
SELAMA dua pekan, sepanjang bulan Mei, oleh sebuah perusahaan produk makanan ringan saya dilibatkan untuk menyeleksi calon-calon penyanyi pelajar. Bukan mencari profesonal memang, namun setidaknya, dengan seleksi di tingkat SD dan SMP itu akan diperoleh bakat-bakat baru di bidang seni vokal, agar mereka memiliki didikan entertainmentship sejak muda.
Sebagaimana lazimnya kompetisi menyanyi seperti ini, bahwa kepatuhan ratusan pelajar SD dan SMP mengantre sejak pagi hingga sore, hanya untuk 3 menit proses audisi, tampaknya cukup membanggakan. Terlalu singkat jika dibandingkan dengan waktu menunggu giliran.
Namun durasi seleksi itu bisa lebih kalau memang peserta memiliki talenta vokal, performance dan aura menghibur yang hanya bisa dipahami oleh dewan juri. Sehingga juri bisa mengeksplorasi kemampuan peserta. Menggali untuk sekadar menguji kemapuan peserta.
Pengalaman mengeksplorasi ini, pernah saya peroleh ketika saya ikut menyeleksi Akademi Fantasi Indonesia (AFI) atau Indonesia Idol beberapa tahun lalu untuk tingkat audisi awal (baca: daerah). Di sini bahkan tim juri diarahkan oleh penyelenggara untuk lebih "bengis", di mana di sana seorang juri bisa memiliki otorita, habis-habisan menggali kemampuan si peserta, dari soal notasi angka, pengetahuan lagu, sampai pada menguji kemampuan menjangkau oktaf-oktaf yang tak lazim.
Bahkan, untuk kepentingan tayangan yang memiliki kandungan reality show, pihak televisi mengeksposnya habis-habisan. Mereka yang histeris, marah, kesal, eksentrik, bahkan lebay, diekspos habis-habisan. Sampai-sampai waktu itu, setiap juri disediakan kamera demi merekam adegan-adegan lucu selama proses audisi berlangsung. Maka pantaslah kita lantas berani memvonis bahwa kompetisi itu adalah reality show semata, bukan untuk mencari penyanyi.
Tentu saja, saat menyeleksi pelajar SD dan SMP ada batas-batas toleran, karena gol acara ini memang bukan untuk mencari penyanyi profesional. Bukan untuk tujuan industri musik. Dari ratusan pelajar yang ikut, hanya sekitar belasan anak yang bisa diadu di babak final. Jumlah sekecil itu, mempertegas anggapan bahwa memang benar negeri ini sedang krisis penyanyi anak. Fakta ini berbalik arah, ketika kita boleh membandingkan betapa suburnya negeri ini dengan koruptor ketimbang penyanyi cilik berbakat.
Lebih repot lagi, selama menyeleksi saya prihatin, banyak peserta yang tidak paham dengan lagu-lagu anak klasik, karena saat seleksi membawakan lagu-lagu dawasa (baca: lagu indusri). Keruan saja, karena hampir tiap hari bahkan tiap menit, mereka dikepung oleh hiburan atas nama industri musik.
Maka keruan saja, ketika ditanya, apakah mereka kenal Ibu Sud atau AT Mahmud sebagai pencipta lagu anak-anak Indonesia, mereka menggelengkan kepala. Lantas salah siapa?