panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
06 Mei 2014 | 20:54 wib
Sejarah Neraka
­
image

SEBELUM pertengahan abad 14 Masehi atau akhir abad 13 Saka, sebuah peradaban berkembang baik di sebuah kota kecil yang terletak di salah satu sudut pulau Jawa bagian timur. Kota itu, sampai detik ini, memang selalu luput dari sejarah. Atau memang sengaja diluputkan. Entahlah. Hanya segelintir peneliti saja yang mengetahui bahwa kota itu memang pernah benar-benar ada. Dan juga entah karena apa, hasil penelitan dari para peneliti tersebut juga tidak pernah terpublikasikan. Padahal ada banyak hal menarik dan mengejutkan dari kota itu. Bagi saya, yang paling menarik dari peradaban kota itu adalah sampai menjelang akhir riwayat kota tersebut, penduduknya tidak mengenal adanya neraka sekali pun mereka meyakini ada kehidupan lain setelah mati.
 
Kehidupan setelah mati, dalam kepercayaan mereka, adalah kehidupan yang menyenangkan. Bahkan jauh lebih menyenangkan daripada kehidupan di dunia fana. Mereka percaya, setelah mati, mereka akan pergi ke sebuah tempat yang sedemikian indah, sebegitu indah hingga tidak ada lagi tempat yang lebih indah dari tempat itu. Semua yang mereka inginkan, akan dengan tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Buah-buahan paling lezat, minuman-minuman paling nikmat, makanan-makanan paling enak, rumah-rumah megah, dan segala yang di dunia hanya bisa dibayangkan, di sana tersedia. Kami–saya dan beberapa peneliti–mendapatkan informasi tersebut setelah menghabiskan beberapa tahun mempelajari relief-relief di puing-puing rumah mereka yang terbuat dari batu padas dan telah terkubur selama beratus-ratus tahun.
 
Sungguh, seandainya saya hidup pada jaman itu, hidup di kota tersebut, tidak ada hal lain yang saya ingini selain agar waktu kematian saya dipercepat. Kematian, yang bagi masyarakat di peradaban lain digambarkan mengerikan dan menyajikan sebuah peristiwa murung, peristiwa yang dipenuhi ratapan dan airmata, di kota tersebut berubah menjadi peristiwa yang mesti dirayakan dengan kegembiraan, disambut dengan tari-tarian dan nyanyi-nyanyian serta makan besar.
 
Di kota itu, gambaran masyarakat ideal benar-benar terwujud. Seseorang bisa meletakkan hasil kebunnya di halaman rumah dan tak perlu menjaga hasil kebun tersebut. Tidak bakal ada orang yang mencuri hasil kebun itu. Begitu pula dengan hewan ternak mereka. Dengan tanpa was-was, mereka membiarkan hewan ternak mereka berkeliaraan tanpa kandang. Tidak bakal ada yang mengambilnya. Penduduk kota tersebut berpikir bahwa setelah mati, mereka tidak akan membawa harta benda, malah ada kenikmatan lain yang lebh besar menanti mereka di kehidupan setelah mati tersebut.
 
Selama beratus-ratus tahun, peradaban itu berkembang dan semakin berkembang. Ketika dunia di luar kota mereka terlibat secara tak henti-henti dengan perang dan perebutan kekuasaan, seperti upaya-upaya yang dilakukan Ken Arok dalam membangun Singosari, mereka tetap hidup dalam damai. Kota ini seakan terpelihara dari ribut-ribut dunia luar. Namun sesungguhnya, pada bagian inilah kami belum mendapatkan jawaban kenapa Ken Arok tidak meluaskan wilayah kerajaannya sampai ke kota ini.
 
Beberapa kawan peneliti mengira karena kota ini terletak jauh dari pusat kerajaan Singosari dan letaknya cukup terpencil. Namun dugaan itu, di kelak kemudian hari terpatahkan. Dan penyebab patahnya perkiraan itu adalah ketika Tribuwana Tunggadewi, ratu dari kerajaan Majapahit, berencana meluasakan wilayah Majapahit hingga meliputi seantero nusantara. Pada waktu itu, mahapatih Gajah Mada yang tersohor mengucapkan sumpah palapa.
 
Memang, pada masa Tribhuwana Tunggadewi, perluasan wilayah itu belum sampai kota tersebut. Baru pada masa Hayam Wuruk, raja terbesar dan teragung dari Majapahit, perluasan wilayah sampai ke kota tersebut.
 
Pada suatu hari, beberapa orang dari salah satu kota yang ditakhlukkan Gajah Mada, dengan masing-masing tubuh penuh luka, sampai ke kota itu. Serombongan orang-orang itu tengah dalam upaya melarikan diri dari kejaran pasukan Majapahit. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah kota tersebut, mereka menyaksikan tubuh-tubuh yang begitu kesakitan, tubuh-tubuh yang begitu menderita. Dan ketika pada akhirnya, karena luka-luka yang terlalu parah, beberapa orang dari rombongan tersebut meninggal, maka penduduk kota itu untuk pertama kalinya menyaksikan kematian yang mengerikan, cara mati yang membuat mereka tidak bisa tidur.
 
