panel header


GUPAK PULUT ORA MANGAN NANGKANE
Capek Bekerja Tidak Dapat Hasilnya
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
19 Mei 2013 | 20:17 wib
Kesenian Jabur dan Lengger yang Hampir Punah
image

LENGGER TAPENG: Kesenian rakyat yang hampir punah, lengger tapeng dari Kecamatan Samigaluh, saat tampil dalam Festival Kesenian Rakyat (FKR) 2013 di joglo Bale Langit, Desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo, Minggu (19/5). (suaramerdeka.

KULONPROGO, suaramerdeka.com – Dua kesenian rakyat Kulonprogo yang hampir punah yakni jabur dan lengger tapeng ditampilkan dalam Festival Kesenian Rakyat (FKR) 2013 di joglo Bale Langit, Desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo, Minggu (19/5).

Secara keseluruhan, ada 12 kelompok kesenian rakyat unggulan dari masing-masing kecamatan yang tampil dalam acara yang digelar Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) bersama Dewan Kebudayaan (DK) Kulonprogo tersebut.

Event tahunan ini berhasil menyedot perhatian warga termasuk anak-anak yang terlihat antusias menonton. Kabid Kebudayaan Disbudparpora Kulonprogo, Joko Mursito mengatakan, diselenggarakannya FKR bermula dari keprihatinan penyelenggaraan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang dulu digelar hingga tingkat kabupaten, sejak 5-6 tahun lalu hanya Kota Yogyakarta saja. Untuk mensiasati agar seniman dan budayawan punya ruang ekspresi, maka FKY yang hilang itu dialihkan dalam bentuk Festival Kesenian Rakyat.

“Kita memang basisnya ke kesenian rakyat, karena kesenian rakyat kita itu melimpah jenisnya banyak sehingga harus kita wadahi. Ada 20 jenis kesenian rakyat di Kulonprogo dan ada yang hampir punah seperti jabur dan lengger tapeng,” katanya.

Selain kesenian jabur dari Kalibawang dan lengger tapeng dari Samigaluh, kesenian rakyat lain yang tampil diantaranya panjidur dari Nanggulan, krumpyung dari Kokap, oglek dari Sentolo, wayang topeng dari Girimulyo, dan inkling dari Temon.

Kesenian rakyat yang tampil tersebut merupakan unggulan masing-masing kecamatan. Menurut Joko, pemilihannya sudah melalui diskusi dan kajian bersama yang memiliki keunikan dan kekhasan yang tidak dimiliki daerah lain.

“Atau perkembangannya betul-betul didukung oleh masyarakat. Itu yang kita angkat menjadi kesenian unggulan, tanpa mematikan kesenian yang lain,” paparnya.

Ajang FKR ini, lanjut Joko, sebagai salah satu sarana untuk membina, melestarikan, dan mengembangkan seni budaya. Tidak dipungkiri, sajian yang ditamilkan oleh kelompok kesenian wakil dari masing-masing kecamatan tidak sempurna mengingat para pemainnya bukanlah seniman tulen. Mereka merupakan petani, pedagang, maupun nelayan yang ingin berkespresi dengan kesenian.

Kesenian yang ditampilkan oleh 12 kelompok dilakukan penilaian oleh tim juri yang berasal dari Disbudparpora dan Dewan Kebudayaan Kulonprogo sertaseniman dari Jogja.Kelompok yang meraih juara I-III akan diberikan uang pembinaan.

Ketua kelompok kesenian krumpyung Laras Wismo dari Hargowilis, Kokap, Sagimin, mengaku senang dengan adanya FKR sehingga menjadi ajang bagi kelompoknya untuk berekspresi.

“Senang karena memberi perhatian pada masyarakat kecil yang tinggal di desa bahkan kami yang dari pucuk gunung untuk bisa tampil di sini, walaupun keadaannya karena alatnya dari bambu sehingga suaranya terbatas,” ungkapnya.

(Panuju Triangga/CN37)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
04 September 2014 | 17:15 wib
Dibaca: 67196
image
03 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 48706
image
31 Agustus 2014 | 18:24 wib
Dieng Culture Festival Sedot 26 Ribu Pengunjung
Ruwatan Rambut Gimbal Sebagai Puncak Acara
Dibaca: 48006
image
13 Mei 2014 | 22:25 wib
Dibaca: 56559
image
10 April 2014 | 19:05 wib
Dibaca: 56213
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER