panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
29 Oktober 2010 | 19:39 wib
Harris Riadi Menjaga Harmoni dengan Alam
image

MEMBATIK KERTAS SEMEN: Harris Riadi (47) membatik kertas pembungkus semen di rumah produksinya, Jalan Patriot 1b Kota Pekalongan, akhir pekan lalu.

WAJAH Harris Riadi (47) tampak berbinar saat menerima selembar kain batik yang baru saja diambil dari tempat pengeringan oleh pembatik yang membantunya, akhir pekan lalu. Diremasnya kain batik yang masih hangat itu, lalu diperhatikannya dengan seksama.

Sesaat kemudian, ia berkata, “Inilah uniknya pewarna alami. Warna yang muncul seringkali di luar perkiraan kita.” Ia mengatakannya sembari matanya menatap lekat pada kain batik bercorak lembut, perpaduan ungu, hijau dan coklat keabu-abuan itu. Warna unik yang dimaksudnya merujuk pada warna yang dihasilkan dari batang pisang yang diiris lalu direbus sampai hancur. Warna yang muncul pada kain coklat keabu-abuan.

Jauh hari sebelum Wali Kota Pekalongan M. Basyir Ahmad mencanangkan batik ramah lingkungan pada 2 Oktober lalu, Harris sudah puluhan tahun menggunakan pewarna alami dalam produksi batiknya. Sejak tahun 1982, Harris sudah berkomitmen untuk mengunakan pewarna alami. Komitmen itu tumbuh dari kesadaran bahwa harus ada harmoni antara produksi batik dan pelestarian lingkungan.

“Sudah tidak bisa diteruskan lagi produk batik dengan pewarna chemical. Batik pewarna organik dan herbal harus dikembangkan,” ucapnya.

Pernyataannya tegas seakan mengajak para perajin batik di Kota Pekalongan untuk mengurangi penggunaan pewarna kimia dan menggantinya dengan pewarna alami. Hatinya getir melihat kondisi sungai Pekalongan saat ini. Kegetiran hati Harris bisa jadi wajar. Karena sungai-sungai di Kota Pekalongan, kini tak ubahnya seperti tempat pembuangan limbah, berwarna hitam pekat, dan pada saat-saat tertentu menimbulkan aroma kurang sedap.

Berdasarkan data Kantor Lingkungan Hidup Kota Pekalongan, setiap hari sebanyak 4.432,9 meter3 limbah cair di buang ke sungai di Kota Pekalongan. Limbah cair itu dihasilkan oleh aktivitas produksi 1.054 unit usaha. Dari total volume limbah cair itu, sebanyak 34,72 persen atau sekitar 1.539 meter3 limbah dihasilkan dari 481 unit usaha batik.

Data tersebut juga memperlihatkan, hampir sebagian besar sentra industri kecil batik di Kota Pekalongan tidak mempunyai instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Sehingga limbah cair dilarutkan ke sungai. Kalaupun ada IPAL komunal, kapasitasnya tidak cukup untuk mengolah limbah yang dihasilkan dari produksi batik.

Kapasitas IPAL di Kelurahan Jenggot misalnya, hanya 400 meterkubik. Sedangkan, limbah cair yang diproduksi 48 unit usaha di kelurahan tersebut mencapai 2.000 meter3 setiap hari. Sementara di Kelurahan Kauman, 28 unit usaha setiap hari memproduksi limbah cair sebanyak 200 meter3. Sedangkan, kapasitas IPAL komunal hanya 130 meterkubik.

Berdayakan Sampah

Komitmen untuk menjaga lingkungan terus tumbuh. Tidak hanya memproduksi kain batik menggunakan pewarna alami, Harris juga memproduksi beragam kerajinan batik dari bahan-bahan limbah. Seperti kertas pembungkus semen, aluminium foil dan kapas. Usaha itu ditekuninya sejak sepuluh tahun lalu.

Ide membatik di selembar kertas semen itu terbetik saat ia melihat seorang pemulung yang sedang mengangkut kantong semen. “Saya berfikir untuk memberdayakan sesuatu yang tidak berharga menjadi produk yang bernilai,” terang mantan mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) (kini Institut Seni Indonesia).

Ada sandal, tas pesta, paperbag, placemate (alas piring), kotak tisu hingga sarung bantal terwujud dari batik kertas pembungkus semen itu. Tidak hanya dipasarkan di dalam negeri saja seperti Bali dan Jakarta. Sebagian produk kerajinan batik kertas pembungkus semen itu juga diekspor ke Singapura. Satu unit kotak tisu dari batik kertas semen di pasar lokal dijual Rp40.000 hingga Rp50.000. Sedangkan tas pesta dijualnya Rp125.000.

Proses membatik pada kertas pembungkus semen, semuanya menggunakan bahan-bahan alami. Langkah awal, kertas pembungkus semen yang akan dibatik direndam dengan air laut yang dicampur pewarna herbal selama 12 jam agar kuat. Menurut Harris, jika menggunakan pewarna sintesis justru akan membuat kertas pembungkus semen itu hancur pada saat dilorot.

Setiap hari, di rumah produksi di Jalan Patriot 10A Kota Pekalongan, Harris dibantu 15 pembatik mampu menghasilkan 100 lembar batik kertas semen dan aluminium foil.

Ia terus berinovasi. Pada Pekan Batik Nusantara (PBN) yang diselenggarakan di Gedung Olahraga dan Kesenian Jetayu Kota Pekalongan 26 Oktober hingga 30 Oktober, ia memperkenalkan batik dari bahan baku limbah kapas.

Tingkatkan Kesejahteraan
“Membatik itu syarat kreativitas,” ujarnya. Ia meyakini, setiap jengkal tanah menyimpan sejuta inspirasi. Kayu mahoni, daun mangga, daun jambu, kulit rambutan, kulit manggis dan beragam tanaman lain yang tumbuh di alam ini bisa menghasilkan beragam warna.

Tidak hanya berkontribusi terhadap pengurangan volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Degayu Kota Pekalongan. Dengan memberdayakan sampah menjadi produk bernilai estetika tinggi, Harris juga mengangkat kesejahteraan para pemulung. Satu lembar kertas semen yang biasanya dihargai Rp500 oleh pengepul, oleh Harris kertas semen itu dibelinya seharga Rp1.000 setiap lembar.

Meskipun menjadi pencetus ide membatik di kertas pembungkus semen dan  aluminium foil, namun Harris tidak berencana mematenkan batik kertas semennya. Ia hanya berharap, Pemerintah Kota (pemkot) Pekalongan menyediakan lahan untuk memasok bahan-bahan pewarna alami.

Karena selama ini belum ada pemberdayaan bahan-bahan obat-obatan batik pewarna alami di Kota Pekalongan. Sehingga ia harus mencari bahan-bahan pewarna alami itu hingga ke luar Kota Pekalongan. “Saya harus mencari ke beberapa desa di luar kota,” sambungnya.

(Isnawati/CN12)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
22 Mei 2012 | 11:44 wib
Dibaca: 271
image
15 Mei 2012 | 11:00 wib
Dibaca: 564
image
13 Mei 2012 | 11:52 wib
Parenting Day "Bunga Bangsa"
Melatih Kesabaran dengan Membatik
Dibaca: 630
image
06 Mei 2012 | 18:34 wib
Dibaca: 1019
image
23 April 2012 | 17:33 wib
Dibaca: 1172
Panel menu tepopuler dan terkomentar
06 Mei 2012 | 18:34 wib
13 Mei 2012 | 11:52 wib
15 Mei 2012 | 11:00 wib
FOOTER