Selama ini, orang yang meninggal di kota itu selalu terlihat bahagia, tidak ada kesakitan yang tercermin dalam ekspresi wajah si mati, dan mesti ada sesungging senyum di bibir si mati. Melihat cara kematian beberapa pelarian itu, banyak penduduk kota tersebut yang mulai bertanya-tanya, kenapa ada cara mati yang mengerikan padahal ada kehidupan yang menyenangkan di negeri orang mati.
 
Sisa-sisa para pelarian yang masih  selamat itu berusaha meyakinkan penduduk kota tersebut bahwa di luar sana, para malaikat kematian sedang bergerak dan menghabisi siapa-siapa yang menolak menyerahkan kotanya, atau kerajaannya. Mereka kisahkan juga betapa menderitanya orang-orang terjajah. Betapa lebih baik mati dengan tubuh penuh luka, dengan kesakitan yang seakan tak tertanggung daripada menjadi orang jajahan, orang yang kemerdekaannya direnggut paksa. Para penjajah, di mana pun, selalu membawa penderitaan. Para perempuan akan diperkosa, para lelaki akan dipaksa menjadi budak, rumah-rumah dibakar, segala hasil panen akan dirampas, dan hilanglah segala ketentraman, lenyaplah segala kebahagiaan.
 
Cerita-cerita itulah, kami kira, yang menjadikan penduduk kota tersebut resah.
 
Lalu di relief-relief yang dibuat menjelang tamatnya riwayat kota tersebut, saya dan para peneliti lainnya melihat citraan yang berbeda jauh dengan citraan-citraan dalam relief yang dibuat jauh-jauh hari sebelumnya. Bila dalam relief yang dibuat lebih dahulu, hanya ada gambaran-gambaran menyenangkan mengenai kehidupan setelah kematian, pada relief-relief akhir, kami menemukan citraan-citraan yang mengerikan. Orang-orang yang disiksa, orang-orang yang menangis, orang-orang yang tubuhnya penuh luka-luka, dan ekspresi yang melulu kesakitan.
 
Awalnya kami mengira kalau relief itu menggambarkan keadaan para pelarian tersebut.  Namun dengan penelitian yang intens, kami mendapati fakta baru bahwa orang-orang menderita yang tergambar dalam relief-relief akhir itu adalah orang-orang dengan segala ciri-ciri penduduk kota tersebut, mulai dari pakaian hingga gaya rambut mereka.
 
Lalu hal yang mengejutkan kami bertambah seiring bertambahnya hasil penelitian kami. Ternyata, relief-relief akhir itu juga menggambarkan kehidupan orang-orang setelah mati. Sebuah relief dengan sangat jelas menggambarkannya. Di bagian bawah, digambarkan orang-orang yang berperang dengan sosok-sosok mengerikan, malaikat kematian, yang kami yakin adalah gambaran mereka tentang prajurit-prajurit Majapahit, di atasnya, beberapa orang dengan ciri-ciri penduduk kota itu melarikan diri dan bersembunyi dari kekejaman prajurit Majapahit. Orang-orang yang berlari dan bersembunyi itulah yang kemudian mengalami siksaan di kehidupan setelah mati, sedang orang yang ikut berperang melawan para malaikat kematian digambarkan berada di bagian paling atas relief, digambarkan berada di dunia menyenangkan setelah mati.
 
"Untuk pertama kalinya, peradaban besar ini mengenal neraka," demikian kesimpulan saya dan para peneliti lainnya.
 
Dan kami seperti disadarkan, bahwa neraka itu diciptakan untuk menakut-nakuti orang-orang yang takut membela kota mereka dari serangan prajurit Majapahit.
 
Itu adalah relief terakhir yang kami temukan di puing-puing kota yang telah terkubur lama tersebut. Yang masih menjadi pertanyaan bagi kami, apakah memang benar prajurit Majapahit yang mengakhiri riwayat kota tersebut dan menguburnya dalam tanah, ataukah ada penyebab lain yang membuat kota tersebut terpendam setelah kedatangan prajurit Majapahit. Yang jelas, kemudian, orang-orang lebih tertarik menceritakan kejayaan Majapahit dan meluputkan tragedi-tragedi dalam upaya membangun kejayaan tersebut.
 
Ya, begitulah.


Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto.

(Dadang Ari Murtono/CN38)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
05 September 2014 | 22:52 wib
Dibaca: 69732
image
05 September 2014 | 22:46 wib
Dibaca: 66296
image
05 September 2014 | 22:43 wib
Dibaca: 65220
image
05 September 2014 | 22:37 wib
Dibaca: 64287
image
05 September 2014 | 22:33 wib
Dibaca: 63250
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER