
BERKARAOKE bareng teman, lupa anak istri. (Foto CyberNews / Bambang Isti)
BERADA sejenak di dalam bilik "Arena Asyiik" bersama teman-teman, adalah solusi tepat untuk sejenak melupakan rutinias keseharian.
Bilik itu berada di sebuah booth persisnya arena "Sampoerna Kretek Asyiik Fest 2011", sebuah acara yang digelar di lapangan Aspol, Kalibliruk, Slawi, Tegal Sabtu (9/7) lalu. Acara pementasan musik dengan agenda utama final lomba berbagai kategori, yakni joget, karaoke dan lipsync.
Untuk meramailan acara itu, dibangun beberapa booth yang berisi sarana permainan (games) bagi penonton usia dewasa (18 tahun ke atas). Karena, sesuai peraturan pemrintah, hanya merekalah yang bisa masuk di arena lapangan yang disponsori produk rokok. Selebihnya, bagi penonton anak-anak atau wanita hamil, haram hukumnya.
Hobi menyanyi.
Di booth "Arena Asyiik" ada beberapa fasilitas tersedia, ruang karaoke, foto mejeng, lipsync (menirukan gerak bibir penyanyi). Lihat saja, Supono yang berprofesi sebagai satpam ini, sengaja datang ke acara itu, karena dia mengaku memang hobi menyanyi.
Suara fals dan nyaris tak pernah bisa mengikuti ritme irama (out of tempo) dari lagu yang diputar di karaoke player, bukan masalah. faktanya ia etap "pede aja lagi".
"Saya memilih lagu-lagu lama, karena lagu-lagu itu yang bisa saya hapal. Lagu-lagu sekarang saya nggak mudeng," kata lelaki berusia 43 ini jujur.
Sementara Supono menyelesaikan lagu "Hatimu Hatiku"nya Titik Sandhora - Mukhsin, peserta karaoke di sebelahnya, yakni Marjuki hanya tertegun, tapi diam-diam juga mengikuti lagunya. Tampak Marzuki ingin sekali merebut mikrofon yang dimonopoli Supono.
Benar juga, begitu Supeno menuntasi lagunya, segera saja Marjuki menyambar mikrofon. Kali ini yang dipilihnya lagu milik Basofi Sudirman "Tidak Semua Laki-laki". Namun akankah Marjuki lebih baik dari Supono? Tidak juga.
Acara ini terutama yang terdapat di "Arena Asyiik", memang bukan arena unjuk diri. Tapi esensinya adalah betapa asyiknya berteman, berada di dalam situasi di mana optimisme dalam kebersamaan adalah penting.
(Bambang Isti/CN 25)