panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
16 Februari 2009 | 18:34 wib
Toleransi di Kota Tua
image

Leiden, wilayah berpenduduk 118 ribu jiwa yang terletak di antara kota Amsterdam, Den Haag, dan Rotterdam, memperoleh predikat sebagai kota tahun 1266. Sesuai namanya, Leiden berasal dari kata ''leithon'' yang berarti berada pada jalur air. Kota ini dibelah oleh Sungai Rijn (Rhine) yang hulunya berpucuk di Swis melewati Jerman dan bermuara di Negeri Kincir Angin.

Di ruas Kota Leiden bagian atas, sungai itu bercabang dua yang dikenal dengan Oud Rijn dan Neeuwe Rijn yang kemudian menyatu di pusat kota. Sungai utama dan dua cabangnyabertautan dengan sungai-sungai kecil yang berupa kanal. Pada musim panas, kanal-kanal itu dipergunakan sebagai wisata air, sedangkan di musim dingin, ketika salju turun, menjadi arena skating yang sangat menarik.

Menurut cerita, 10 tahun yang lalu, wilayah Belanda yang merupakan muara Sungai Rijn selalu terkena getah pencemaran dari pembuangan industri-industri dari Jerman dan Swis. Tentu saja Belanda yang paling gigih mengusulkan pengelolaan bersama dengan kedua negara tersebut berdasarkan prinsip bioregion dan sekarang buahnya bisa dirasakan. Sungai tampak bersih, selain sebagai objek wisata juga menjadi habitat yang nyaman bagi itik, angsa, dan seagull. Tidak menampakkan kesan bahwa sungai itu berada di ruas muara yang kalau di negara berkembang seperti Indonesia menjadi tong sampah bagi daerah hulu.

Kota Leiden itu sangat ramah karena menyediakan jalur khusus untuk sepeda pada setiap ruas jalannya. Di setiap kantor, kampus, ruang publik, stasiun, terminal, atau mal disediakan tempat parkir memadai untuk sepeda. Commuter (penglaju) dari luar Leiden tidak perlu menggunakan mobil untuk mencapai kota tersebut. Mereka setiap hari mengayuh sepeda kemudian diparkir di stasiun, dan berganti kereta api menuju kota tujuan. Nyaman tidak stres dan lebih efisien.

Commuter dari luar Leiden biasanya memiliki dua sepeda. Satu untuk dikayuh dari rumah ke stasiun dan sebaliknya. Satu lagi dipergunakan untuk mobilitas di Leiden dan mengantar dari dan ke stasiun. Hal itulah yang dilakukan oleh para dosen di Universitas Leiden yang tinggal di Ams­terdam, Rotterdam, Den Hagg, Naar­den, dan Haarlem. Pola penglaju yang demikian ini sangat memungkinkan karena kereta api sangat nyaman, terjangkau, dan tepat waktu serta banyak pilihan dengan frekuensi setiap 10 menit. Stasiun Sentral juga menyatu dengan terminal bus sehingga memberikan kemudahan dan pilihan bagi masyarakat pengguna.

Perilaku berkendaraan yang ramah lingkungan itu tampaknya bukan hanya didapati di kota kecil seperti Leiden, tetapi juga di Rotterdam dan Amsterdam, dua kota besar yang berpenduduk lebih dari satu juta jiwa. Leiden juga terbilang sebagai kota yang aman. Musim dingin dengan temperatur antara 2 sampai 6 derajat celcius yang selalu disertai hujan rintik-rintik tidak membuat orang enggan berjalan kaki maupun bersepeda sebagai media utama mobilitas. Pemandangan itu berlangsung dari pagi buta sampai tengah malam. Orang-orang lalu lalang di sudut-sudut jalan kota tanpa khawatir terganggu keamananya, sekali pun ia pendatang.

***

DAYA tarik Leiden, bukan hanya pada kondisinya yang bersih, rapi, ramah, dan aman tetapi juga kaya dengan bangunan-bangunan kuno yang masih dilestarikan. Dalam buku Newcomers in an Old City tulisan Joke Kardux dan Eduard van de Bilt (2007) disebutkan bahwa lanskap kota itu didominasi oleh semangat gereja, di antaranya adalah Pieterskerk (St Peter's) dan St Pancraskerk yang kemudian dikenal dengan nama Hooglanse Kerk. Tetenger bangunan kuno lainnya yang masih megah berdiri adalah Balai Kota. Terdapat benteng yang menyerupai kastil bernama Visburg atau de Burcht yang dibangun pada sekitar tahun 1050.

Dalam catatan, benteng di bukit kecil tersebut dimaksudkan untuk membendung luapan Sungai Rijn. Tetapi diceritakan juga kalau benteng itu dibangun sebagai pertahanan atas serangan tentara Spanyol pada masa itu. Warga Leiden sangat bangga dengan benteng tersebut. Dalam buku Panorama Leiden disebutkan bahwa kalau Anda mengunjungi kota itu tetapi tidak singgah di de Burcht, itu sama artinya Anda belum berkunjung ke Leiden.

Sungguh unik. Kalau kota-kota besar dunia berlomba membangun pencakar langit sebagai tetenger untuk melihat seantero kota misalnya Kuala Lumpur dengan Menara Kembar, Toronto dengan CN Tower, Boston dengan Hancock Tower, maka tidak demikian halnya dengan Leiden yang bangga dengan kastil yang tingginya hanya sepuluh meter di atas bukit. Dengan berdiri di atas kastil Burcht yang merupakan satu-satunya bangunan yang berdiri sebelum Leiden menjadi kota, 40 bangunan dan objek wisata penting ko­ta itu terlihat jelas mulai dari gedung Balai Kota, Gereja Pieterkerk, St Pancras­kerk, Museum Windmill, Morrspoort, Academy Building sampai Hortus Botanicus.

Leiden juga dikenal sebagai city of refugees. Pada awal abad ke-17, kota itu menjadi tempat persinggahan migran dari Inggris sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Benua Amerika, Australia maupun Selandia Baru. Indikasi dari catatan sejarah tersebut bisa dilihat dari komposisi etnis penduduk yang sangat beragam. Saturday Market yang sangat menarik perhatian turis menjajakan berbagai makanan khas dari Indonesia, Suriname, Vietnam, Turki, Maroko, China, dan tentu Inggris. Untuk migran yang disebut terakhir, ada informasi yang mengatakan bahwa mereka melarikan diri dari negerinya di Inggris karena perbedaan pandangan aliran tentang agama. Dokumentasi migran Inggris yang menjelajah benua Amerika dengan kapal Mayflower dicatat dengan baik.

Jika dilacak maka dari 44 Presiden Amerika Serikat, delapan di antaranya keturunan migran yang dulu pernah singgah di Leiden. Salah seorang dari delapan presiden tersebut adalah George Walker Bush yang pernah menyempatkan mengunjungi Leiden pada tahun 1989. Dipilihnya Leiden sebagai tempat persinggahan tidak lain karena kota itu sangat toleran terhadap pendatang. Semangat itu masih tampak kental hingga sekarang. Terlebih bila kita melihat kehidupan di kampus Universitas Leiden yang merupakan ikon kota Leiden. 10 persen dari 18 ribu mahasiswa kampus tersebut berasal dari berbagai penjuru dunia yang menyatu dengan napas kehidupan Leiden dalam irama yang harmonis.

Tempat Membaca Indonesia

Bila berbicara mengenai kota Leiden, hampir selalu kita mengaitkannya dengan Universitas Leiden. Ia memang menjadi ikon dan aset berharga kota tersebut. Ia merupakan perguruan tinggi tertua di Belanda yang didirikan tahun 1575 oleh Pangeran William Orange yang dikenal sebagai pemimpin revolusi. Adalah sang pangeran yang mengusulkan kepada Pemerintah Federal Belanda bahwa sebagai hadiah atas semangat heroik warga kota menentang invasi Spanyol agar didirikan universitas sebagai simbol kebebasan dan pemerintahan yang berdasarkan tata hukum yang baik.

Pada tanggal 9 Februari tahun ini, Universitas Leiden akan merayakan Dies Natalisnya ke-434. Motonya adalah praesidium liberties, sebuah semangat kebebasan berbicara dan berpendapat yang pada awalnya dikembangkan oleh filsuf Descartes dan Spinoza.

Beberapa ilmuwan kenamaan yang membawa Universitas Leiden dikenal luas di antaranya Prof Boehaave, orang pertama Eropa yang mengemukakan gagasan tentang pentingnya ilmu pengetahuan alam untuk studi kedokteran. Di samping itu, Dutch Academy Award dari Organisasi Riset Ilmiah telah memberikan 9 kali award kepada profesor-profesor di Universitas Leiden. Selama ini telah tiga profesor yang yang menerima Hadiah Nobel. Selain Albert Einstein yang pernah beberapa tahun bermukim di universitas tersebut, ada juga Snouck Hurgronje dan pakar hukum adat Cornelis van Vollenhoven, juga turut mengharumkan nama universitas yang memiliki reputasi Internasional tersebut.

Universitas itu memiliki sembilan fakultas dengan jumlah mahasiswa sekitar 18 ribu orang dan didukung oleh 4.000 dosen dan staf. Gedung kampusnya tidak menyatu di sebuah kawasan sebagaimana kecenderungan kampus-kampus di Indonesia, tetapi menyebar di berbagai sudut kota.

Yang unik dari Universitas Leiden adalah koleksi bacaan dan publikasi tentang Indonesia yang sangat lengkap. Tidaklah berlebihan jika orang mengatakan bahwa kalau ingin belajar tentang Indonesia seseorang harus pergi ke Leiden.

Di perpustakaan Fakultas Hukum, khususnya di Van Vollenhoven Institute (VVI), koleksi tentang Indonesia terawat dan tertata rapi yang bisa dilacak mulai tahun 1811. Koleksi itu berisi surat kabar pada waktu Pemerintahan Belanda di Indonesia, catatan Pemerintahan dan kondisi geografis setiap Pulau (Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan), Peraturan Perundang-undangan, keputusan pengadilan (yurisprudensi), hukum adat di berbagai daerah, jurnal, tesis, dan disertasi tentang Indonesia. Demikian juga kumpulan kepustakaan sejak Kemerdekaan tahun 1945 sampai sekarang. Kumpulan Perda dari berbagai provinsi di Indonesia sampai UU terbaru tahun 2007 semuanya sudah terkoleksi di sana.

Publikasi tentang Indonesia yang ada tidak melulu yang berbahasa Belanda (meskipun sebagian besar memang berbahasa itu), tetapi juga bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, termasuk buku saya berjudul Aspek Sosial AMDAL terbitan tahun 1995 yang berada di rak perpustakaan Von Vollenhowen Institute. Ironisnya, sangat mungkin para penulis buku dan pemerintah provinsi di Indonesia sendiri sudah tidak memiliki kumpulan publikasi yang mereka terbitkan tetapi bisa dijumpai di Leiden.

(Sudharto P Hadi/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
28 Agustus 2014 | 10:45 wib
Dibaca: 80288
image
25 Agustus 2014 | 11:41 wib
Dibaca: 61288
image
22 Agustus 2014 | 23:00 wib
Dibaca: 59674
image
18 Agustus 2014 | 11:07 wib
Dibaca: 61584
image
13 Agustus 2014 | 12:10 wib
Dibaca: 60158
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER