
Foto-foto Wisnu G Murti
BUKAN Jaya Suprana jika tidak melahirkan hal-hal gigantis, kontroversial, dan menerobos kelaziman. Karena itu tidak perlu heran jika pada 18 Desember, ia memprakarsai pementasan pertunjukan 100 pemain wayang orang dalam lakon Banjaran Gatotkaca --dari Bharata dan Sriwedari-- di Sydney Opera House, Sydney, Australia. Bagaimana seniman serbabisa ini meyakinkan manager produksi gedung opera yang megah itu? Apa saja yang dilakukan Jaya untuk mewujudkan impian tersembunyi menyelamatkan wayang dari kepunahan? Berikut perbincangan dengan pria penuh tawa itu di Jakarta, belum lama ini.
Sydney Opera House dikenal selektif dalam mempertunjukkan berbagai pergelaran. Apa yang membuat mereka bersedia mementaskan Banjaran Gatotkaca?
Karena adanya beberapa jaminan mutu. Pertama, karena ajuan datang dari Optus yang sudah dikenal Sydney Opera House sebagai promotor berbagai kegiatan kebudayaan tingkat internasional. Kedua, sebab penanggung jawabnya adalah saya yang sudah pernah manggung di Sydney Opera House. Ketiga, akibat kehendak Tuhan, maka kebetulan masih tersisa satu hari jadwal yang masih kosong di gedung opera megah itu pada akhir 2010 yang menjadi rebutan para seniman dan grup seniman dari seluruh dunia. Saya senantiasa dan niscaya yakin dengan kehendak Tuhan, apa pun di dunia ini, apalagi pementasan wayang orang, bisa terlaksana.
Mengapa Anda memilih wayang? Apakah Anda punya masa lalu yang intim dengan wayang? Karena mahaguru Anda, Ki Nartosabdo, meminta Anda untuk menyelamatkan wayang?
Memang almarhum mahaguru saya, Ki Nartosabdo, meninggalkan warisan pesan agar saya menyelamatkan wayang orang dari kepunahan. Di sisi lain, saya memang merasa akrab dengan wayang purwa melalui berbagai sumber bacaan terutama komik karya RA Kosasih yang kemudian saya perdalam di perpustakaan Jerman mengenai Mahabharata dan Ramayana. Wayang purwa saya simak dari komik karya Ardisoma.
Pada masa studi di Jerman, saya sempat dikagumi kaum intelektual Jerman sebagai ahli kesusasteraan kuno Indonesia yang tanpa rasa malu saya akui memang berasal dari membaca komik. Sama halnya komik Asterix telah resmi masuk Kindler Literatur Lexikon. Komik merupakan bentuk media yang memang potensial menyampaikan pesan-pesan filosofis melalui jalur seni-sastra yang tidak kalah bahkan bisa lebih komunikatif ketimbang syair, novel, esei, drama, dan lain-lain. Yang menentukan kadar mutu adalah kandungan isi bukan kemasan luar suatu media kesenian.
Apakah Anda yakin dengan mementaskan di Sydney Opera House wayang orang --yang hampir punah-- ini terselamatkan?
Penyelamatan kebudayaan merupakan perjalanan panjang maka mustahil dirampungkan dengan ayunan satu langkah saja. Pementasan wayang orang di Sydney Opera House hanya merupakan salah satu mata rantai dari ribuan mata rantai lain sebagai upaya penyelamatan karya kebudayaan yang terancam punah.
Beruntung masih begitu banyak pejuang kebudayaan yang sudi menyelamatkan bahkan mengembangkan wayang orang Bharata di Jakarta, Sriwedari di Solo dan Ngesti Pandawa di Semarang. Pergelaran wayang orang di Sydney hanya setetes air di tengah samudera nan meluas dan mendalam seolah tak kenal batas. Dan saya hanya merupakan peprakarsa, provokator, biang keladi saja.
Tanpa dukungan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Sydney, Sydney Opera House yang sampai sudi datang ke Jakarta, Optus, Telkomsel, BCA, Djarum, Nexian, Astra, Garuda, Jamu Jago, Kompas, TVOne, Suara Merdeka, bahkan TV3 Malaysia dan lain-lain, saya sama sekali tidak mampu merealisasikan prakarsa, provokasi, dan kebiang-keladian saya. Impian-mustahil saya bisa saja tetap bertahan sebagai impian belaka sampai akhir zaman.
Bagaimana metode penyelamatannya? Dengan mementaskan ”wayang asli” atau memperbarui di sana-sini?
Metode penyelamatan harus holistik dan berkelanjutan konsisten-konsekuen dalam suasana gotong royong termasuk pembaruan di sana-sini jangan sampai dipaksakan. Mustahil saya seorang diri mampu menyelamatkan karya kebudayaan yang terancam punah termasuk wayang orang. Selama memang belum benar-benar mati, pada hakikatnya tidak ada karya kebudayaan asli mampu bertahan dalam kondisi beku namun pasti terus mengalami evolusi transformasi dan modifikasi. Wayang orang pada masa dulu kala pasti tidak menggunakan teknologi pengeras suara, tata-sinar laser dan tata-dekor dengan teknologi multimedia.
Yang kini dianggap asli tradisional dahulu pasti sempat dianggap kreasi baru yang benar-benar baru akibat memang sebelumnya belum pernah ada. Sebenarnya apa yang saya lakukan dalam bentuk sangat terbatas ini diharapkan bisa menjadi inspirasi dan motivasi penggerak mekanisme proses pengembangan kebudayaan seperti proses pengembangan bola salju yang semula sangat kecil kemudian terus-menerus akumulatif membesar.
Anda pernah mengatakan wayang orang merupakan bentuk seni paling komplet. Anda bandingkan dengan apa sehingga sampai bersimpulan semacam itu?
Bagi saya wayang orang adalah bentuk kesenian teatrikal yang paling paripurna! Karena di dalam wayang orang terkandung bentuk seni sastra, seni tari, seni suara, seni musik, seni teater, seni puisi, seni rupa, seni humor, seni orkestra, seni teknologi bahkan seni akrobat yang tergolong olahraga. Di bandingkan dengan opera barat dan opera china, saya berani menyatakan bahwa opera jawa alias wayang orang adalah bentuk seni opera yang paling komplet alias paripurna.
Anda juga pernah mengatakan gamelan sebagai orkes agung yang hanya bisa diperbandingkan dengan orkes barat. Benarkah?
Benar banget ! Di dunia memang hanya ada dua orkes agung, yakni orkes simfoni yang berakar di lahan kebudayaan Barat dan orkes gamelan yang berakar di lahan kebudayaan Nusantara. Mohon maaf kepada India dan China sebab mereka sebenarnya hanya memiliki bentuk ansembel yang belum layak disebut sebagai orkes agung.
Apa yang bisa diandalkan dalam Banjaran Gatotkaca: apakah ia mengusung keistimewaan orkestra dan opera sekaligus?
Semua pergelaran wayang orang mengusung keistimewaan seni orkestra dan seni opera sekaligus.
Termasuk Banjaran Gatotkaca. Yang bisa diandalkan dalam kisah Banjaran Gatotkaca adalah kandungan kisah kepahlawanan, keperkasaan, kesetiaan, kekesatriaan, semangat pengorbanan bagi negara dan bangsa yang kini menjadi makin langka.
Jika harus mendiplomasikan kebudayaan selain wayang, apa yang akan Anda ”jual” ke mancanegara? Apa alasanya?
Wah, banyak sekali. Sebab setiap daerah di persada Nusantara memiliki perbendaharaan kesenian masing-masing yang luar biasa beraneka-ragam. Indonesia siap menjual produk seni tari, seni musik, seni teater, seni sastra dan lain sebagainya sebagai upaya diplomasi kebudayaan sebagai bentuk soft-diplomacy yang jauh lebih ampuh ketimbang hard-diplomacy apalagi violence-diplomacy. Kebudayaan memiliki daya perekat antarbangsa jauh lebih mandraguna ketimbang politik , ekonomi apalagi militer yang malah rawan menimbulkan permusuhan.
Apa sesungguhnya potensi budaya Indonesia dalam pergaulan internasional saat ini?
Potensi kebudayaan Indonesia jelas sangat potensial untuk mendukung pergaulan internasional saat ini mau pun masa depan.
Apakah ia bisa menjadi ”bahasa” yang kuat jika dibandingkan dengan kekuatan ekonomi?
Jelas! Lihat saja bagaimana kerapuhan hubungan Indonesia dengan China akibat ”bahasa” diplomasi ekonomi yang berat-sebelah karena memang daya ekonomi Indonesia belum sekuat China. Hubungan China-AS terus-menerus terancam perselisihan paham akibat diplomasi ekonomi yang pada hakikatnya memang saling lebih mengutamakan kepentingan diri masing-masing.
Kalau sudah bicara soal dhuwit, memang persahabatan selalu terancam retak. Melalui ”bahasa” diplomasi kebudayaan seperti di bidang olahraga dalam bentuk Perahu Naga, terbukti para atlet Indonesia lebih bisa menjalin perhubungan antarbangsa Indonesia-China secara lebih menyenangkan ketimbang diplomasi ekonomi dalam bentuk kesepakatan free-trade yang selalu rawan masalah itu! (33)
(Triyanto Triwikromo/bnol)