
SEMANGAT itu begitu luar biasa, menjilam-jilam bagaikan kobaran api. Itu saya rasakan ketika bertemu Bubi Chen pekan lalu di kawasan Candi Baru Semarang, suatu siang.
"Ketika seorang pasien tiba-tiba down karena menerima keputusan bahwa satu kaki harus diamputasi, tapi Pak Bubi ini justru tegar menghadapi itu," ini kata Prof Dr dr Darmono pada saya di RS Telogorejo ketika saya membezuk sang mastro ini. Bahkan, demikian cerita dokter spesialis diabetes itu, "Pak Bubi saat itu bilang, silakan, kalau itu untuk kebaikan,"
Kekaguman Prof Darmono pada Bubi Chen ternyata tidak sebatas kekaguman dia pada seorang musisi besar yang diakui dunia. Tapi semangat itu, wajah yang yang berbinar-binar itu, adalah sepercik optimisme pada sebuah kehidupan. Bahwa hidup tidak harus merintih.
Itu terjadi ketika pekan lalu Bubi Chen keluar dari rumah sakit, dan esoknya harus menghadiri latihan musik untuk pertamakalinya pasca kaki kanannya diamputasi. Di mata sang virtuoso, ini bukan tragika bukan akhir segalanya.
Waktu itu saya ada di dekat Bubi Chen yang duduk di kursi roda, bahkan dengan tertawa, Bubi memperkenalkan saya sebagai wartawan "The New York Times". Gila, batin saya. Tapi saya tidak kaget karena tentu saja, itu cuma olok-olok Bubi Chen pada saya. Sudah sangat biasa sang virtuoso itu meledeki sahabat-sahabat dekatnya, baik sesama musisi, bersama muridnya, atau dengan wartawan.
Guyonan-guyonan Bubi Chen meluncur deras seakan permainan jarinya di atas tuts grand piano seperti saat memainkan "Night in Tunisia". Bicara semi-semi jorok, adalah gaya guyonan Bubi Chen sejak dulu layaknya ketika ia melakukan penjelajahan nada atau improvisasi. Kalau sudah begini, biasanya saya menyebut itu sebagai "guyonan kere". Mendengar istilah itu pun, musisi besar ini malah tertawa terkekeh, bukannya marah.
Om Bub, begitu saya sering panggil dia, akan marah ketika ada orang yang membicarakan Bubi Chen tidak berdasarkan fakta. Misalnya saat pada dirinya dikonfirmasi, apakah pianis jazz sekelas Russel Ferante mengagumi Bubi Chen, seolah menyembah tazim saat pada suatu ketika bertemu di Jakarta? Atau ketika, beberapa tahun lalu Bubi pernah diisyukan tidak bisa bermain musik lagi karena penyakitnya? Atau dia akan marah jika dikatakan sebagai Art Tatum-nya Indonesia seperti yang pernah digembar-gemborkan pers asing.
Bahwa musisi atau penyanyi siapa pun di negeri ini akan merasa terhormat dan bangga jika bermain musik bersama Bubi Chen, itu adalah kasunyatan. Lihat saja betapa ribuan pasang mata menatap kagum pada pianis ini saat tampil di Java Jazz Festival, untuk yang oertamakalinya setelah ia vakum. Atau saat Gubernur Jatim memberikan penghargaan anugerah seni, akhir Maret lalu.
Semangat itu. Binar-binar wajah tua itu, adalah rentetan improvisasi sang virtuoso yang tak lekang ditelan zaman.
(/CN13)