panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
19 Maret 2011 | 18:17 wib
Tulis Buku di Tengah Kesedihan
image

KETEGARAN Prof Bacharuddin Jusuf Habibie patut diacungi jempol. Meski hatinya tengah hancur karena ditinggal sang istri, Hasri Ainun Besari menemui ajal, tetapi Mantan Presiden RI itu berusaha tetap semangat beraktivitas, termasuk melakukan penelitian serta pengembangan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang memang telah menjadi santapan rutin.

Dia mengakui, tidak bisa langsung kembali beraktivitas usai ditinggal pergi istri kesayangan untuk selamanya. Perlahan, kesedihan itu mulai disingkirkan dengan mengumpulkan catatan-catatan yang ditulis sejak Ainun mulai terdeteksi sakit keras hingga menghadapi masa-masa kritis. Kumpulan catatan itulah yang kemudian menjadi buku "Habibie dan Ainun" atas usulan beberapa kerabat dekat.

"Katanya, buku tentang ungkapan hati saya menghadapi masa kritis istri, berpotensi laku keras. Saya sih prinsipnya bagi pengalaman. Tapi setelah saya cek, ternyata benar, belum genap satu bulan sudah banyak orang yang mencari," kata dia di sela kuliah umum bertema 'Perkembangan Teknologi dan Wawasan Kebangsaan' di Gedung Prof Soedarto Universitas DiponegoroTembalang, Semarang, Sabtu (19/3), yang dihadiri Rektor Undip Prof Sudharto P Hadi MES PhD beserta jajaran Pembantu Rektor dan Dekan.

Habibie menceritakan, hatinya mulai tercabik sejak Ainun masuk ke Rumah Sakit Ludwig Maximilians-Universitat, Klinikum Grohadern, Munchen, Jerman hingga menjalani sembilan kali operasi.

Saat itu, bisa dibilang masa vakumnya dari dunia iptek. "Jiwa dan raga total mengurus Ibu karena saya benar-benar mencintainya. Semoga kami bisa bertemu kembali di Akhirat kelak," pintanya, diiringi isak tangis.

Kecintaan itu pula yang mendorong Mantan Menteri Ristek era Soeharto itu rela pindah sementara ke Jerman guna memperlancar pengobatan sang istri, meski sebetulnya jiwa nasionalisme membuatnya berat meninggalkan Tanah Air. Pengobatan itu total dibiayai dengan asuransi yang telah dibayar preminya sejak awal pernikahan Habibie-Ainun. "Untung ada asuransi, kalau tidak, mungkin saya tak mampu. Setelah ini, saya akan lebih banyak di Indonesia," tuturnya.

(Hadziq Jauhary/CN26)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
22 Mei 2012 | 11:44 wib
Dibaca: 271
image
15 Mei 2012 | 11:00 wib
Dibaca: 564
image
13 Mei 2012 | 11:52 wib
Parenting Day "Bunga Bangsa"
Melatih Kesabaran dengan Membatik
Dibaca: 630
image
06 Mei 2012 | 18:34 wib
Dibaca: 1019
image
23 April 2012 | 17:33 wib
Dibaca: 1172
Panel menu tepopuler dan terkomentar
06 Mei 2012 | 18:34 wib
13 Mei 2012 | 11:52 wib
15 Mei 2012 | 11:00 wib
FOOTER