
Kemacetan jalanan telah menjadi soal biasa. Karena ketika kemacetan ini terjadi saya juga bersikap biasa-biasa saja. Jengkel dan marah pasti. Tapi karena marah dan jengkel juga terjadi setiap kali maka keduanya juga harus dianggap biasa saja. Jadi semua soal di negara saya ini harus mulai dianggap sebagai biasa-biasa saja. Sudah tentu, ada bau kesedihan dengan kalimat terakhir ini, kalau tidak malah sudah sikap putus asa. Tapi ada jenis asa yang malah menguatkan hati kalau ia diputus. Jadi apa boleh buat.
Begtiu juga dengan kemacetan yang saya dan keluarga jalani di sebuah kesempatan ini. Kemacetan yang kami sambut dengan perasaan mendua. Satu sisi adalah refleks instink biasa yakni marah. Di sisi lain malah membuat kami bercanda menghibur diri. Bentuknya, banyak sekali dari kami mematikan mesin lalu keluar dari mobil untuk bercanda-canda. Malah ada sebagian sopir truk turun untuk kencing lalu merokok sambil rebahan di jalanan.
Reaksi ini sesungguhnya hanya menegaskan betapa parah sebetulnya kemacetan ini. Karena sehebat apapun kemacetan jika seluruh mesin kendaraan masih menyala dan para sopir masih bertahan di dalam, itu tanda masih ada harapan. Tetapi ketika duduk di belakang stir sudah dianggap tak banyak gunanya lagi, itulah tanda bahwa keadaan sudah tak terkendali.
Karena memang ada yang aneh dari situasi kami ini. Seluruh kendaraan bisa berhenti dari dua sisi dari sana dan sini. Jelas sudah, sumber kemacetan yang belum kami tahu itu tidak lagi tunggal tapi jamak. Ada dari sana dan ada dari sini. Bisa juga mulai dari sana dan bertambah lagi di sana untuk kemudian bertambah lagi di sana dan sini. Sopir-sopir yang telentang di jalanan itu adalah bagian dari kepasrahaan mereka pada keadaan karena tak jelas akan berlangsung sampai kapan.
Ketika akhirnya, setelah sekian lama antrean bergerak pelan, setindak demi setindak kami sampai pula di titik utama kemacetan, agak heran juga saya ketika penyebab utama kemacetan itu ternayata adalah kegiatan rutin perbaikan jalan saja. Ini kegiatan biasa dan tak istimewa. Yang istimewa ialah ketika soal yang biasa ini menjadi luar biasa dan penyebab utama ini tidak lagi menjadi utama. Memang teknik buka-tutup jalan jadi tak terhindarkan.
Sebentar sini berjalan, sebentar sana berjalan. Tapi tak ada yang perlu dicemaskan dari kegiatan semacam ini jika persoalannya cuma harus bergantian. Bahwa sejenak perjalanan butuh berhenti dan pelan, tak perlu ditakutkan. Jalan bergiliran bukan sesuatu yang menyakitkan. Beratnya antrean bukanlah karena ia pendek atau panjang, melainkan ketika ada satu yang pihak saja yang mulai gagal patuh pada urutan. Padahal pihak itu akhirnya bukan cuma sepihak tapi berpihak-pihak.
Mental berebut itulah akhirnya biang kemacetan total ini. Buka-tutup jalan itu sendiri soal biasa,. Sederhana dan demi kebaikan pula. Tetapi ketika ada satu kendaraan dari sini yang nyelonong g, maka seluruh arus akan terhenti. Padahal yang nyelonong itu tidak cuma dari sini, tetapi juga dari sana. Yang sini nyelonong yang belakang mengikuti. Yang sana nyelonong yang belakang juga mengikuti. Akhirnya sumber kemacetan itu lengkap sekali dan soal yang mestinya sederhana menjadi rumit sekali. Ini penegasan sekali lagi, betapa samakin rakus seseorang akan membuat isi dunia yang mestinya tak habis dibagi-bagi ini malah tidak akan mencukupi.