panel header


NABOK NYILIH TANGAN
Memanfaatkan Orang Untuk Melakukan Sesuatu
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
18 Agustus 2013 | 12:11 wib
'Strinariswari' Tipe Wanita yang Ideal
image

Kalau kita menyimak Serat Pararaton, terdapat sebuah istilah yang khas, yakni 'Strinariswari' (Stri-Nara-Iswari), yakni tipe wanita yang mampu mengangkat martabat suami dan keluarga, dari suatu level biasa kepada level tinggi, atau bahkan menuju kepada derajat raja-raja.

Ini dikatakan oleh Brahmana Lohgawe kepada Ken Arok, di kala Ken Arok menanyakan, apakah ada wanita yang memiliki sunar binabar ing sarira (sinar yang terbit dari sosok-tubuhnya). Karena itulah maka piwulang-piwulang kejawen menegaskan, kedudukan kaum wanita ditengah peraaban memiliki makna tersendiri, yang pantas diperhitungkan.

Kalau zaman Singsari diketahui ada istilah Strinariswari, maka pada zaman Sriwijaya terdapat sebuah istilah khas, yakni Nimas Perada Bhuwana, yakni tipe wanita yang lembut, anggun, namun suka bekerja keras. Ia terpilih di kalangan wanita atas dan bawah, dan setiap upacara Sidharyatra, persembahan para teluk dan selat sepanjang samudera yang mengelilingi pusat kedatuan Sriwijaya (abad VII-XIV), Nimas Perada Bhuwana merupakan alternatif, bahwa gadis-gadis dari lingkungan Swarnabhumi (jazirah pulau emas alias Sumatera Raya), banyak yang lahir dari kalangan usahawan dan nelayan yang berhasil mendukung kebesaran kerajaan Sriwijaya yang Bhudhistis kala itu.

Kalau kita tengok kebelakang lagi, ibu-ibu dari para tokoh pendiri dinasti kerajaan di Jawa, juga berasal dari kalangan jelata, dan penuh ketekunan serta pekerja keras. Misalnya, Mas Ayu Tedjowati, seorang selir Sunan Amangkurat Jawi, yang berputera RM Sudjono alias Pangeran Mangkubumi (kemudian bergelar Sultan Hamengkubumowo I, pendiri Kasultanan Yogyakarta).

Dalam Serat Dewa Ruci, terdapat Sekar Dhandhanggula yang menyebutkan, manakala sudah terdapat suatu sifat rangkum-rinangkum antara tokoh peradaban buana, yakni para pria dan wanita, maka akan terciptalah suatu suasana budaya yang tan asipat kakung, tan wanodya (tidak lagi memperlihatkan dominasi kaum pria maupun kaum wanita, jadi kehidupan ini hanya memperhatikan prestasi intelektual setiap tokohnya).

(Eko Wahyu Budiyanto/CN37)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
04 September 2014 | 17:15 wib
Dibaca: 67549
image
03 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 48900
image
31 Agustus 2014 | 18:24 wib
Dieng Culture Festival Sedot 26 Ribu Pengunjung
Ruwatan Rambut Gimbal Sebagai Puncak Acara
Dibaca: 48199
image
13 Mei 2014 | 22:25 wib
Dibaca: 56761
image
10 April 2014 | 19:05 wib
Dibaca: 56408
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER