
WARANGGANA atau pesindhen, juga disebut sebagai swarawati atau widuwati. Ada pula yang menyebutnya sebagai juru sidhen. Yakni wanita yang melantunkan tembang-tembang pengiring pagelaran wayang, dan acara lain yang diiringi musik gamelan.
Dalam sejarah pewayangan, waranggana mulai ditampilkan sebagai kelengkapan pengiring pagelaran wayang, sejak tahun 1630 atau sewaktu pemerintahan Raja Mataram Islam tanah Jawa, Sultan Agung Anyakrakusuma.
Tapi sumber sejarah lain, sebagaimana ditulis dalam buku ensiklopedi wayang terbitan Sena Wangi, ada yang menyebutkan waranggana mulai ditampilkan pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat Tegal Arum. Di pementasan wayang kulit, waranggana harus senantiasa paham isyarat dalang tentang kapan ia harus nembang atau nyidhen, mana pula saatnya harus berhenti.
Pesindhen legendaris yang memiliki nama besar karena punya 'cengkok' sendiri (suara khas tetembangan), adalah alamarhumah Nyi Condrolukito di era dalang kondang alamarhum Ki Narto Sabdo, di susul Nyi Supadmi dan Nyi Madularas.
Mulai tahun 1970 an, peran waranggana di jagad wayang purwa begitu mendominasi pada adegan gecul (jenaka) di episode 'gara-gara' bersamaan dengan keluarnya tokoh panakawan (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong). Karena harus melayani permintaan gendhing dan tembang dari penanggap atau penonton wayang, layaknya sebagai pilihan pendengar di siaran radio.
Dalam perkembangannya, permintaan gendhing-gendhing juga berlangsung pada adegan limbuk-cangik. Mulai tahun 1990 an, pada adegan limbukan dan gara-gara diperkaya dengan hadirnya bintang tamu pelawak untuk menghibur penonton.
Dikolaborasikan
Seperti pelawak Kirun, Bagyo, Marwoto, Gareng Ngestipandowo, Timbul, Mbah Ranto (alm Ranto Edi Gudel-red), Mamiek dan lain-lain. Juga diperkaya dengan hadirnya pesidhen pria (Suyarto) yang sering mengiringi dalang kondang Ki Anom Suroto, dan penyanyi keroncong Waljinah yang populer dengan tembang Walangkekek-nya.
Belakangan, pentas wayang ada juga yang dikolabarosikan dengan tontonan lain seperti dengan tari-tarian, reog, musik campursari dan orkes keroncong, maupun dengan dangdut. Sejak itu pula, waranggana di pentas wayang kulit tidak hanya melulu duduk.
Tapi juga berdiri dan menari. Baik menari bersama dengan pelawak, atau menari bareng-bareng sesama waranggana, utamanya bersamaan ketika mereka menyanyikan lagu-lagu berirama goyang.
Para seniman dan seniwati waranggana Kabupaten Wonogiri, pernah mengukir prestasi yang prestisius, yakni menampilkan waranggana dengan jumlah terbanyak. Jumlahnya mencapai 300 orang waranggana. Ini dalam rangka ikut mendukung dikukuhkannya Wonogiri sebagai bumi budaya Nusantara oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono (SBY) di tahun 2009.
(Bambang Purnomo/CN26)