Pacitan inilah yang akhirnya didorong agar Pemda membantu upaya pelestarian wayang langka tersebut. Gayung bersambut, pemda ternyata antusias dan merasa terbantu dengan hasil penelitian UNS tersebut.

HM Fathoni SH MM, Kepala  Dinas kebudayaan dan Pariwisata Pacitan mengakui, sebelumnya wayang yang menjadi aset budaya tak ternilai ini hampir saja punah. Apalagi setelah dalang trah terakhir, Ki Sumardi meninggal.

Keharusan Trah

Untuk mendalang wayang beber, memang ada keharusan trah Ki Nala Derma. Zaman majapahit, dia adalah orang yang berhasil menyembuhkan putri Raja Brawijaya ke-5. Namun ketika hendak diberi hadiah pangkat dan harta, dia menolak. Ki Nala Derma akhirnya diberi hadiah berupa wayang beber simpanan Prabu Brawijaya .

"Sampai ke Mbah Mardi yang trah ke-13 Ki nala Derma. Beliau tidak punya anak lelaki sehingga tidak bisa menurunkan upaya trah dalang itu. Sebab semua anaknya perempuan. Nampai lanjut, beliau sampai menderita batin karena tidak ada yang meneruskan," kata dia.

Akhirnya, pada tahun 2000, setelah melalui serangkaian cara , akhirnya Mbah Mardi membolehkan orang bukan trah menjadi dalang. Kebetulan ada kerabat jauh, Rudy Prasetyo, lulusan STSI Surakarta yang kemudian dikepyakne menjadi dalang. Sejak saat itulah wayang beber bisa digelar lagi sampai sekarang.

Paling tidak, Pemda Pacitan nanggap dua kali setahun, saat ulang tahun dan hari kebangkitan Nasional. Adapun masyarakat sekitar 'nanggap' ketika ada ruwatan, hajatan sedekah bumi dan lainnya. "Kami berterima kasih karena dari hasil penelitian UNS, akhirnya wayang beber terselamatkan dan bisa dilestarikan sampai sekarang," kata Rudy.

(Joko Dwi Hastanto/CN26)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
03 September 2014 | 07:50 wib
Sleep Center Tunjungan Plaza
Terluas dengan Produk Premium
Dibaca: 66278
image
02 September 2014 | 20:19 wib
Dibaca: 48727
image
01 September 2014 | 16:07 wib
Jambore Sahabat Anak 2014
Kampanye Hak Anak Marginal
Dibaca: 50235
image
30 Agustus 2014 | 01:50 wib
Dibaca: 49746
image
27 Agustus 2014 | 07:32 wib
Spring Bed Motif Batik
Selaksa Tidur di Atas Awan
Dibaca: 6700
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER