
ORANG akan mengatakan saya aneh, jika ketika fenomena masal yang sedang digandrungi hampir semua orang, tapi saya malah menjauhinya. Misalnya dalam konteks budaya menonton televisi.
Saya sendiri tidak paham ini gejala apa, dan mengapa bisa terjadi pada diri saya. Keanehan itu termasuk ketika beberapa tahun terakhir ini saya memutuskan untuk tidak menonton televisi, ketika media elektronik ini menjadi maha raja di rumah-rumah di sepanjang hari.
Bagi saya siaran televisi yang berjumpalitan, terutama dengan tayangan sinetron dan tayangan komedi yang tak mendidik, terutama di jam prime time itu makin membuat pikiran saya pepat. Apalagi dengan tumpang tindihnya irama iklan-iklannya itu, membuat saya tidak nyaman. Jangankan menonton, hanya dengan mendengar sekilas bunyi iklannya saja kuping ini sudah amat terganggu.
Kalau pun harus menonton televisi saya hanya cermati berita dan runing text yang membuat saya selalu bisa up date dengan perkembangan terkini.
Tapi pekan kemarin, tumben-tumbenan saya mau nongkrongi televisi. Tanpa sengaja di TV rongsok 14 inci milik saya melintas sekelebat wajah lama yang amat saya kenal, Alex Komang. Meski saya sempat ragu dan tak percaya, benarkah itu Komang sang aktor besar itu bermain sinetron?
Demi melihat Alex Komang, saya pun menyangka itu film-film besutan Teguh Karya pada paro 80 an semacam "Ibunda" atau "Doea Tanda Mata" yang amat fenomenal pada masanya. Tapi ternyata tidak. Melihat adegan demi adegan baik ber-setting interior atau eksterior, juga ketika melihat gaya pencahayaaan, saya jadi berpikir itu film bikinan baru. Bahwa sinetron itu dikerjakan dengan bahasa filmis dan dengan bahan seleluid bukan elektronik, maka saya anggap karya film ini tidak main-main. Pasti ada orang-orang kampiun di balik itu. Tapi siapa mereka?
Di dalam film yang terakhir saya ketahui (setelah baca koran esok harinya) berjudul "Wagina Bicara" itu akting Alex Komang masih cemerlang. Ia tetap tangguh sebagai seorang pemeran. Sejak dulu, menurut saya ia memang bukan bintang film, tapi adalah seorang pekerja film dengan gelar "aktor", istilah yang dewasa ini, repotnya, sering disalahkaprahkan dan menjadi semacam pembodohan publik bahwa semua pemain sinetron itu aktor dan aktris.
Karena saya menyaksikan "Wagina Bicara" ketika film sudah separo jalan, jadi saya tidak tahu nama pemeran yang lain, atau siapa sineasnya, kecuali nama Niniek L. Karim yang juga masih bermain cemerlang di film itu.
Disebut pekerja film, karena Alex Komang dan Niniek L. Karim (sejak awal bersama alm. Teguh Karya dulu) keduanya tampak senyawa dengan kesemua unsur film yang sedang dibuat. Mereka berdua begitu menyatu dengan skenario, karakter penokohan, dan yang penting, mereka berdua mau membaca peta kekuatan pemain lain yang relatif masih baru di dunia film.
Ternyata "Wagina Bicara" itu ada dalam deretan beberapa sinema tematik dalam rangka ulang sebuah stasiun TV. Ya, semacanm parade film-film televisi yang diusahakan lebih mengindonesia, dengan lebih menyetuh permasalahan yang lebih rasional dan kontekstual. Semacam mendobrak tradisi sinetron asal jadi yang selama ini hanya mengisi tayangan prime time.
Saya lega, karena ini berarti ada semacam geliat kecil dari para pekerja film yang akhirnya gerah juga melihat gelombang sinetron mimpi atas nama rating yang merangsek tiap malam di tiap rumah dan membuat muak sebagaian orang itu. Karena di sana tak ada kesungguhan berkarya hanya karena satu alasan: kejar tayang.
Dunia sinema kita ternyata masih butuh orang-orang macam Deddy Mizwar, Dedi Setyadi, Arswendo Atmowoloto, Jujur Prananto, Misbach Yusa Biran atau Imam Tantowi, itu para sineas yang membesut deretan film yang menyinggung realitas sosial, bukan mengobral mimpi dan kemewahan hedonisme, setidaknya dalam bulan-bulan mendatang ini. Apalagi dengan pemain sekaliber aktor seperti Alex Komang dan Niniek L. Karim.
Jika ini benar, mungkin saya akan berkeputusan berbeda lagi: saya ingin menonton televisi tiap hari, dan merindukan akting para aktor itu.
(/CN15)