panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
03 September 2014 | 23:15 wib
Dieng Culture Festival V
Ruwatan Rambut Gimbal Buang “Sesuker” Anak Bajang
image

RUWATAN Rambut Gimbal Buang “Sesuker” Anak Bajang (suaramerdeka.com/ Yulianto)

BANJARNEGARA, suaramerdeka.com - Tradisi tahunan ruwatan anak rambut gimbal yang dilaksanakan di komplek Candi Arjuna Dieng Kulon Batur Kabupaten Banjarnegara, bersamaan dengan pagelaran event budaya dengan nama Dieng Culture Festival (DCF) V. Acara itu berlangsung pada 30-31 Agustus 2014.

Prosesi pencukuran atau pemotongan rambut gimbal ini menjadi puncak acara dan menjadi daya tarik wisatawan baik
domestik dan mancanegara. Ribuan orang datang hanya untuk menyaksikan adat masyarakat lokal Dieng yang sakral dan mistis itu.

Ruwatan anak bajang, sebagai puncak acara dari seluruh rangkaian Dieng Culture Festival V, seperti menerbangkan ribuan lampion ke langit Dieng, Sabtu (30/8) malam. Juga saat bersamaan itu juga digelar festival jazz di atas awan dan pementasan kesenian berupa tarian tradisional lengger yang memikat pengunjung di halaman komplek Candi Arjuna.

Pada syukuran anak gimbal, kali ini diikuti oleh sebanyak tujuh orang anak asal Wonosobo dan Banjarnegara. Mereka adalah Isma Nur Khasanah (6), Fera Tabah Utami (11), Sekar Anggun Marita (4), Nurul Isnaeni (3), Alifia Kesya
Prasetyo (6), Fidatul Khikmah (11) dan Natasya Wulan Safitri (5). Selain itu, sebagai bentuk rasa syukur setiap anak juga membawa ingkung dan aneka lauk, juga tumpeng.

Permintaan anak-anak ini pun beragam. Mulai dari seekor kambing gembel, sepeda berwarna pink, telepon genggam berkamera dan memiliki fitur bluetooth, cokelat satu keranjang penuh dan es lilin milik tetangga, sampai sebuah apel merah.

Paling unik adalah permintaan Fera Tabah Utami. dia hanya minta didoakan sehat selalu dan menjadi anak yang solehah.

Meski permintaan anak-anak ini kadang diluar kewajaran untuk anak seusianya, orangtuanya harus memenuhinya sebelum dicukur secara simbolis oleh pejabat setempat. Sebab jika tidak dipenuhi, maka menurut sesepuh Dieng, rambut anak ini akan tumbuh gimbal lagi. Ciri-ciri anak yang akan berambut gimbal, dan akan didahului oleh sakit panas.

Menurut Pemangku Adat Dieng Mbah Naryono, bahwa ruwatan gimbal ini bertujuan untuk membuang sesuker (sebel) orang tuanya. Ada sebagian orang yang percaya bahwa anak-anak berambut gimbal ini membawa berkah atau sial.

Ruwatan ini sebagai bentuk untuk membebaskan anak dari pengaruh buruk. Setelah dipotong, rambut anak nanti akan tumbuh normal kembali. (SM,2 Oktober 2009). Ruwatan itu dilakukan dengan jalan kaki atau mengadakan upacara Wilujengan
atau Syukuran dengan menyediakan perlengkapan Uba Rampe.

Perjalanan itu dimulai dari rumah juru Kunci Gunung Dieng, Mbah Rusmanto sebagai pemimpin ruwatan. Satu hari sebelum acara dimulai dia melakukan napak tilas dimulai dari Gunung Bismo, Gunung Pakuwaja, Gunung Kendil, Gunung Prahu, kemudian Tuk Bima Lukar, Siti Hinggil, dan diakhiri di Komplek Pertapaan Mandala Sari.

Tujuannya memohon ijin pada para ''mbahurekso'' Dieng yang tinggal di puncak-puncak gunung, di sumber air, di kawah, dan di candi-candi. Pada acara ruwatan itu masyarakat yang ikut mengiringi dengan  membawa uba rampe yang digunakan untuk menghormati tempat ruwatan.

Diantaranya, menyediakan tujuh tumpeng, berupa Tumpeng Gangsal,  terdiri dari tumpeng merah, tumpeng putih, tumpeng kuning, tumpeng hitam, dan tumpeng hijau. Aneka makanan ini setelah usai upacara, dibagi-bagikan dan menjadi rebutan masyarakat.

Selain itu juga disediakan Tumpeng Robyong dan Tumpeng Kalung. Kedua tumpeng ini memiliki arti, sesudah anak Gimbal diruwat, diharapkan anak itu bisa baik atau dicintai oleh sanak saudara, tetangga kiri-kanan, mendapat rezeki yang
melimpah, menambah semangat hidup,dan mencapai kemuliaan hidup nantinya.

Selanjutnya mereka menuju ke Sendang Maera Kaca, (Kompleks Candi Arjuna). Sebuah mata air yang dianggap paling sakral oleh masyarakat Dieng.

Di tempat ini, Mbah Rusmanto minta izin kepada Nini Dewi Retno Ayu Nawang Roso, agar anak-anak yang akan diruwat itu diberikan berkah dan keselamatan. Setelah itu anak berambut Gimbal dimandikan dengan air yang sudah diambilkan dari Sendang Maera Kaca. Anak gimbal itu ketika dicukur, tubuhnya dibalut dengan kain putih dan dipayungi.

Setelah anak berambut Gimbal sudah diruwat atau sudah dicukur, gimbal itu dilarung di Telaga Warna Dieng Wetan, Wonosobo. Ritual ini memiliki arti, dipulangkan gimbal kepada yang menitipkan yaitu Eyang Kaladete yang
dipercaya masyarakat sebagai tokoh pembabat alas pertama Dieng. (Yulianto)

(Yulianto/CN40)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
04 September 2014 | 17:15 wib
Dibaca: 69433
image
03 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 49409
image
31 Agustus 2014 | 18:24 wib
Dieng Culture Festival Sedot 26 Ribu Pengunjung
Ruwatan Rambut Gimbal Sebagai Puncak Acara
Dibaca: 48520
image
13 Mei 2014 | 22:25 wib
Dibaca: 57130
image
10 April 2014 | 19:05 wib
Dibaca: 56935
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER