panel header


GUPAK PULUT ORA MANGAN NANGKANE
Capek Bekerja Tidak Dapat Hasilnya
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
06 Mei 2014 | 21:03 wib
Disebabkan Oleh Mimpi
­

DISEBABKAN oleh mimpi, akhirnya ia berada pada kondisi semacam ini: duduk sendirian di bawah pohon trembesi besar di sebuah taman kota yang terletak di tengah kota yang baru pertama kali ini ia kunjungi dengan pikiran tak karu-karuan dan tak tahu apa yang mesti dilakukannya setelah ini. Seandainya ia menuruti apa yang dikatakan ibunya, ia pasti tidak akan terjebak dalam situasi yang begitu tidak menyenangkan ini.
 
"Mimpi itu sekadar kembang tidur. Dan kau tak harus menuruti apa-apa yang kaulihat dalam mimpi," demikian ibunya berkata ketika ia menyampaikan niatnya untuk pergi ke kota ini, kota yang dilihatnya dalam mimpi.
 
"Tapi ini lain ibu,” ia membantah. Lalu mencoba meyakinkan ibunya, "tiga hari berturut-turut aku memimpikan hal yang sama. Dan kota yang aku lihat dalam mimpi itu, yang dengan jelas kusaksikan nama kota itu tertempel di gapura perbatasan kota itu, adalah kota yang tak pernah kulihat sebelumnya. Apalagi kukunjungi. Kalau misalnya yang aku impikan itu adalah kota yang pernah kukunjungi, aku bisa sepakat dengan ibu. Namun kota ini belum pernah kulihat langsung. Dari situlah aku yakin bahwa mimpiku bukan mimpi yang biasa, bahwa mimpi itu adalah semacam sasmita bahwa aku mesti mendatangi kota itu."
 
Ibunya menghela napas besar. Lalu berkata dengan harapan bisa membujuknya untuk membatalkan niatnya, "apa kau tega membiarkan ibu sendirian di sini?'
 
Ah, tentu saja sebenarnya ia tidak tega. Selama ini, semenjak ayahnya pergi tanpa pamit ketika ia masih berusia lima tahun, ibunya hidup berdua saja dengannya. Sampai usianya menginjak limabelas tahun, ia tidak mengerti kenapa ibunya tidak menikah dengan lelaki lain sekali pun beberapa lelaki dengan terang-terangan menyatakan minatnya untuk menikahi ibunya. Sungguh, ibunya memang perempuan yang cantik. Dan ia juga tidak mengerti apa alasan ayahnya bisa begitu bodoh meninggalkan perempuan secantik ibunya.
 
Namun ketika tiba masa pubernya, dan ia mulai sering menceritakan gadis kawan sekolahnya ke ibunya, ibunya berkata, "kau sedang jatuh cinta, nak. Dan cinta itu sesuatu yang rumit. Cinta itulah yang membuat ibu menolak lelaki-lelaki lain yang mencoba melamar ibu. Ibu masih cinta dengan ayahmu meski dia tidak pernah pulang. Lagipula, ayahmu belum menceraikan ibu. Dan ibu tidak tahu apakah ayahmu itu masih hidup atau tidak. Tapi sesuatu dalam diri ibu selalu meyakinkan ibu bahwa ayahmu belumlah mati. Karena itu status ibu masih sah istri seseorang. Dan bagaimana seorang perempuan yang masih menjadi istri sah dari seorang lelaki menikah dengan lelaki lain?"
 
Kisah cinta pertamanya berujung tidak baik. Gadis kawan sekolahnya yang kerap ia ceritakan ke ibunya itu lebih memilih berpacaran dengan ketua kelasnya daripada dengan dia. Dan ketika ia mengeluhkan kegundahan hatinya kepada ibunya, ibunya kembali berkata, "seringkali cinta itu memang menyakitkan. Itulah sebabnya orang-orang menciptakan istilah jatuh cinta. Sebab jatuh itu sakit. Dan karenanya, ketika kau jatuh cinta, kau juga mesti menyiapkan dirimu untuk menghadapi rasa sakit."
 
Waktu itu, ia lihat mata ibunya berubah menjadi telaga yang telah penuh. Kedung telaga itu tidak cukup menampung air. Dan sepertinya, bila ibunya tidak buru-buru pergi ke kamar, ia akan melihat bagaimana telaga itu meluberkan airnya. Dan ia tiba-tiba terkenang ayahnya. Ya, pasti ibunya juga merasa sakit ditinggal ayahnya. Ia tidak memiliki cukup ingatan untuk menggambarkan sifat atau kebiasaan ayahnya. Hanya selembar foto ayahnya yang dipigura ibunya di ruang tamu rumah mereka yang membantunya mengerti wajah ayahnya.
 
Ayahnya orang yang tampan dan gagah. Dan ketampanan serta kegagahan itu menurun kepadanya. Karena ia merasa cukup tampan dan gagah, ia semakin tidak mengerti kenapa gadis kawan sekolahnya itu menolaknya. "Barangkali cinta memang bukan hanya persoalan fisik semata," ia mencoba bijak menyimpulkan.
 
Kejadian itu sudah bertahun-tahun yang lampau. Limabelas tahun yang lampau. Ia kini telah berumur tigapuluh tahun dan belum menikah. Ibunya sudah berulang berkata ingin segera menggendong cucu. Namun sialnya, semua kisah cintanya berujung kemurungan. Ada saja sebab hubungan percintaannya berakhir. Seorang kawan baiknya bahkan pernah berkata kepadanya, "barangkali kau kena kutukan cinta murung. Kau mesti ruwat supaya bisa dapat jodoh." Temannya yang lain tak mau kalah, "jangan-jangan jodohmu itu salah satu korban bom Bali atau gelombang tsunami di Aceh." Ia tahu kawan-kawannya itu semata mengolok-oloknya. Dan ia tidak sakit hati karenanya.
 
"Apa kau tega meninggalkan ibu sendirian?" ibunya berkata lebih keras dan ucapan yang diulang ibunya itu segera membuyarkan gambaran masa lalunya.
 
"Ibu, aku tidak pergi lama. Seminggu. Dan kemudian aku akan segera kembali. Aku tidak tega meninggalkan ibu. Namun bukankah ini demi kebaikan kita semua? Aku akan menemukan perempuan yang menjadi jodohku di sana, dan ibu akan segera bisa menimang cucu," dia tak menyerah berusaha meyakinkan ibunya.
 
Ya, dalam mimpi yang tiga hari berturut-turut mendatangi tidurnya, ia berada di sebuah kota (yang nama kotanya tertulis dengan jelas di gapura masuknya) dan bertemu dengan seorang perempuan yang cantik, perempuan yang umurnya kira-kira duapuluh empat tahun, perempuan yang memandangnya dengan pandangan yang seakan-akan bisa menikam jantung hatinya, perempuan yang entah bagaimana, membuatnya jatuh cinta dan hidupnya seakan-akan tak akan berjalan bila tidak bersama perempuan itu.
 
"Aku seperti sudah mengenal perempuan itu, ibu. Padahal aku hanya melihatnya dalam mimpi. Barangkali, di kehidupan yang lampau, dan di kehidupan sebelumnya lagi dan seterusnya, perempuan itu adalah jodohku. Sungguh, aku serius ibu," ia kembali mencoba meyakinkan ibunya.
 
"Bagaimana kau bisa percaya dengan hal-hal semacam itu? Kau memang pernah hidup di sebuah dunia sebelum kehidupanmu yang sekarang, tapi dunia itu adalah rahimku. Dan tak ada seorang perempuan yang menemanimu dalam rahimku. Lagipula, kau orang berpendidikan. Susah payah aku menyekolahkanmu hingga perguruan tinggi, dan kau kini malah masih percaya dengan hal-hal tidak masuk akal seperti mimpimu itu."
 
Tapi sekeras apa pun upaya ibunya menahannya agar tidak pergi, toh ia tetap pergi juga. Dan ibunya tidak bisa lagi berbuat apa-apa selain melambaikan tangan dengan mata bengap berair ketika keesokan harinya pagi-pagi sekali ia berangkat.
 
Ia sampai di kota yang ia lihat dalam mimpinya setelah bis yang ia tumpangi menempuh jarak seratuslimapuluh kilometer. Gapura dan tulisan nama kota yang tertempel di gapura itu persis benar dengan apa yang ia lihat dalam mimpinya. Dan ia bersorak, "mimpi itu memang benar-benar sasmita."
 
Seperti dalam mimpinya, setelah sampai di terminal, ia naik bis kota menuju sebuah taman kota yang tata letaknya berikut pengunjungnya sama persis dengan yang ia lihat dalam mimpinya. Dan ia perlu beberapa menit mengucek-ucek matanya ketika ekor matanya menangkap sosok perempuan dengan rambut sepunggung dan wajah cantik sempurna seperti dalam mimpinya di taman itu.
 
Perempuan itu, bila dilihat sekilas, sesungguhnya memiliki kemiripan dengan dirinya. Dan tiba-tiba ia ingat ucapan seorang kawannya bahwa orang yang berjodoh itu biasanya memiliki kemiripan. "Ini benar-benar kenyataan yang membahagiakan," ia bergumam sebelum kemudian memberanikan diri mendekati perempuan yang sendirian saja jalan-jalan di taman kota itu.
 
Semua terjadi dengan begitu mudah. Perempuan itu perempuan yang ramah. Dan tiba-tiba saja, mereka telah terlibat pembicaraan yang akrab seperti dua orang yang telah kenal begitu lama. Lalu ketika gelap sempurna mengurung kota, ia menawarkan untuk mengantarkan perempuan itu pulang. "Pasti menyenangkan bila aku bisa mengetahui rumahmu dan syukur-syukur bisa berbicara dengan ayahmu."
 
Perempuan itu tersenyum. Lalu mengangguk. Dan ia yakin bahwa perempuan itu juga telah jatuh cinta kepadanya. Cinta yang sama besar dengan apa yang ia rasakan.
 
Semua peristiwa itu terjadi persis dengan mimpinya. Begitu juga ketika mereka sampai di halaman rumah perempuan itu. Rumah itu persis benar dengan rumah dalam mimpinya. Tapi mimpinya selalu berakhir sampai pada bagian ini. Dan ia tidak bisa menerka-nerka apa yang kemudian terjadi.
 
Dan inilah yang terjadi. Segala bayangan indah yang telah terbangun sebelumnya, semua harapan yang tumbuh sebelumnya, buyar begitu saja ketika seorang lelaki yang oleh si perempuan dikenalkan sebagai ayah si perempuan keluar dari rumah itu. Lelaki itu sekali pun sudah tua (kira-kira lima tahun lebih tua dari ibunya) namun sisa-sisa ketampanan dan kegagahan di masa mudanya masih tergambar begitu jelas. Dan ia merasa tidak asing dengan lelaki itu. Atau tepatnya, ia merasa pernah melihat lelaki itu, gambar masa muda lelaki itu.
 
Raut lelaki itu juga segera berubah begitu melihatnya. Barangkali lelaki itu juga mengalami apa yang ia alami: merasa pernah melihatnya dulu sekali. Dan ketika ia menyebutkan nama serta kota asalnya, paras lelaki itu menjadi begitu pucat. Si lelaki menyebutkan sebuah nama. Dan benar-benar buyarlah harapannya bisa menikah dengan perempuan itu. Nama ibunyalah yang disebutkan lelaki itu.
 
Tiba-tiba, ia ingat di mana pernah melihat lelaki itu: di foto yang dipigura dan digantung ibunya di ruang tamu rumahnya.
 
Ia merasa begitu lemas. Seluruh otot-otot dan tulang-tulang dalam tubuhnya seakan dilolosi paksa. Si perempuan bengong dengan perubahan ekspresi wajahnya dan wajah lelaki tua itu. Ia segera pamitan. Si perempuan basa basi menawarkan minuman terlebih dahulu, sedang si lelaki tua hanya diam.
 
"Kapan kau ke sini lagi? Kau belum ketemu ibuku, bukan? Beliau sedang tidak enak badan dan karenanya tidak bisa ikut menemuimu tadi," si perempuan berkata. "Entahlah," ia menjawab pendek. Lalu meninggalkan rumah itu tanpa menoleh lagi.
 
Ia kembali ke taman kota. Dan beginilah keadaannya sekarang: duduk sendirian di bawah pohon trembesi besar di sebuah taman kota yang terletak di tengah kota yang baru pertama kali ini ia kunjungi dengan pikiran tak karu-karuan dan tak tahu apa yang mesti dilakukannya setelah ini.
 
Lalu ia terkenang ibunya.

 

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto.

(Dadang Ari Murtono/CN38)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
05 September 2014 | 22:52 wib
Dibaca: 70490
image
05 September 2014 | 22:46 wib
Dibaca: 66971
image
05 September 2014 | 22:43 wib
Dibaca: 65911
image
05 September 2014 | 22:37 wib
Dibaca: 64864
image
05 September 2014 | 22:33 wib
Dibaca: 63803
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER