panel header


OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
Jangan Sok Kuasa, Sok Besar, Sok Sakti
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
20 Mei 2014 | 14:25 wib
Peluncuran Buku Puisi "Semadi Akar Angin"
­ Dari Sihar Untuk Tanaman
image

JAKARTA, suaramerdeka.com - Novelis, penyair cum wartawan seni Sihar Ramses Simatupang menolak untuk berhenti berkreatifitas di tengah kesibukannya sebagai suami, orang tua, dan pencinta bonsai. Buktinya Sihar, demikian ia biasa disapa, merilis buku puisinya berjudul "Semadi Akar Angin" di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jakarta, Rabu (14/5) ini. Buku yang diterbitkan oleh Q-Publisher (2014) itu didedah sastrawan Imam Muhtarom dan pelukis-Ketua Dewan Kesenian Jakarta Irawan Karseno dan dimoderatori oleh jurnalis dan penyair Frans Ekodhanto Purba.

Buku setebal 124 halaman ini, sebagaimana buku lainnya,  juga dibubuhi endorsment--komentar dari penyair dan pengamat lingkungan Eka Budianta, penyair dan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Zeffry Alkatiri dan pengamat bonsai Budi Sulistyo.

Tanaman, memang menjadi diksi yang dominan dipakai oleh Sihar pada bukunya ini. Proses tanaman, menurut dia, tak ubahnya hidup. Tak ubahnya proses perjalanan manusia, bertunas, berakar, tumbuh dan berbuah. Lihatlah pembelaannya ihwal  puisnya berjudul Pohon Berbuah. //tidak, tak pernah pohon lupa berbunga lalu berbuah bila sudah masanya. ranting yang matang, juga kedatangan dan kepergian dedaun, jelas-jelas dia terlalu tua untuk dibohongi oleh musim. juga gerimis yang kerap memperdayainya sebagai pecundang harap dan kesuburan./ tidak, semesta, dia tak lupa karena dia tetap berbunga dan berbuah. jauh sebelum musimmu datang, sejak masih buah, bebijiannya telah dihanyutkan sungai ke pulau ini. di atas batang, atau kayu busuk, mungkin. ditelan burung atau monyet, mungkin. lalu dia bergulir, di atas batang ilalang, atau akar pohonan, betapa sakitnya dia menjelma sebagai tunas dan batang hijau mudanya harus terpukul oleh air dan angin. bukan itu saja, moncong serangga sampai mamalia pernah akan menelannya./

/tidak, tak pernah pohon lupa berbunga lalu berbuah bila sudah waktunya. juga kedatangan dan kepergian musim, jelas-jelas dia sudah tegar dihajar hujan dan kemarau. juga cuaca yang menipunya dalam mimpi dan kengerian./ sekali lagi, tidak, semesta. dia tak abai pada kewajiban tentang sejarah tunas: yang harus mengulang semua kisahnya.//

Puisi bertarikh 2012, itu menagaskan dirinya seakan menjadi satu dengan dunia tumbuhan, yang dijatuhcintainya sejak berbilang tahun lalu.

Di tengah kondisi yang hiruk-pikuk oleh kondisi politik dan sosial, Sihar mengaku dengan sengaja meluncurkan puisi liris dengan tema-tema alam, dari pohon, batu, sungai dan yang lainnya. Baginya, kondisi sekarang adalah fase ketika gemuruh para pelaku kesenian di antaranya sastra telah kalah nyaring dengan suara yang bergaung di publik, dari media cetak, elektronik, internet hingga media sosial.

Di tengah kebanalan dan percepatan yang bagai kilat dari semua media publik dalam mengolah kata, menurut Sihar, hal itu memancing kesadaran kita bahwa ada yang sama penting dalam mengolah kemanusiaan. Spiritualitas, semadi dan doa, adalah kesunyian yang bernas dalam mengolah semua kejadian. Sebagaimana sejarah kebudayaan manusia di antara jagat alam raya yang disaksikan Sang Pencipta lewat cahaya Ilahiah-Nya, flora dan fauna adalah kesaksian dari mitra hidup manusia. Flora dan faunalah saksi sejarah manusia.

Di antara keduanya, pepohonanlah yang berumur tua mengikuti, mengimbangi sekaligus mengiringi proses pranata kebudayaan umat manusia. Pepohonan termasuk beragam jenis ficus seperti pohon bodi, pohon beringin, pohon tin, hingga pohon ara sudah ada sejak kebudayaan manusia ada di muka bumi. Pepohonan kerap hadir di dalam dongeng, epos, folklore hingga legenda-legenda rakyat. Kebudayaan dari benua Asia, Afrika hingga Eropa dan Afrika, tak luput dari kehadiran dunia pepohon dari kaitan mistis, antropologis mau pun dalam ikatan yang ilmiah.

Kediaman pepohonan adalah cara lain dalam menghadapi kehidupan. Diam yang tak pasif, kediaman yang menyerap, membaca dan berkesaksian di dalam perjalanan sejarah dunia yang panjang. Pohon sebenarnya adalah refleksi sejarah yang tak berbeda dengan batu, tanah dan air. Batu, tanah dan air adalah hasil pembusukan, fosil, sedimentasi peradaban dari makhluk-makhluk hidup dan mineral pra-sejarah, sebelum atau sesudah terbentuknya pranata kebudayaan.

Diksi-diksi unsur alam terutama pohon inilah yang kemudian diolah dalam rangkaian pengertian yang berkaitan dengan proses panjang pertumbuhan pohon, sejarah dan ketuaannya. Diksi dari berbagai unsur alam inilah yang menarik untuk digali, terutama bila dihubungkan dengan beragam aktivitas manusia. Agar kita tak melupakan Sang Pencipta, juga agar kita tak melupakan alam; para pendamping manusia di dunia, yang membuat manusia tak lupa bahwa kita adalah bagian dari mereka.

Kita ada di antara mereka, kita seperti mereka, diciptakan oleh-Nya, sehingga merupakan dari bagian dan kelak menjadi mereka.
Dengan demikian, segala ketamakan, ambisi, keserakahan, keangkaramurkaan, kejahatan, dari manusia, seharusnya segera gugur dan tunduk kepada si Empunya Rahasia Hidup.

Pada peluncuran ini, turut membaca puisi teaterawan Fermana Manaloe, teaterawan Gema Sadatana (Bolenk), penyair A Badri AQ T, penyair Jimmy S Johansyah.

(Benny Benke/CN38)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
05 September 2014 | 22:52 wib
Dibaca: 68637
image
05 September 2014 | 22:46 wib
Dibaca: 65331
image
05 September 2014 | 22:43 wib
Dibaca: 64283
image
05 September 2014 | 22:37 wib
Dibaca: 63388
image
05 September 2014 | 22:33 wib
Dibaca: 62447
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER