
Oleh Bambang Iss
RUPANYA untuk menjadi seseorang dengan predikat "duta" untuk sebuah produk fasilitas di dunia pasar modal perlu waktu cukup lama. "Saya harus menunggu waktu berbulan-bulan untuk bisa memperoleh sarana informasi yang merupakan hak setiap investor agar dapat memonitor data posisi sahamnya. Dan saya sudah menemukannya sekarang," kata Adrian Maulana tanpa bermaksud berpromosi.
Maka jika sekarang Adrian Maulana didaulat sebagai ikon Kartu AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas) untuk proyek sesosialisasi ke para investor dan trader di seluruh Indonesia, tentu bukan karena "kebintangan" dia sebagai salah seorang di jajaran selebritis negeri ini. Tapi semata-mata karena keseriusan artis ini menekuni dunia pasar modal di Indonesia.
"Sebenarnya mas Adrian ini memang sudah cukup lama bergelut di dunia investasi, itu sebabnya kami pilih dia sebagai duta kartu AKSes ini" kata Ananta Wiyogo, Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) di Hotel Gumaya Tower Semarang pekan lalu.
Demi tanggungjawabnya sebagai Duta Kartu AKSes, akhirnya memaksa Adrian meninggalkan banyak kegiatan syutingnya. Misalnya selama beberapa bulan ini ia konsentrasi untuk belajar tentang kegunaan Kartu AKSes (product knowlage) bagi para investor.
Lalu di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Batam dan Medan Adrian membagi pengalamannya selama menjadi pengguna Kartu AKSes kepada para investor dan trader.
Menurut presenter berbagai acara televisi ini, Kartu AKSes adalah sarana informasi yang merupakan hak setiap investor untuk bisa mengakses dan memonitor data posisi serta mutasi Efek dan Sekuritas miliknya yang disimpan investor dalam Sub Rekening di KSEI secara on line.
Menurut Adrian, betapa pentingnya kartu ini apalagi mengingat semakin banyak saja risikonya menjadi pemain di pasar modal. "Pasar modal itu seperti kehidupan sehari-hari penuh dengan risiko, kita sudah hati-hati saja tetap bisa celaka," kata lelaki kelahiran 29 Oktober 1977 ini.
"Di dunia pasar modal itu kami sudah amat kenyang dengan cerita yang indah-indah, maka sekarang saatnya kami cerita tentang yang jelek-jelek, yakni betapa banyak risikonya berinvestasi," kata Adrian Maulana yang kini mendalami dunia makanan kesehatan ini.
Tutup pintu.
Adrian pun tampak mengamini pendapat Irwan Ariston Napitupulu, seorang praktisi pasar modal yang juga ikut sebagai pembicara dalam acara sosialisasi Kartu AKSes di Semarang itu, bahwa "Dengan Kartu AKSes ini setidaknya kita sudah menutup satu pintu dulu untuk broker agar mereka tidak lagi macam-macam," kata Irwan Napitupulu.
Memang sebegitu penuh risikokah jagad pasar modal di Indonesia? Ya salah satunya adalah adanya ulah sebagian pialang saham (broker). Ananta Wiyogo, dirit PT KSEI pun mengakui adanya kenakalan pialang. "Memang tidak semua broker nakal, masih banyak broker yang baik. Kalau ada pepatah bilang 'karena nila setitik, rusaklah susu sebelanga' ya seperti itulah kondisinya. Jadi kenakalan ini hanya dilakukan oleh sebagian oknum saja," kata Ananta Wiyogo memberi analogi.
Masih lekat dalam ingatan para pemikir pasar modal di negeri ini akan "musibah" di dunia investasi. Yakni tahun 2008, saat itu banyak broker menyalahgunakan dana investor secara besar-besaran, "Situasi yang waktu itu membuat dunia pasar modal sangat terpukul," lanjut Ananta Wiyogo yang lantas mengajak Adrian Maulana mantan Abang Jakarta 1992 ini untuk menjadi duta EKSes.
Sejak saat itulah, sebagai lembaga satu-satunya yang ada di Indonesia, KSEI menerbitkan Kartu AKSes sebagai bentuk pengembalian hak setiap investor agar dapat langsung melihat saham yang dimilikinya secara online. Ini sebagai wujud transparansi kegiatan pasar modal yang terpercaya.
"Jadi harapan kami, bahwa kelak setiap investor harus punya Single Investor ID (Identitas Tunggal Investor) yang penerapaannya akan dimulai pada tahun 2011," lajut Adrian Maulana.
(Bambang Iss/CN25)