
JALUR Boyolali - Magelang jadi pilihan untuk beristirahat. (Foto CyberNews Wisanggeni)
Oleh Bambang Iss
PERNAH melewati jalan tembus kota Boyolali - Magelang yang dikenal sebagai jalur eksotik itu?
Lantas eksotisme macam apa yang ada di sepanjang jalan turun naik dan berkelok di sela-sela gunung Merapi dan Merbabu yang sering disebut dengan jalur Selo itu? Udaranya yang sejuk, pemandangannya yang indah atau kehidupan desanya yang khas?
Jika Jero Wacik, orang nomor satu di dunia pariwisata Indonesia melewati jalur indah ini, pasti senyum kepuasanlah yang akan ada di wajah menbudpar itu. Karena di sepanjang jalur alternatif ini banyak berdiri desa wisata, yakni Samirang dan Lencoh, kedua desa ini terdapat resor-resor seperti Selo Pass, Ketep Pass, New Selo serta agropolitas Merapi Merbabu.
Konsep desa wisata adalah obsesi dan strategi Jero Wacik untuk mengembangkan potensi wisata tanah air. Kini di Indonesia tercatat ada 200 desa wisata. 19 di antaranya ada di Jawa Tengah. Ke 19 desa wisata itu kini menerima bantuan dana APBN masing-masing sekitar Rp 65 - Rp 75 juta per desa. Yakni, Magelang 7 desa, Banjarnegara (2), Tegal (1), Purworejo (1), Wonogiri (1), Purbalingga (1), Banyumas (2), Klaten (1), dan Karanganyar (1).
Dikenal dengan tag line "KNCN" (Kenali Negerimu, Cintai Negerimu) sebagai strategi pengembangan kepariwisataan Indonesia, Jero meminta semua pemkot/kab mengembangkan potensi wisata lokalnya. "Ini penting agar bangsa Indonesia mencintai negaranya sendiri," kata Menbupar Jero Wacik.
Persisnya, sambung Jero Wacik, "Kalau alam negeri sendiri bisa dinikmati, mengapa harus mengajak keluarga berwisata ke luar negeri? Maka mari kita kembangkan potensi di negeri, untuk mengenali negeri, dan mencintai negeri sendiri, " kata Jero Wacik seperti dikutip dari Radio Elshinta belum lama ini.
Pengelolaan MCK.
Di Jawa Tengah banyak dibentuk desa wisata. Di samping di alur Selo di Boyolali, terdapat pula di Rawa Pening Salatiga, serta desa wisata di Desa Bulakan, Kec. Belik, Pemalang.
Di beberapa desa wisata ini apa saja yang ada di desa itu bisa diadikan daya tarik. Bisa makanan khasnya, pertanian, buah-buahan, produk kerajinannya, kuliner, atau keindahan alam.
Menurut Jero Wacik, banyak sisi lemah dari pengelolaan desa wisata ini, "Yang paling sering dijumpai adalah ketersediaannya MCK yang bersih dan pantas di masing-masing desa wisata. Ini penting karena pertama kali orang menilai adalah dari keadaan fisik MCK-nya, apakah sanitasinya terjamin atau senbaliknya," kata Jero Wacik.
Di Kabupaten Semarang, persisnya Rawa Pening, dikembangkan pula desa wisata yang terkenal dengan kulinernya. Di sini banyak warung makan yang menyediakan makanan khas Jawa yang memanfaatkan keunggulan tanaman di sekitar, misalnya makanan "buntil", "bothok", atau opor bebek, untuk menyebut beberapa makanan khas Jawa.
(/CN25)