panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
02 September 2010 | 18:55 wib
Edward Aritonang Memandang Jawa Tengah (3)
"Saya Siap Menjadi Anak Ulama.."
image

Oleh Farodillah Muqodam

KEPALA Kepolisian Daerah Jawa Tengah Inspektur Jenderal Polisi Edward Aritonang, secara khusus mencatat satu ciri khusus masyarakat Jateng, yakni adanya kepatuhan yang cukup tinggi kepada sosok ulama. "Dalam lingkup kehidupan bermasyarakat, ulama ternyata lebih dekat di hati rakyat ketimbang para umara’ atau pemerintah," kata Edward di ruang rapat redaksi Suara Merdeka, Jl Raya Kaligawe, Selasa (31/8).

Simpulan itu didapat Kapolda dalam studi yang digelarnya semasa menjadi kepala akademik di Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (Sespim Polri) beberapa waktu lalu. “Ada 3 atau 4 kali studi saat saya masih di Sespim Polri. Kesimpulannya sama, ternyata masyarakat lebih terbuka kepada ulama dibandingkan kepada polisi,” terangnya di hadapan para redatur senior Suara Merdeka dan SM CyberNews.

Kecenderungan semacam itu, diakui Edward, terjadi karena masyarakat umum memandang polisi sebagai sosok keras yang acap menggunakan pendekatan radikal dalam menangani suatu kasus. Rakyat juga enggan mengadukan permasalahannya kepada pemerintah, karena tangan para “pelayan rakyat” itu tak pernah menyentuh hingga ke bawah.

Angkuh dan korup

Mendekati masyarakat, bukanlah perkara mudah, karena terlebih dahulu jajaran kepolisian harus mengubah imej yang terlanjur melekat sebagai institusi yang angkuh dan korup. “Perlu dilakukan pendekatan khusus, sesuai dengan karakteristik penduduk lokal,” ujarnya.

Karakter warga wilayah yang dipimpin Bibit Waluyo yang dekat dengan ulama, mendorong mantan Kadiv Humas Polri ini memberikan perhatian khusus kepada para pemimpin agama. Edward, bahkan telah menyediakan waktu beranjangsana menemui sejumlah kyai untuk berdiskusi.

Untuk merebut hati para kyai, Edward yang asli Batak tak jarang melontarkan guyonan khas yang menyentil relasi unik etnis Batak dan Jawa. Dalam kunjungan ke sebuah pondok pesantren di Pati, Kapolda yang baru bertugas selama satu minggu ini secara mendadak menanyakan apakah sang Kyai berniat memiliki menantu seorang Batak.

Kyai yang tak menduga “ditodong” demikian hanya terdiam. Lalu, Edward dengan sigap menawarkan diri, “Saya orang Batak, siap menjadi anak. Bukan menantu!” ujarnya dengan tawa berderai.

(Farodlilah/Bambang Iss)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
22 Mei 2012 | 11:44 wib
Dibaca: 271
image
15 Mei 2012 | 11:00 wib
Dibaca: 564
image
13 Mei 2012 | 11:52 wib
Parenting Day "Bunga Bangsa"
Melatih Kesabaran dengan Membatik
Dibaca: 630
image
06 Mei 2012 | 18:34 wib
Dibaca: 1019
image
23 April 2012 | 17:33 wib
Dibaca: 1172
Panel menu tepopuler dan terkomentar
06 Mei 2012 | 18:34 wib
13 Mei 2012 | 11:52 wib
15 Mei 2012 | 11:00 wib
FOOTER