panel header


ALON ALON WATON KELAKON
Pelan Pelan Saja Asal Berhasil
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
22 Desember 2010 | 19:25 wib
Geluti Usaha Bioetanol, Pak Mit Pantang Menyerah
image

MEMASUKI masa pensiun bukan berarti tidak bisa berkarya. Itulah yang tertanam di benak Fransiskus Mitoyo. Bapak dari tiga anak ini merupakan pensiunan salah satu institusi di Pemprov Jateng. Usai purna tugas, Pak Mit demikian Fransiskus Mitoyo akrab disapa mencari sejumlah kesibukan untuk mengisi hari tuanya.

Pak Mit mencoba beraktivitas di sektor UMKM. Usaha yang diliriknya energi alternatif pengganti minyak tanah yakni bioetanol. Ia mengaku telah hampir satu tahun bergelut dengan usaha ini.

Ketertarikannya pada bioethnol berawal dari keikutsertaanya dalam seminar tentang perlunya energi pengganti. Saat seminar itu, pembicara menjanjikan bila nantinya ada yang menjalankan usaha tersebut, berapapun hasil produksinya akan ditampung oleh pengepul.

Tanpa banyak pikir panjang, Pak Mit tertarik. Ia pun langsung mencari referensi terkait usaha energi ramah lingkungan itu. Setelah dirasa memiliki cukup referensi, suami Maria Cicilia Indriyani itu memutuskan untuk menggeluti usaha di bidang energi alternatif tersebut.

Sebulan menjalankan usahanya, semua hasil produksi lancar disetorkan. Namun hingga beberapa bulan kemudian, plasma yang sedianya menampung hasil produksi para pengrajin mulai goyang. Melihat gelagat itu Pak Mit pun memutuskan untuk lepas dari plasma dan berusaha mencari pasar sendiri.

Tentunya mencari pasar sendiri tidaklah mudah, sebab itulah Mitoyo mulai menggandeng banyak pihak untuk memasarkan bioetanol produksinya. "Saya sih siap-siap saja menyuplai bioetanol dalam jumlah berapapun, tapi kalo tidak ada pasar yang menyerap buat apa saya produksi banyak," ungkapnya.

Menurut Pak Mit, masyarakat yang ketakutan dengan banyaknya berita ledakan elpiji, kembali melirik minyak tanah sebagai bahan bakar kompor. Padahal, imbuhnya, dengan menggunakan bioetanol kemampuan panas dan pembakarannya hampir mendekati elpiji. Itulah yang membuat Pak Mit mencoba bekerjasama dengan pengrajin untuk membuat kompor khusus bioetanol.

"Pengrajin kompor bioetanol banyak, dan masyarakat yang membeli kompor itu lumayan banyak juga. Kendalanya saat mereka akan membeli bioetanol untuk bahan bakarnya susahnya minta ampun, hal itulah yang membuat kompor bioethanol cuman menjadi hiasan di rumah," tuturmya.

Dengan mensinergikan kompor dan bioetanol, diharapkan warga yang membeli kompor tidak perlu bingung-bingung lagi mencari bahan bakarnya. "Saya siap memasok berapapun jumlahnya, kalaupun ada warga yang datang dan hanya beli satu liter bioetanol pun tetap akan saya layani," kata Pak Mit sungguh-sungguh.

Pak Mit sendiri saat diwawancarai Suara Merdeka CyberNews mengungkapkan usaha yang dijalankannya mampu menghasilkan 100 liter bioetanol seharinya. Sementara pengusaha bioetanol semacam dia sudah banyak dan siap memenuhi berapapun permintaan pasar.

Meski bisa menjadi alternatif elpiji ramah lingkungan, namun sayangnya menurut Pak Mit usaha itu belum juga mendapat restu dari pemerintah, sehingga harus berjuang jatuh bangun mencari pangsa pasar sendiri.

Meski begitu pria kelahiran Tambangan, Mijen, Semarang itu tak sedikitpun menunjukkan sikap putus asa. Dia tetap optimis usaha yang dijalaninya saat ini nantinya akan dilirik masyarakat dan menjadi barang subtitusi minyak tanah yang lebih aman penggunaannya dibandingkan elpiji.

Semua Dimanfaatkan

Pak Mit menuturkan, bahan-bahan pembuatan bioetanol berasal dari tetes tebu yang kemudian disuling. Hasil sulingan itulah yang akhirnya menjadi bioetanol dengan tingkat prosentase macam-macam. Biasanya produk bioetanol terbaik dengan prosentase di atas 90% didapat dari hasil sulingan yang pertama keluar. Setelah sulingan awal ini, berturut-turut prosentase kadar bioetanol makin berkurang.

Meski kadarnya makin berkurang, bioetanol dengar kadar prosentase rendah tetap masih bisa digunakan sebagai bahan bakar kompor.

Dalam satu kali sulingan sebanyak 400 liter tetes tebu bisa memakan waktu selama 8 jam itu, yang kadarnya mampu mencapai 90% hanya sebanyak 5-10 liter saja. Sekitar 30 liter sisanya kadar prosentasenya dibawah 90%. Sisa ini menjadi bahan bakar kompor.

Tak hanya itu, sisa sulingan tetes tebu juga bisa dijadikan pupuk organik. "Semuanya berguna dan bisa dimanfaatkan, sehingga tidak ada satu pun liter limbah dari hasil penyulingan tetes tebu menjadi bioetanol ini," ungkapnya.

Pak Mit dengan mimik serius mengungkapkan, bioetanol itu lebih aman lingkungan dan tidak membahayakan bila dibandingkan dengan elpiji maupun minyak tanah, serta lebih hemat dibandingkan dengan minyak tanah. Sehingga menjadi pilihan yang tepat bagi mereka yang takut akan elpiji untuk beralih ke bioetanol. "Apalagi harga bioethanol perliter hanya Rp 6.000 sehingga lebih murah dibandingkan minyak tanah non subsidi," tutup Pak Mit.

(wisanggeni/CN16)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
22 Mei 2012 | 11:44 wib
Dibaca: 271
image
15 Mei 2012 | 11:00 wib
Dibaca: 564
image
13 Mei 2012 | 11:52 wib
Parenting Day "Bunga Bangsa"
Melatih Kesabaran dengan Membatik
Dibaca: 630
image
06 Mei 2012 | 18:34 wib
Dibaca: 1019
image
23 April 2012 | 17:33 wib
Dibaca: 1172
Panel menu tepopuler dan terkomentar
06 Mei 2012 | 18:34 wib
13 Mei 2012 | 11:52 wib
15 Mei 2012 | 11:00 wib
FOOTER