
TANPA sengaja saya bertemu Elfa Secioria, komposer besar negeri ini di awal tahun 2010 lalu di sebuah hotel berbintang di Semarang, seakan menyaksikan kegundahan dari seorang musisi.
Ini kegundahan yang lebih persis disebut sebagai keprihatinan. Awalnya, hanya omong-omong kecil yang menyoal perkembangan musik, tapi lantas pembicaraan menjalar ke kondisi musik anak-anak di Indonesia dewasa ini.
Kata dia, sekarang ini betapa susahnya mencari lagu anak-anak. Untuk menyanyikannya kembali pun sudah kesulitan mencari penyanyi anak yang perduli dengan lagu-lagu untuk porsi mereka. Karena ternyata anak-anak sekarang lebih fasih menyanyikan lagu-lagu cinta dari band-band pop orang dewasa. ''Saya kecewa dan geregetan dengan kondisi ini,'' kata Elfa Secioria yang pernah mencetak penyanyi anak Sherina di awal 2000.
Media seperti televisi sekarang, kata Elfa Secioria seperti sudah menutup keran distribusi lagu anak. Akses itu telah ditutup oleh iklim industri hiburan yang menjadi nafas televisi. Acara kontes menyanyi anak-anak seperti Idola Cilik atau AFI Junior pun nyaris tak menyertakan lagu anak-anak. Malah peserta dibiarkan membawakan lagu orang dewasa, bahkan dengan performa orang dewasa pula.
Awalnya ada harapan dari para pendidik, pemerhati anak dan pemusik seperti Elfa Secioria, bahwa kondisi ini akan tertolong oleh kesadaran para produser rekaman (major label) yang selama ini cukup setia memproduksi album lagu anak, meski akhir-akhir ini dalam setahun, produksi album anak tak lebih dari 2 album saja.
Belakangan ini para produser itu pun mengaku sulit mencari pencipta lagu untuk membuat lagu anak. Ini mengingat album Idola Cilik pertama dan ke dua - diprosuseri Musica - berhasil menjual lebih dari 50 ribu keping CD/kaset. Ini tergolong manakjubkan di tengah pasar yang tidak memihak lagu anak.
***
Masa kejayaan lagu anak mungkin sudah berakhir, sejak Sony Music memproduksi penyanyi cilik Tasya dengan album Libur Telah Tiba (2000) dan tahun yang sama Sherina dengan Lihatlah Lebih Dekat (Ceepee), seakan tak ada lagi album anak yang tercetak secara master piece, karena sejak itu tidak ada lagi mencuat penyanyi cilik, meski sudah didongkrak dengan kekenesan kontes seperti Idola Cilik atau AFI Junior yang diharapkan akan melahirkan penyanyi cilik baru.
Kesulitan mencari pencipta lagu anak terjadi, karena adanya kesadaran bahwa membuat lagu anak itu tidak semata merta menjadikan anak sebagai penyanyi, tapi lebih ke pesan moral dan budi pekerti anak, singkatnya, yang memiliki pesan yang klop dengan dunia anak. Dan itu tampaknya hanya dimiliki di era masa lalu oleh pencipta seperti Bu Kasur, AT Mahmud, Papa T. Bob atau Elfa Secioria.
Lagu-lagu abadi seperti ''Pelangi'', ''Bintang Kecil'', ''Naik Delman'', ''Kebunku'' atau ''Naik Kereta Api'' adalah contoh beberapa lagu anak klasik yang memiliki berbagai dimensi moral dan penanaman budi pekerti pada anak. Lirik lagu-lagu Sherina Munaf bahkan lebih dalam lagi, misalnya tentang persahabatan, seperti lagu ''Persahabatan'' atau penghormatan pada orang tua pada ''Andai Aku Tlah Dewasa''.
Tapi, Sherina kini sudah beranjak dewasa. Siapa lagi penggantinya?
(/CN13)