panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
13 Oktober 2008 | 18:22 wib
Keraton (Yogya) sebagai Pancer Urip
image

DI mata orang Jawa, keraton itu keramat. Kawula takut kuwalat jika berbuat semaunya di lingkungan keraton. Kawula selalu berasumsi bahwa raja itu memiliki kuluk kanigara, yaitu makutha yang esensinya memuat kewibawaan. Makutha menyimpan hal-hal yang ”the seen” dan ”unseen worlds”. Yang kasatmata, makutha itu benda berharga. Yang ada di balik barang itu, adalah lambang kesaktian, kekuasaan, sebagai warisan pusaka Kiai Jaka Piturun. Maka ketika dipimpin raja, kawula merasa adhem ayem, tenang.

Keraton adalah pusat rasa Jawa. Rasa hakiki yang hidup di dataran nalar Jawa adalah rasa njaba dan rasa njero. Kedua rasa ini menep (merasuk) dalam candrasengkala memet regol kemagangan yang berbunyi: Dwi Naga Rasa Tunggal (1682). Dwi Naga Rasa Tunggal artinya dua naga yang tubuhnya (sarira) dipadukan hingga muncul ungkapan mistik manunggaling kawula-Gusti.

Dalam konteks manunggal ini, ditunjukkan oleh ungkapan sarira tunggal atau sari-rasa-tunggal. Maksudnya, kawula-Gusti itu hakikatnya satu rasa (madu rasa). Keinginan kawula untuk selalu manunggal dengan Gusti disebut madu brangta.

Tribuwana

Sebelum berdiri keraton, yang ada adalah hutan belantara. Hutan itu bernama Garjitawati. Garjita artinya kesadaran total manusia. Kesadaran itu melahirkan pemikiran jernih dan wening. Wati artinya kaya, banyak, luas, dan Garjitawati adalah hutan yang menyimbolkan kesadaran kuat. Maka Sri Sultan HB I memandang tepat keraton Yogya berdiri di atas bumi harum itu. Dari sini kesadaran kosmis muncul di benak kawula-Gusti Yogya, karena tata letak simbolik imajiner keraton.

Kosmologi keraton Yogya tidak terlepas dari pandangan dunia Kejawen. Masyarakat kejawen berpikir tentang kosmologi Jawa melalui pepangkataning dumadi yang disebut Tribuwana, terdiri atas Guru loka (baitul makmur), Endra loka (baitul muharam), dan Jana Loka (baitul muqadas). Guru loka dalam posisi keraton diwakili oleh Gunung Merapi. Gunung berada utara (lor, utama), luhur. Posisi tengah yaitu Endra loka. Endra artinya raja. Raja kehidupan tidak lain hati (rasa sejati). Adapun Jana loka adalah gambaran kawula, rendah, dan bawah. Ketiga ranah filosofi-kosmis ini yang memposisikan keraton sebagai sentral.

Pemikiran kosmologi Jawa demikian berkembang lagi, dari posisi Tribuwana menjadi Pancabuwana. Konsep Pancabuwana tetap meletakkan keraton sebagai pusat. Pancabuwana memuat keblat papat lima pancer. Artinya, bahwa buwana manusia selalu dilingkupi oleh empat anasir dan keraton sebagai sentral (pancer) kehidupan. Keraton Yogyakarta secara kosmis diapit oleh empat anasir kiblat, yaitu Kampung Gandamanan (Timur), Kampung Krapyak (selatan), Barat (Wirabrajan), Utara (Jetis). Makna filosofi Kampung Gandamanan ini jika ditarik ke utara lurus, simetris dengan Kampung Gandalayu (timur Tugu). Adapun Kampung Wirabrajan jika ditarik lurus ke utara muncul Kampung Pingit, sebelah barat Tugu. Jadi garis imajiner keraton ke Tugu menandai bahwa keraton itu diapit oleh dua nama kampung yang melambangkan hidup (Pingit, berarti suci) dan mati (Gandalayu, artinya bau bangkai). Hal ini ditandai pula, bahwa Kampung Pingit itu dialiri sungai Winanga dan Kampung Gandalayu dialiri Sungai Code. Winanga, berasal dari bahasa Jawa winong, artinya paham, ketahuilah, dekatkanlah dengan Hyang Winong yaitu Tuhan. Sebaliknya, jauhilah yang jelek, berbau bangkai, yang dilambangkan Sungai Code (dalam bahasa Jawa, cocode, kejelekan).

