
Suara Merdeka CyberNews. Berkembangnya isu yang memberikan citra negatif pada lantai tiga Pasar Induk Wonogiri Kota (PIWK), pernah menjadi sorotan tajam kalangan anggota DPRD dan tokoh masyarakat Wonogiri. Menyikapi ini, Bupati Wonogiri, Begug Poernomosidi, yang secara diam-diam melakukan inspeksi mendadak (sidak), akhirnya menurunkan bantuan personel Satpol-PP untuk mengamankan pasar.
Kepala Satpol-PP Kabupaten Wonogiri, Drs Sukiyono MM, mengatakan, atas instruksi Bupati, memang pihaknya pernah menurunkan para personel Satpol-PP untuk ikut membantu Satpam Pasar, guna menjaga PIWK. ''Tapi itu sifatnya hanya sementara saja,'' tegas Sukiyono. Sekarang, Satpol-PP tidak lagi ikut membantu jaga pasar. Para personel Satpol-PP telah ditarik kembali. Penjagaan pasar, kembali menjadi tanggungjawab Satpam dan para pedagangnya.
Anggota Satpam PIWK, Tuladi, menandaskan, meski ada isu negatif tentang transaksi mesum di lantai tiga, tapi dijamin tidak ada yang 'main asmara' di lantai paling atas pasar tradisional kebanggaan itu.
''Saya jamin, tidak ada yang berbuat mesum di lantai tiga,'' tegas Tuladi. Kalau sampai terjadi, jelas personel Satpam akan melarangnya, dan memberikan penindakan untuk diserahkan ke polisi.
Penegasan sama, juga disampaikan tokoh Forum Komunikasi Pedagang Lantai Tiga (FKPLT), Wim Banung. Banung, menyatakan, kiranya sangat sulit untuk melarang orang melakukan transaksi mesum di lantai tiga pasar. Sebab antara pihak yang menawarkan dan yang membutuhkan tidak semata-mata terlihat secara kasat mata. Apalagi, bila memang sudah dikehendaki kedua belah pihak, yang namanya transaksi semacam itu, dapat saja dilakukan di mana saja dan kapan saja.
Tidak hanya di lantai tiga pasar. Bahkan di kantor pun, sebagai tempat kerja terhormat, itu dapat saja dilakukan. ''Silahkan amati langsung, mana ada yang terang-terangan melakukan transaksi mesum ?,'' sergah Wim Banung. Tapi sebagai pedagang pasar Wonogiri yang telah dijalani selama 29 tahun, Wim Banung, paham terhadap gerak-gerik insan di pasar. Termasuk mereka yang melakukan transaksi mesum misalnya. Meski itu dibalut kedok dengan hanya nongkrong-nongkrong 'wedangan' di kedai makan dan minum sekalipun.
Persoalannya sekarang, apakah orang yang nongkrong di warung untuk minum dan makan kemudian dirazia? Apa pasalnya yang akan dikenakan kepada mereka? Ini yang menyulitkan aparat penegak hukum, ketika harus menyikapi persoalan isu transaksi mesum di lantai tiga pasar. Tokoh masyarakat yang juga berperan sebagai insan pengamat sosial, Suroto, menyarankan, agar ada pendekatan sosial kemanusiaan kepada mereka. ''Tidak bisa bila hanya main garuk saja. Itu tidak menyelesaikan masalah,'' tegas Suroto.
Karena persoalan lantai tiga ini, kental muatan sosialnya. Oleh karena itu, tambah Suroto, peran dari Dinas Sosial harus dikedepankan. Dapat saja Dinas Sosial memprogramkan pembinaan secara khusus kepada mereka. Mereka diberikan penyuluhan secara manusiawi, diberikan pembimbingan ketrampilan seperti kecakapan untuk berdagang dan berusaha mandiri misalnya. Bagaimanapun juga, mereka yang dituduh menjajakan layanan nikmat sesaat itu, juga manusia yang perlu 'diuwongke', dan tidak kemudian hanya sekadar dijadikan objek garukan atau sasaran razia saja.
Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi (Diperindagkop) Kabupaten Wonogiri, Drs H Edi Sutopo MSi, menyatakan, isu adanya transaksi mesum di lantai tiga PIWK, itu hanyalah sesuatu yang dibesar-besarkan. ''Karena citra lantai tiga sebenarnya tidak seburuk yang diisukan,'' tandas Edi Sutopo.
Sebagai pimpinan Diperindagkop Wonogiri, yang juga membawahi tanggungjawab pengelolaan pasar, dia menandaskan, bisa jadi isu itu memang sengaja dimunculkan untuk kepentingan persaingan bisnis, oleh kaum kapitalis, dalam upaya mematikan keberadaan pasar rakyat tradisional.
Pekab Wonogiri, tandas Edi Sutopo lagi, berupaya untuk mengoptimalkan fungsi lantai tiga ini sebagai pusat transaksi jual beli komoditas, sebagai pusat untuk menumbuhkembangkan perekonomian rakyat, berfungsi menjadi pasar tradisional lazimnya yang patut dibanggakan.
''Untuk mengoptimalkan lantai tiga, kami terbuka kepada siapa pun pihak investor. Yang berminat 'mangga' dipersilahkan,'' tutur Edi Sutopo.
(Bambang Pur/Nv@)