
Rifki Balwell - Risty Tagor
Oleh Er Maya Nugroho
BAGAI mode yang berulang dan tengah menjadi tren, fenomena kawin muda kini sepertinya sedang diminati kalangan remaja. Seperti juga dialami pasangan muda pesohor negeri ini, Risty Tagor dan Rifky Ballwell yang sepakat menikah muda.
Sebuah hal yang positif, ketika menilik pengalaman 'senior'nya di dunia selebriti, Risty dan Rifky lalu berusaha meneladani pasangan Ferdy Hasan dan Safina atau Tengku Firmansyah dan Cindy Fatikasari, yang memutuskan menikah muda dan sampai kini masih membina rumah tangga yang harmonis.
Adalah alasan realistis keduanya untuk berumah tangga, seperti diungkap paman Risty, Tauhid Tagor, "Karena mereka mendamba memiliki anak dan cucu kelak, dalam usia yang masih produktif"
"Yang terpenting, ketika keduanya sudah mantap membina rumah tangga di usia muda, yang kita lihat adalah mental dan kesiapannya, Insya Allah mereka bisa," tambahnya.
Ya, tak hanya sekedar siap secara mental, pekerjaan yang terbilang mapan dan penghasilan yang cukup, juga menjadi alasan Risty dan Rifky untuk segera mengakhiri masa hura-hura itu dan kini siap menjalani kehidupan panjang berumah tangga.
Dulu dan kini
Dulu, orang tua memang menolak anaknya menikah muda karena berbagai alasan. Kisah Siti Nurbaya cukuplah menjadi contoh. Dijodohkan, nikah muda dan lalu mati sia-sia. Namun kenyataannya, kini justru banyak remaja yang memutuskan kawin muda. Mengagetkannya, ini terjadi pada sebagian remaja-remaja di ibu kota.
Nia Ramadhani yang dinikahi pengusaha muda, Aldi Bakrie merasa keputusannya menikah muda adalah tepat. Tak lagi sebatas merasa asyik, namun menikah muda baginya adalah sebuah kebebasan karena hubungan itu sudah 'dihalalkan' dalam satu ikatan suci pernikahan.
Seperti juga pengakuan Irma (16) pelajar SMA Swasta di Semarang yang melihat menikah muda sebagai pilihan tepat yang patut dicoba agar terhindar dari perbuatan dosa, seperti hubungan seks sebelum menikah.
Namun, semua itu kembali pada pilihan masing-masing. Karena perlu persiapan matang untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah dipilih. Toh, pernikahan memang tak hanya menyoal seks dan menjaga kehormatan saja. Dan jika merasa belum mampu menjaga syahwat, Rasul pun bersabda, "maka berpuasalah kamu.."
Nikah Muda = Cerai?
Namun keberanian menikah muda tanpa mempertimbangkan banyak sisi memang hanya akan menjadi masalah dikemudian hari. Dan bukannya ingin mengecilkan hati para pengikut 'nikah muda', tetapi tampaknya masih banyak perkawinan usia muda yang berbanding lurus dengan tingginya angka perceraian, apalagi di daerah-daerah.
"Kebanyakan yang gagal itu karena kawin muda. Namun dalam alasan perceraian tentu saja bukan karena alasan kawin muda, alasan ekonomi dan lain sebagainya juga jadi pertimbangan. Tetapi masalah tersebut tentu saja sebagai salah satu dampak dari perkawinan yang dilakukan tanpa kematangan usia dan psikologis," ungkap psikiater, H. Prof. Dr. dr.Dadang Hawari, dari Universitas Indonesia.
Mati Sia-sia
Usia muda yang sarat dengan gejolak dan hasrat yang menyalak keluar raga, berbanding lurus dengan tingkat reproduksi yang tinggi. Kelahiran buah cinta kemudian menjadi perjuangan mati-matian ibu muda usia dalam menjalankan kodrat kewanitaannya. Berdasar catatan Ubaydillah, 2000 yang dilansir CyberNews, kehamilan usia muda beresiko terhadap kandungan dan nyawa sang ibu dan janinnya.
Pasalnya, emosional ibu muda belum stabil sehingga kerap dihampiri perasaan tegang dan takut melahirkan. Sementara kecacatan kelahiran bisa muncul akibat tegang saat hamil, pun timbulnya sikap 'menolak' karena ibu belum siap mengandung bayinya di usia muda.
Ibarat remaja masih perlu tumbuh meranum, tubuh mereka harus siap mengandung janin yang terus berkembang. Adanya faktor gizi, pengetahuan ibu hamil hingga emosional yang labil tentu saja menjadi penentu kualitas dari janin yang dilahirkan. Dan menurut ahli jiwa, dr. Zainie Hassan A.R.Sp.K.J, kematian ibu melahirkan terkait juga dengan ketaksiapan ibu muda dalam menghadapi kehamilan dan kelahiran.
Banyak Sisi
Idealnya, menurut UU No 1 tahun 1974 tentang perkawinan, usia dewasa dalam menapaki tangga pernikahan adalah perempuan berusia minimal 16 tahun dan laki-laki berusia 19 tahun. Namun realitanya, kematangan seseorang tak hanya diukur dari usia saja, tetapi juga bergantung pada tingkat emosional, latar belakang pendidikan, sosial dan banyak sisi lainnya.
Seperti halnya Risty dan Rifki yang menikah muda karena pertimbangan merasa sudah siap mental. Ya, karena faktanya usia bisa saja menipu, karena kedewasaan seseorang tak hanya menilik dari berapa usia kita. Namun, yang terpenting dari sebuah keputusan menikah muda adalah kesediaan melihat lebih dalam lagi apa sebenarnya tujuan berkeluarga dan membina rumah tangga.
Seperti yang diuraikan dalam fungsi keluarga versi BKKBN, bahwa pasangan yang menikah kelak harus berpikir jauh ke depan, melihat juga dari sisi kualitas sebuah keluarga yang meliputi agama, sosial budaya, kasih sayang, perlindungan, reproduksi sehat, sejahtera, sosialisasi pendidikan, ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Persoalannya nanti tak hanya sekedar menyatukan perbedaan selera atau cara pandang dan juga cinta, tetapi akan ada hal-hal kompleks yang mengiringinya. Mulai dari masalah ekonomi, budaya, reproduksi sehat, juga pendidikan hingga keluarga besar.
Benar jika menikah muda seperti layaknya tren mode. Namun bijaknya harus mempertimbangkan pas atau tidaknya tren mode itu melekat pada diri Anda. Jadi, sudah siapkah menikah muda?
(maya/CN19)