Jika posisi Pancabuwana tersebut dilukiskan, akan tampak bahwa keraton adalah sumber kasekten. Sakti berarti hangabehi, di dalamnya muncul zating Pangeran melalui sebuah proses emanasi. Kosmologi keblat papat lima pancer, keraton tergambar sebagai kuthagara berada pada posisi tengah, isinya suwung (titik nol), menjadi fakta hakiki (ultimate reality), hari pasarannya Kliwon, multiwarna, dan dewanya Manikmaya (bathara Guru). Sebelah timur dibatasi oleh negaragung, sebagai fakta emanen, sebagai purwaning dumadi (jagad kawitan). Maka kalau semadi orang Jawa menghadap ke timur, pasarannya Legi, dibatasi negaragung brang wetan, warnanya putih, disimbolkan anasir air, dewanya Wisnu. Sebelah selatan adalah fakta eksistensial, berwarna merah, pasaran Paing, dibatasi Laut Selatan, dan dewanya Kala. Sebelah barat pasarannya Pon, dibatasi negaragung brang kulon, berwarna kuning, sebagai fakta transenden, dewinya Sri. Sebelah utara hari pasarannya Wage, warnanya hitam, dibatasi Gunung Merapi, dewanya Narada, sebagai fakta esensial.

Kosmologi keraton demikian terkait dengan sebutan ning-rat. Ning artinya jernih dan rat (dunia, kosmos). Kejernihan berpikir tentang dunia (kosmos) oleh kesakralan keraton. Di mata orang Jawa keraton tetap sebagai mandala yang gawat keliwat-liwat wingit kepati-pati. Maka dalam Serat Baron Sekender, dikisahkan ada pesawat kolonial yang hendak menyerang keraton Yogya, tiba-tiba jatuh ketika berada di atas keraton. Nuansa kosmis itu yang menyebabkan keraton itu berbeda dengan tempat lain. Keraton itu seperti istana, tetapi istana bukan keraton.

Dari waktu ke waktu, umumnya orang Jawa memandang keraton selalu menyebarkan ruh kosmis, yaitu: (1) memberi perlindungan (hangayomi), (2) memberi rasa aman, tenang, dan tenteram (hangayemi), (3) memberi berkah berbagai hal (hamberkahi). Ketiganya tergambar pada watak raja yang mahambeg paramarta. Artinya, raja selalu menyebarkan watak keutamaan kepada kawula. Kawula memandang sultan sebagai figur yang mampu amangku-amengku-among-momot. Amangku, artinya bisa menciptakan suasana jenak, tenang, adhem ayem, memahami aspirasi bawahan secara total sebagaimana seorang ibu memangku anaknya. Amengku, berarti mampu menjalankan kekuasaan yang tidak semena-mena, penuh kecintaan, perlindungan, penuh perhatian, seperti halnya sayap ayam melindungi anaknya. Among-momot, artinya mampu memimpin dengan kultur kejawaan yang penuh asah-asih-asuh, mewadahi segala keinginan kawula. Ketiga hal itu terangkum dalam ungkapan mahambeg berbudi bawa leksana.

Melalui Perjanjian Giyanti yang diskenario kolonialis, 13 Februari 1755 hingga membelah Mataram menjadi dua yaitu Kasultanan Yogya dan Kasunan Surakarta, terkesan agak aneh. Sunan seakan representasi ulama dan sultan gambaran umaro, padahal kedua belah pihak jelas memuat ulama-umaro. Teologi dan teosofi Keraton Yogya selalu merujuk bahwa keraton adalah sentral kosmis-filosofis. Keraton Yogya, tidak sekadar memimpin kawula secara lahir, melainkan juga dengan konsepsi filosofi kejawen yang luhur. Sultan yang bergelar Sayidin Panatagama Kalifatullah, diakui atau tidak jelas melukiskan sebuah paugeraning dumadi. Sultan dianggap figur waskitha atau nawung kridha, yang menjadi pandom (kiblat) kawula.

Atas dasar itu, keraton sekaligus juga sebagai pusat (telenging dumadi). Maka kedudukan sultan menjadi abon-aboning panembah jati. Maksudnya, keraton menjadi sentral kawula dalam melakukan persembahan. Hakikatnya kawula adalah menyembah Hyang Widhi, sebab sultan diobsesikan sebagai wakil (badal wakiling) Tuhan. Itulah sebabnya kawula selalu melakukan tindakan saiyeg saeka praya sebaya pati sebaya mukti. Demi tegaknya keraton, kawula rela, ikhlas berkorban secara serentak, rukun, sampai titik darah yang penghabisan. Alasannya, jika keraton menemui kejayaan kawula juga akan menerima kemurahan (luberan) raja.

(Suwardi Endraswara, pengajar Filsafat Jawa, FBS UNY/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
04 September 2014 | 17:15 wib
Dibaca: 2738
image
03 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 2593
image
31 Agustus 2014 | 18:24 wib
Dieng Culture Festival Sedot 26 Ribu Pengunjung
Ruwatan Rambut Gimbal Sebagai Puncak Acara
Dibaca: 2674
image
13 Mei 2014 | 22:25 wib
Dibaca: 9111
image
10 April 2014 | 19:05 wib
Dibaca: 9569
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER