
Oleh Farodillah Muqodam
KEPALA Kepolisian Daerah Jawa Tengah Inspektur Jenderal Polisi Edward Aritonang, secara khusus mencatat satu ciri khusus masyarakat Jateng, yakni adanya kepatuhan yang cukup tinggi kepada sosok ulama. "Dalam lingkup kehidupan bermasyarakat, ulama ternyata lebih dekat di hati rakyat ketimbang para umara’ atau pemerintah," kata Edward di ruang rapat redaksi Suara Merdeka, Jl Raya Kaligawe, Selasa (31/8).
Simpulan itu didapat Kapolda dalam studi yang digelarnya semasa menjadi kepala akademik di Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (Sespim Polri) beberapa waktu lalu. “Ada 3 atau 4 kali studi saat saya masih di Sespim Polri. Kesimpulannya sama, ternyata masyarakat lebih terbuka kepada ulama dibandingkan kepada polisi,” terangnya di hadapan para redatur senior Suara Merdeka dan SM CyberNews.
Kecenderungan semacam itu, diakui Edward, terjadi karena masyarakat umum memandang polisi sebagai sosok keras yang acap menggunakan pendekatan radikal dalam menangani suatu kasus. Rakyat juga enggan mengadukan permasalahannya kepada pemerintah, karena tangan para “pelayan rakyat” itu tak pernah menyentuh hingga ke bawah.
Angkuh dan korup
Mendekati masyarakat, bukanlah perkara mudah, karena terlebih dahulu jajaran kepolisian harus mengubah imej yang terlanjur melekat sebagai institusi yang angkuh dan korup. “Perlu dilakukan pendekatan khusus, sesuai dengan karakteristik penduduk lokal,” ujarnya.
Karakter warga wilayah yang dipimpin Bibit Waluyo yang dekat dengan ulama, mendorong mantan Kadiv Humas Polri ini memberikan perhatian khusus kepada para pemimpin agama. Edward, bahkan telah menyediakan waktu beranjangsana menemui sejumlah kyai untuk berdiskusi.
Untuk merebut hati para kyai, Edward yang asli Batak tak jarang melontarkan guyonan khas yang menyentil relasi unik etnis Batak dan Jawa. Dalam kunjungan ke sebuah pondok pesantren di Pati, Kapolda yang baru bertugas selama satu minggu ini secara mendadak menanyakan apakah sang Kyai berniat memiliki menantu seorang Batak.
Kyai yang tak menduga “ditodong” demikian hanya terdiam. Lalu, Edward dengan sigap menawarkan diri, “Saya orang Batak, siap menjadi anak. Bukan menantu!” ujarnya dengan tawa berderai.
(Farodlilah/Bambang Iss)