panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
23 Januari 2014 | 23:48 wib
Situs Candi Lawang yang Terlupakan
image

CANDI LAWANG: Obyek Wisata Situs Candi Lawang di Cepogo, perlu dikembangkan dan dipromosikan lebih gencar untuk menarik wisatawan luar daerah dan mancanegara datang ke Boyolali. (suaramerdeka.com/Muhamad Nurhafid)

Sebagai salah situs bersejarah yang sangat potensial untuk dijadikan obyek wisata, Situs Candi Lawang perlu dilestarikan dan dipromosikan lebih gencar lagi. Sebab sejauh ini, belum banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang mengetahui keberadaan situs candi peninggalan kerajaan Mataram Kuno di Kabupaten Boyolali ini.

Candi Lawang masih asing dikunjungi banyak orang. Bahkan sebagian besar masyarakat Boyolali sendiri, mungkin belum tahu keberadaannya. Masyarakat di sekitar situs saja cukup asing meski mereka sudah mengetahui keberadaannya. Selama ini, jumlah wisatawan yang datang ke Situs Candi Lawang terhitung masih sangat sedikit.

Jika dilihat dari lokasinya, memang wajar bila belum banyak wisatawan yang datang ke situs candi tersebut. Keberadaan Komplek Candi Lawang yang ada di Lereng Gunung Merapi, jauh dari jalan raya Boyolali dan tidak ada penunjuk arah sehingga cukup sulit menemukannya tanpa bertanya kepada warga sekitar.

Situs Candi Lawang tersembunyi di Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo, di belakang rumah juru pemeliharanya, masih dikelilingi lahan perkebunan liar. Akses jalan menuju ke situs tersebut belum memadai untuk dilintasi dengan kendaraan rombongan wisata.

Sungguh disayangkan, padahal situs ini memiliki nilai seni dan sejarah yang bisa dijadikan obyek ilmu sejarah, seni bahkan dan kepariwisataan. Generasi ketiga Juru Pemelihara Candi Lawang, Fajar Reva Widyastama (25), membenarkan belum banyak masyarakat yang tahu akan Situs Candi Lawang.

Ia berharap, pemerintah daerah atau propinsi bisa mempromosikan situs candi ini lebih gencar ke publik.

"Setiap bulan, cuma ada sekitar seratusan pengunjung. Para pengunjung itu pun masih berasal dari sini dan dari sejumlah kota di Jawa Tengah. Belum ada yang dari luar Jateng," ungkap Fajar.

Selain promosi juga diperlukan upaya pengembangan lokasi dan pelestarian lebih jauh untuk komplek candi ini. Lokasi komplek candi tersembunyi, batu-batu candi berserakan, dan lumut-lumut menempel di bebatuan candi sangat perlu dikonservasi kimia.

Selama ini, Fajar menuturkan hanya seorang diri memelihara komplek Candi Lawang. Tidak ada juru pemelihara yang lain. Upaya pemeliharaan terhadap candi ia lakukan secara manual dengan cara disiram air dan disikat. Komplek Candi dibersihkan dengan cara disapu.

"Jika musim hujan seperti ini, saya cukup kewalahan karena seorang diri. Banyak daun-daun dari pepohonan di sekitar candi yang jatuh dan berserakan. Lumut pun cepat tumbuh kembali. Cepat kotor. Saya berharap, pemerintah daerah bisa mempromosikan dan melestarikan komplek candi ini." Latar belakang kompleks Candi Lawang adalah Hindu. Merupakan peninggalan Mataram
Kuno yang antara lain ditunjukkan oleh keberadaan yoni dan arca Durga Mahisasuramardini.

Pada 2008 lalu, Fajar mengatakan pernah mengajukan proposal ke pemerintah kabupaten untuk mengembangkan lokasi situs Candi Lawang agar bisa menjadi obyek wisata yang lebih menarik. Namun hingga kini belum ada jawaban.

Menurutnya, pengembangan lokasi wisata Komplek Candi Lawang perlu dilakukan untuk menarik wisatawan, apalagi jika mengingat banyak peninggalan cagar budaya lainnya di sekitar yang semasa dengan Candi Lawang. "Jika semuanya bisa dilesatarikan dan dikembangkan dengan maksimal, tentu menjadi destinasi wisata yang bagus." Peninggalan peradaban Mataram Kuna di lereng timur Merapi, selain Candi Lawang, yaitu Candi Sari, Petirtaan Cabean Kunti, Sumur Songo, serta sebaran komponen bangunan lasik lainnya.

Catatan BP3 menujukkan ada 400 titik di Kabupaten Boyolali yang mengandung peninggalan masa Mataram Kuna. Banyaknya peninggalan itu menunjukan bahwa Candi Lawang merupakan bagian dari bentang budaya Mataram Kuna yang pada saat itu berpusat di wilayah Kedu.

(Muhamad Nurhafid/CN37)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
04 September 2014 | 17:15 wib
Dibaca: 69406
image
03 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 49408
image
31 Agustus 2014 | 18:24 wib
Dieng Culture Festival Sedot 26 Ribu Pengunjung
Ruwatan Rambut Gimbal Sebagai Puncak Acara
Dibaca: 48517
image
13 Mei 2014 | 22:25 wib
Dibaca: 57126
image
10 April 2014 | 19:05 wib
Dibaca: 56930
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER