
Memasuki babak tengah puasa sudah ada perubahan pola konsisten hanyalah ritual buka dengan menggoreng mendoan dan perkedel jagung sebagai teman teh panas. Kami memang tidak akrap dengan minuman dingin. Serba panas itulah kegemaran kami sekeluarga. Sekali lagi: sekeluarga! Ini bukti bahwa selera bisa ditularkan. Aku bangga sekali ketika sejak kelas lima SD anak lelakiku sudah terampil menyeruput teh panas seperti simbah-simbah di desaku dulu.
Tetapi selebihnya, ritual yang lain mulai merosot. Lauk untuk buka puasa yang semulai banyak dimasak sendiri, kini mulai banyak diganti sayur hasil membeli. Apa artinya? Soal yang semulai dianggap sebagai ideologis kini diubah menjadi praktis. Berbuka di hari pertama sungguh dipersiapkan dengan sempurna. Nasinya begini, lauknya begitu, minumnya ini, camilannya itu. Semua hasil olahan dapur sendiri. Makan sahur pertama, kami kantuk ternyata tidak semudah mengalahkan lapar.
Untuk menggugahku istri malah perlu dua sesi. Pertama membangunkan, kedua menyadarkan. Aku memang sudah bangun, tapi belum sadar. Setelah sukses kantuknya sendiri. Sambil menggugahku bangun tidur, ia sering harus rebah di sebelahku untuk terancam kembali tidur. Jadi dorongan untuk tidur lagi secara kolektif anak lelakiku karena kini sudah butuh dipapah. Langkahnya yang semula semangat kini sudah diseret mirip zombie dan di ruang makan ia cuma kembali merebahkan diri.
Makan sahur dengan lauk kantuk semacam itu adalah makan yang butuh perjuangan. Keinginan terbesar kami bersama adalah melanjutkan tidur. Maka kunyahan pertama makan sahur edisi pelan-pelan, keadaan mulai terkendali. Di televisi mulai ada acara yang mengundang tawa terutama untuk anak-anakku. Tawa anak kami itu besar pengaruhnya bagi kami karena kegembiraan mereka adalah kegembiraan kami dan akhirnya menjadi kegembiraan bersama. Jika selera bisa ditularkan, begitu juga dengan kegembiraan.
Sahur yang terasa berat di awal itu, toh akhirnya terlewati. Besok, keberatan serupa memang akan datang lagi. Tetapi keberatan yang sama itu, setiap kami hadapi dengan usaha yang sama ternyata selalu berhasil dilewati. Kantuk yang sama, akan kami lawan dengan cara yang sama. Malas yang sama, akan kami atasi dengan upaya yang sama, yang malam sebelumnya keampuhannya telah terbukti.
Jadi intinya, persoalan yang benar-benar berat itu ternyata tidak ada, karena selalu tersedia alat peringannya. Keengganan menggunakan alat peringan itulah yang membuat setiap persoalan, bahkan yang ringan sekali manajemen waktu dan meremehkan waktu berbuka puasa, begitu setrusnya. Padahal, semua jenis argumentasi yang tampak mulia itu bisa jadi cuma berasal dari kelaparan di perut kita belaka. Jika lapar perut itu sejenak diabaikan, dan kepada istri kita menyodorkan tidak cuma pemahaman tetapi pertolongan, yang lambat itu tidak cuma akan menjadi cepat, tetapi malah akan merukunkan pasangan. (Prie GS)